Terminal Musik Indonesia
Membawa : Upacara Adat
Buaya Putih Itu Dikubur dengan Upacara Adat
Suasana Jalan Perintis Kemerdekaan dan wilayah sekitar Jembatan Sungai Tello, Makasar, tampak lain dari biasanya. Ribuan orang tampak memadati kedua daerah itu. Dan di sebuah pondok bambu di tepi Sungai Tello kepadatan bertambah-tambah. Manusia menyemut mengitari pondok reot milik suami istri separuh baya Daeng Tunrun dan Halima. Ada kejadian luar biasa memang. Hari itu warga melihat prosesi penguburan seekor buaya putih, buaya yang dianggap bukan sembarang buaya. Buaya putih itu memang dikubur dengan upacara adat yang disebut tunrung pakanjara. Binatang in akan dikuburkan di Paccinang, sebuah tempat dibelakang gedung PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), Makasar.

Upacara tunrung pakanjara itu sempat menggegerkan ketika empat orang penonton tiba-tiba tak sadarkan diri dan meloncat kedalam Sungai Tello. Melihat kejadian itu, sejumlah orang kemudian melempar sebelas telur. Tak begitu lama keempatnya muncul lagi. "Ia kemasukan roh", kata Pattabulang Karaeng Singara, salah tokoh maysarakat di situ. Keempat orang yang kerasukan itu, katanya, menjemput kerabat buaya yang akan dikuburkan tersebut. Paccinang sendiri dikenal sebagai lokasi kuburan leluhur buaya-buaya yang merupakan turunan manusia. Di tempat yang sama. Karaeng Sinrijala yang merupakan nenek buaya putih itu juga dikuburkan. Karena itulah, masyarakat menyebut daerah tersebut sebagai pusat Kerajaan Sinrijala. Buaya lainnya yang sudah dimakamkan di sana, adalah Karaeng Labolong. "Penguburan buaya dengan upacara adat ini juga untuk menghindarkan kemungkinan datangnya bencana bagi kota Makasar,"Kata Singara.

Menurut Singara buaya-buaya kini marah karena tempatnya di Sungai Pampang dikeruk. Singara menunjuk buaya putih yang akan dikubur itu. "Ia terluka karena tubuhnya terkena esvakator,"ujarnya. Buaya itu, ujar Singara, berhasil meloloskan diri dan sampai sungai Tello. Daeng Tunru dan Halima sendiri mengaku buaya putih  itu adalah kembaran anaknya, Sattu. Menurut Halima, pada 1981 dirinya melahirkan anak kembar. Setelah Sattu lahir, tiba-tiba menyusul benda mirip cecak dari rahimnya. Benda aneh yang kemudian di ketahui sebagai bayi buaya itu lantas diberi nama Santi. Buaya putih yang tewas itu sendiri sungguh berbeda dengan buaya lainnya. Menurut Halima ia sangat penurut. Buaya ini memiliki lima jari. Tangan kirinya cacat. Menurut Halima, cacat itu merupakan bawaan sejak lahir.
Sattu, kembaran Santi, kata Halima, yang meninggal pada usia 4 tahun juga mengalami cacat serupa. Halima sendiri memiliki 16 anak dan Santi adalah anaknya ke 4.

Menurut Halima, sejak dilepaskan ke Sungai Tello pada 1981, Santi telah dua kali menampakkan diri. Pertama, ketika Sattu meninggal dunia. Kedua, minggu sekitar pukul 18.00 wita. Menurut Tunru, begitu melihat Santi, ia langsung menghampiri. Kemudian, sang buaya langsung membelitkan tubuhnya ke kaki Tunru. "Barangkali dia rindu,"ujarnya. Namun, kata Tunru buaya putih sempat meronta sewaktu Tunru meminta bantuan beberapa pemuda untuk menaikkannya ke atas gubuknya. Beberapa warga bilang, buaya putih itu marah lantaran disentuh oleh laki-laki. Sementara dia sendiri seorang perempuan. Tetapi hanya beberapa jam berada ditengah keluarganya buaya itu lantas tewas. Menurut Tunru, saat ia melepaskan Santi kedalam sungai pada 1981, juga upacara adat. Saat itu, begitu mencium bau air, binatang melata itu langsung merayap ke sungai.

Berita munculnya buaya putih sepanjang dua meter dan berat sekitar 100kg ini memang seolah menyihir warga Makasar untuk ramai-ramai datang menonton. Warga berlomba-lomba mendatangi gubuk Tunru yang sempit  dan terletak di bibir sungai Tello. Disana dengan penuh kasih Tunru dan Halimah memandang buaya-anaknya-yang telah membujur kaku.
Kembali
Kesakralan Adat Tengger Akankah Terhapuskan?
Galungan (Bali), Sebuah Spiral Kebenaran.
Untuk Ibu Dewi Roro Kidul
Meriah, Tahun Baru Hijriah di Solo
Hosted by www.Geocities.ws

1