Terminal    Musik    Indonesia
Membawa : Galungan, Sebuah Spiral Kebenaran.
Pergi ke Pura.
Suasana hari Galungan
di Pulau Bali(26/9),
dipenuhi dengan acara
ritual dengan persembah
yangan di pura-pura keluarga.
Seorang bapak dengan
dua orang anaknya pergi ke
pura desa terdekat di Kota
Denpasar, Bali, usai melakukan
sembahyang di pura keluarga.
Manusia nyaris tak mungkin hidup tanpa simbol. Karena itu manusia dijuluki pula "binatang bersimbol". Terutama dalam kaitannya dengan kepercayaan, simbol-simbol itu hadir semakin nyata. Simbol mempermudah hidup manusia; simbol menyederhanakan persoalan; dan simbol memberikan harapan serta memperkuat kemauan manusia. Dalam masyarakat Hindu di Bali, simbol memegang peran sangat sentral. Begitu pentingnya makna simbol, sehingga ia menjadi sakral. Sebagai contoh, canang(bagian kecil dalam upacara) dianggap sebagai sarana persembahyangan. Ketika sebuah iklan menghadirkan canang berisi bola golf, masyarakat Hindu pun heboh dan menuduh itu sebagai sebuah penghinaan. Simbol telah menjadi bagian totalitas kehidupan umat Hindu yang tak bisa dipisah-pisahkan. Tetapi, ketika simbol-simbol itu telah menjadi sebuah rutinitas, ia seolah kehilangan daya magnisnya dalam inti kesadaran manusia pendukungnya. Sebutlah misalnya hari raya Galungan yang baru saja dirayakan umat Hindu ( khususnya di Bali) pada hari Rabu kliwon, wuku Dungulan, 26 September 2001. Hari raya ini menyimbolkan kemenangan dharma(kebenaran) melawan a-dharma(kejahatan).

Dan agar lebih meresap ke hati masyarakat, simbol  kemenangan dharma itu dikaitkan pula dengan cerita Mayadanawa(melambangkan kejahatan) yang dikalahkan dewa Indra(melambangkan kebenaran). Mayadanawa telah dikalahkan Indra; kebenaran(dharma) telah mengalahkan kejahatan(a-dharma); namun pola kehidupan umat Hindu sangat lambat berubah dalam beratus-ratus kali Galungan , dalam beratus-ratus kali kemenangan dharma melawan a-dharma. Judi, misalnya, masih tetap menjadi tradisi yang tidak dianggap tabu di Bali. Sistem kasta yang membeda-bedakan harkat dan martabat manusia bedasarkan kelahiran, masih tetap diakui dalam masyarakat. Pelaksanaan agama masih sarat dengan upacara-upacara besar, mengalakan bobot etika dan filsafatnya. Maka saya lebih cenderung memaknai Galungan ini sebagai sebuah spiral kebenaran(dharma)tanpa pernah sama sekali mengalahkan kejahatan(a-dharma).
Dalam setiap tingkat kebenaran baru, terdapat tantangan dan kejahatan yang baru pula. Simbol diciptakan bukanlah untuk diabadikan demi simbol itu sendiri, melainkan untuk diperjuangkan. Simbol tanpa perjuangan hanyalah sekadar angan-angan, bahkan sekadar mimpi. Ia sama sekali tidak sakral dan bermakna. Maka tiba saatnya bagi umat Hindu untuk memaknai hari raya Galungan kemarin dan Kuningan (6 oktober 2001)dengan sunguh-sungguh. Dimulai dengan usaha memahami diri sendiri, baik "diri" sebagai umat, "diri" sebagai bagian sebuah bangsa, maupun"diri" sebagai individu. Memahami diri adalah juga memahami masa lalu, masa kini dan masa depan. Bagaimana umat Hindu hendak mendudukkan dirinya di tengah saudara-saudaranya yang se-umat dan juga di tengah  saudara-saudaranya yang se-iman?.
Fakta tentang "diri" tentu saja akan mempengaruhi tindakan umat Hindu, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok dalam menentukan tujuannya. Fakta tentang diri akan membantu menjelaskan siapa seseorang dan apa yang mampu dicapainya. Karena itu umat Hindu harus jujur dalam mengenali fakta dirinya. Jujur pula apa yang mungkin dicapainya. Semoga umat Hindu yang kecil jumlahnya ini, mampu menjadi sebuah komunitas yang(meminjam istilah Vive-kananda): Selalu mengarahkan hatinya kepada Tuhan; Mengarahkan pikirannya untuk kebaikan sesama; dan mengarahkan tangannya untuk bekerja. Semoga.
(Raka Santeri, wartawan Denpasar)
Galungan--Rekaman dari perayaan Galungan di Pura Bale Agung, Desa Adat Intaran, Sanur, Bali, tahun 2001
Kembali
Hosted by www.Geocities.ws

1