Tim
KAHMI JAYA
" Indonesia di simpang Jalan "
JUDUL BUKU��� : INDONESIA DISIMPANG JALAN
EDITOR������������ : TIM KAHMI
JAYA
PENERBIT������� : MIZAN, BANDUNG/MEI 1998
TEBAL������������� : 322
Halaman
REFORMASI MENJELANG MILENIUM KETIGA
Lebih sepuluh bulan negeri kita diguncang 'krisis moneter' yang akhirnya sampai pada titik
'krisis kepercayaan' terhadap pemerintah Suharto. Setelah dihantam gelombang reformasi
yang dimotori insan intelektual (mahasiswa) sehingga menduduki gedung MPR/DPR -meskipun
diwarnai sedikit sikap anarkhis segelintir pihak- Kamis (21/5) pak Harto lengser keprabon.
Lengser keprabonnya pak Harto menjadi bukti nyata ungkapan seorang negarawan dari
Singapura 'few human beings could be completely happy if they only work for their own
interest and those of their families' bahkan mereka mementingkan kepentingan diri sendiri
dan keluarganya akan berakhir dengan sebuah kegagalan (hal.19).
Dalam buku ini, "reformasi atau status quo" yang ditawarkan Amien Rais dengan
jelas dijawab A. Dahlan Ranuwihardjo, "harus direformasi", ditegaskan tugas
gerakan reformasi adalah untuk mengembalikan sistem yang tidak sesuai dengan Pancasila dan
UUD 1945, untuk kembali menyesuaikan diri dengan keduanya.
Bagian pertama buku yang dibagi tiga bagian, selain mengangkat kajian Amien Rais dan
Dahlan Ranuwihardjo terdapat pula M. Amien Zein yang mengajukan delapan langkah reformasi
di bidang : ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dijelaskan pula reformasi
merupakan tuntutanrakyat, yang disebabkan oleh adanya globalisasi (faktor eksternal) dan
political efficacy (faktor internal).
Reformasi yang dikehendaki oleh buku ini yakni reformasi paripurna di bidang politik,
ekonomi, dan kebudayaan yang secara damai dan konstitusional melaui jalan evolusi.
Reformasi di sini, tetap harus dalam kerangka sistem nasional yaitu menjaga persaturan
bangsa berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
Buku kumpulan tulisan alumni HMI ini, bagian keduanya berisi analisis berkaitan sosial
budaya. Disebutkan pula istilah "Demokrastisasi dan Reformasi" yang populer
sejak akhir tahun 1997 menunjukan adanya keresahan tentang pola pembangunan yang relatif
gagal membangun keadilan sosial.
Di bagian ini dikatakan ummat Islam menghadapi kenyataan baru yang memerlukan strategi
baru pula. Marjinalisasi sudah selesai, karantina politik tidak ada lagi, Islam Phobia
sudah mundur dari pentas. Kenyataan baru tersebut ialah semakin kentalnya keterlibatan
ummat dalam urusan kebangsaan dan kenegaraan.
Karena itu sumbangan Islam akan sangat menentukan wujud civil society (Masyarakat Madani)
yang akan dibentuk bersama seluruh bangsa. Karenanya perlu ada perubahan dalam memandang
kenyataan-kenyataan yang mungkin terjadi.
Pertama digantikannya conspiration theory ( teori persekongkolan ) dengan faktual
analisis. Analisis faktual di sini ialah hasil pengamatan rasional atas bukti-bukti, bukan
berdasarkan emosi kecurigaan semata. (hal.190-191). Menghadapi milenium ketiga, kita harus
menengok "ahlak bangsa" seperti; Demokratisasi, Tertib hukum, Transparansi,
Ekonomi untuk rakyat, Pergantian kepemimpinan nasional, dan perubahan " kesalehan
formal" menjadi " Kesalehan Maknawi ". Selain itu, dituntut pula adanya
nilai-nilai Islam yang di budayakan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat ( Moralitas
Islam ).
Bagian ahir buku mengisyaratkan adanya keterkaitan konsep, strategi, dan kebijakan politik
dalam bidang ekonomi. Secara empiris, situasi krisis yang dialami bangsa Indonesia dipicu
oleh sebab-akibat antar bidang. Krisis ekonomi dan moneter yang dihadapi oleh bangsa
indonesia saat ini disebabkan lemahnya fundamental ekonomi kita dan kebijakan pengikatan
nilai tukar mata uang negara-negara Asia Tenggara yang terlalu kuat pada dollar Amerika.
Selain itu, sistem yang ada telah mendorong perilaku konsumtif yang digambarkan sebagai
perekonomian yang lebih besar pasak dari pada tiang. Kondisi demikian menuntut agenda
reformasi ekonomi yang perlu dilaksanakan bukan hanya dalam konteks krisis ekonomi,
melainkan juga kaitannya dengan agenda reformasi jangka panjang.
Adapun variabel reformasi ekonomi dan prasyarat terlaksananya program reformasi ini.
Pertama, adanya penegakan hukum yang tegas dan konsisten. Kedua, adanya kebebasan
masyarakat untuk melakukan kontrol atas kebijakan dan pelaksanaan kebijakan ekonomi, serta
adanya kewajiban pemerintah untuk memberikan respon atas kontrol yang diberikan
masyarakat. Dengan terpenuhinya kedua prasyarat tersebut, niscaya reformasi ekonomi kita
bisa mencapai sasaran jangka panjang, yakni Masyarakat Adil dan Makmur. (hal.232)
Buku ini dikeluarkan dengan agar terjadi semacam perbaikan, baik perbaikan metoda
beraktifitas maupun penyegaran gagasan, di tengah yang terus berubah dan berkembang.
Gagasan segar dan mencerahkan yang ada di buku ini diharapkan bisa memperkaya cakrawala
pembaca dalam mengikuti perkembangan yang terjadi.
Dalam buku ini ditegaskan meningkatnya tuntutan reformasi menyeluruh ini sebagai akibat
susulan dari krisis moneter dan ekonomi-akibat lemahnya fundamental ekonomi yang
diperparah praktek KKN-yaitu adanya kenaikan harga BBM, SEMBAKO, serta peningkatan angka
PHK dan pengangguran.
Buku ini isinya bisa lebih dicerna, karena setiap bagian diberi pengantar yang menuntun
pembaca pada bahasan-bahasan yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Selain aktual
dan tepat sasaran, buku "Indonesia di Di Simpang Jalan " ini akan membuka 'mata'
pembaca sehingga kesimpang siuran "mahluk" yang bernama reformasi tetap tidak
akan memecah persatuan bangsa. Pembaca akan semakin jelas bagaimana dan apa yang akan
dilakukan dalam mendorong "Kereta Reformasi" (istilah Amin Rais) itu.
Dengan demikian buku ini sangat penting untuk dimiliki semua kalangan, tak hanya pemikir,
politisi, atau mahasiswa, tetapi juga masyarakat umumnya, agar semakin faham arah gerakan
reformasi yang sesungguhnya.******* (Syafa'at RS)
Yasraf
Amir Piliang
" Sebuah Dunia Yang Dilipat "
Judul : Sebuah Dunia Yang di Lipat
Realitas Kebudayaaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme
Penulis : Yasraf Amir Piliang
Penerbit : Mizan, Bandung. 1998 ( Cet I )
Tebal : 378 Halaman, termasuk indeks
Menjelang tibanya milenium ketiga, fenomena-fenomena menarik sebagai sebuah realitas baru
tumbuh subur. Ini terjadi karena ditopang dan didorong oleh teknologi Informasi.
Yasraf Amir Piliang, penulis buku ini mencoba menjelaskan berbagai realitas kehidupan
kontemporer di penghujung milenium kedua. Buku ini pada intinya melukiskan baik secara
ekspresif maupun impresif fragmen-fragmen dunia yang bisa dilipat yang terasa mengalami
perubahan budaya secara cepat, dramatis dan sangat dipengaruhi oleh proses pengglobalan
keadaan yang menyangkut hampir seluruh bidang kehidupan.
Pada bab satu yang berjudul "prangkap-prangkap ekstasi. Yasraf menjelaskan
terperangkapnya berbagai sisi kehidupan ke dalam perangkap-perangkap ekstasi : ekstasi
ekonomi, ekstasi komoditi, ekstasi komunikasi, ekstasi konsumerisme, ekstasi gaya hidup,
ekstasi televisi, ekstasi seksual, ekstasi internet, dan ekstasi ecstasy. Juga ditegaskan
dalam bagian ini Yasraf mengajak kita untuk berkontemplasi agar terlepas dari
perangkap-perangkap tadi. Ini bisa terjadi jika manusia kontemporer dikembalikan pada
dunia kedalaman spiritual, kehalusan nurani, dan ketajaman hati di tengah- tengah - tengah
belantara citraan, bujuk rayu dan kepalsuan masyarakat konsumen dewasa ini.
Pada bab kedua dibahas tentang berbagai realitas-realitas parodi. Dan menampikan berbagai
bentuk wacana parodi di dalam masyarakat dan kebudayaan kontemporer. Misalnya : parodi
seni, parodi politik, parodi sosial, parodi ekonomi, parodi seksual.
Disini, manusia memparodi dirinya sendiri, karena mereka kehilangan kepercayaan terhadap
diri. Ketimbang percaya kepada image atau wilayahnya sendiri. Manusia lebih percaya pada
apa yang disebut di dalam ilmu psikoanalisis sebagai image cermin9 mirror image ) dari
dirinya sendiri.
Pada bagian terakhir diterangkan mengenai jejak-jejak milenium yang mengungkapkan secara
ironis bagaimana masyarakat kontemporer kita yang tengah memasuki milenium ketiga
terkurung di dalam realitas semu yang menguasai realitas kehidupan. Berbagai realitas baru
yang maya mengurung masyarakat kontemporer dari setiap arah : hiperealitas, realitas
virtual, ekonomi virtual, politik virtual, media virtual.
Satu hal yang menarik dari buku ini adalah ketika Yasraf menjelaskan istilah ekstasi yang
digunakan secara latewral ketika disana-sini digambarkan anak-anak muda yang hanyut
didalam pengaruh pil ectasy. Akan tetapi, istilah ekstasi juga digunakan secara metapora
ketika berbagai hal pada bagian satu berbicara ekstasi ekonomi, ekstasi komunikasi, atau
ekstasi media. Buku yang sangat menarik ini memiliki keunikan tersendiri karena mengungkap
secara komprehenship realitas kebudayaaan menjelang milenium ketiga dan matinya
posmodernisme dan sangat cocok untuk segala kalangan yang menginginkan mengerti hakikat
kehidupan dan realitas budaya sehingga tidak terjebak "kesemuan "( Zeks M )
Dedi Djamaluddin Malik
" Gejolak Reformasi Menolak Anarki "
Judul : Gejolak Reformasi Menolak
Anarki
Editor : Dedy Djamaluddin Malik
Penerbit : Zaman Wacana Mulia, Bandung 1998 ( Cet I )
Tebal : 334 Halaman, termasuk indeks
Buku seputar kontroversi aksi mahasiswa dalam menuntuut reformasi politik ini adalah
merupakan kompulan dari hasil wawancara dan opini para intelektual di media masa. Buku ini
terdiri dari empat bagian yang membahas secara kritis gejolak mahasiswa selama 1998.
Dalam bagian pertama yang berjudul "Sura angkatan 1998 : Antara Gerakan Moral dan
Politik Praktis" membahas seputar pro dan kontra gerakan-gerakan aksi
mahasiswa.Ichlasul Amal dalam bagian ini menegaskan bahwa tidak ada gerakan massa yang
tidak ditunggangi. Ia menjelaskan bahwa aspirasi luar yang diserap itulah
tunggangannya.Sementara Selo sumarjan menyikapi seputar politik akademis dan praktis.
Menurutnya politik praktis dilakukan di dalam masyarakat dan lembaga-lembaga politik di
luar kampus PT, sedangkan politik akademis dilakukan oleh para ilmuan senior dan junior di
PT. Dalam bagian ini selain menampilkan dua tokoh diatas juga menampilkan Sarlito W.
Sarwono yang berbicara seputar perbandingan gerakan aksi mahasiswa 98 yang disebut
angkatan 98 dan angkatan 96.Juga Arbi Sanit yang berbicara seputar Politik Mahasiswa.
Novel Ali dalam bagian ini menjelaskan tentang Tapsir Demonstrasi.
Bagian kedua yang berjudul " Tawaran Dialog : Antara Depolitisasi dan Kesenjangan
Komunikasi. Pada bagian ini Susilo Bambang Yudoyono mengkritisi seputar Urgensi Dialog
dengan Presiden, sedangkan Anas Urbainingrum dalam bagian ini menegaskan bahwa dialog
dengan presiden adalah sesuatu yang sangat penting, sebab hal tersebut akan memberikan
tanda bahwa pemerintah memang serius menanggapi apa-apa yang disamapaikan mahasiswa.
Sementara Syamsudin Haris dalam bagian ini mengungkapkan bahwa jika terjadi dialog, maka
hasinya jangan sampai cuma ditampung , apalagi Dijinakan. Berbeda dengan Syamsudin Haris,
Soemitro lebih menyoroti seputar manpaat dialog yang tidak hanya sekedar menggalang
tindakan.
Bagian ketiga dari buku ini membahas seputar tuntutan reformasi yang dibungkus berbagai
nuansa, ada yang dibungkus arogansi kekuasaan ataupun bahkan dengan cinta.
Sedangkan bagian Akhir dari buku ini menjelaskan "Tragedi " Tri Sakti yang
merenggut nyawa empat mahasiswa.
Yang sangat menarik dari dari buku ini adalah bagaimana gerakan Aksi mahasiswa dan
tuntutan reformasi menjadi bahasan yang sangat menarik khususnya bagi para reformis
sejati. Di sisi lain buku ini sangat berguna bagi mahasiswa dan masyarakat pada umumnya
untuk lebih berintrispeksi dalam menyikapi setiap dinamika yang terjadi. ( Zeks M ) |