|
|
Protein
dalam Darah , 'Misteri' Penyebab Autisme?
Sebuah penelitian terbaru, menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi
protein pada saat kelahiran di dalam darah, berkaitan dengan risiko
autisme dan kelambanan mental yang bersangkutan, di usia kanak-kanak.
Identifikasi tanda biologi di usia awal dan sebelum gejalanya muncul
itu, akan banyak membantu proses diagnosa. Sehingga terapi yang
diberikan pun akan lebih efektif.
Penelitian dilakukan atas kolaborasi para peneliti dari National
Institute of Neurological Disorders and Stroke (NIH), the March of
Dimes/California Birth Defects Monitoring Program, dan para ahli dari
the MIND Institute at the University of California. Hasil penelitian
akan diterbitkan dalam jurnal the Annals of Neurology, Mei 2001.
Para peneliti menguji dan membandingkan arsip contoh darah dari yang
bersangkutan sebelum lahir. Partisipan Data diambil dari anak-anak yang
lahir di empat daerah di California Utara sejak 1983 sampai 1985. Mereka
tersebut menderita autisme, kelambanan mental, dan sejenisnya.
Hasil penelitian ini jelas menjanjikan. Pasalnya Departemen Kesehatan
California, sejak beberapa tahun lalu telah bersikap untuk menyimpan
spesimen yang dihasilkan dari the newborn screening program, ujar salah
seorang peneliti, Judith K. Grether, Ph.D., dari California Department
of Health Services.
Spesimen darah yang baru lahir tersebut sangat sulit ditelusuri, karena
itu arsip yang dimiliki depkes California itu jelas akan sangat membantu
dalam penelitian tersebut .
diagnosis awal tentukan terap yang tepat
Protein yang dimaksud biasa disebut neural growth factors, sangat
penting dalam membentuk sistem saraf pusat selama perkembangan embrio.
Penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa faktor pertumbuhan memainkan
peran penting dalam memproduksi sel otak yang baru, serta mengatur
sel-sel tersebut sesuai fungsinya masing-masing.
Para peneliti menduga bahwa jumlah protein yang berlebihan ini bisa
merusak proses migrasi sel yang normal, proses diferensiasi, dan
lain-lain. Penelitian yang dilakukan terhadap hewan menunjukan bahwa
'kasus protein' tersebut juga bisa menyebabkan microcephaly dan masalah
gangguan mental lainnya.
Para peneliti berspekulasi bahwa kegagalan dalam pengaturan kerja otak
adalah faktor yang mempengaruhi perkembangan otak di awal kehidupan.
Kondisi inilah biasanya yang menimbulkan autisme dan proses kelambanan
perkembangan mental lainnya. Sampai saat ini, kerusakan tersebut, secara
klinis tidak bisa didiagnosa sampai usia kanak-kanak.
Karenanya, hasil penelitian ini bisa berguna untuk mengidentifikasi
tanda molekular yang bisa didiagnosa ketika janin mulai tumbuh, sehingga
para dokter kelak sudah siap dengan terapi yang dibutuhkan saat si bayi
lahir.
Para peneliti merencanakan melakukan penelitian lanjutan untuk
mengetahui mekanisme genetik dan biologis yang berkaitan erat dengan
autisme dan gangguan perkembangan lainnya.
kadar protein saat jani menentukan kondisi mental di usia kanak-kanak
Autisme, adalah kondisi gangguan perkembangan mental, dan terjadi pada
10 sampai 20 orang per 10 ribu orang. Dan angka kejadiannya empat kali
lebih besar pada pria dibanding wanita.
Gejala autisme biasanya muncul pada anak-anak berusia dua tahun. Ada
beberapa gejala klasik yang sering muncul. Mulai dari lemahnya interaksi
sosial, bermasalah dengan komunikasi verbal maupun nonverbal, dan
akitivitas dan ketertarikannya pada sesuatu sangat terbatas.
Respons penderita autisme juga abnormal terhadap sensor panca indera,
seperti sentuhan, suara, dan penglihatan. Penelitian yang sama
memperkirakan bahwa autisme memiliki komponen genetik yang kuat.
(Oleh Susandijani)
****
|