Manusia nyaris tak mungkin hidup tanpa simbol. Karena itu manusia dijuluki pula "binatang bersimbol". Terutama dalam kaitannya dengan kepercayaan, simbol-simbol itu hadir semakin nyata. Simbol mempermudah hidup manusia; simbol menyederhanakan persoalan; dan simbol memberikan harapan serta memperkuat kemauan manusia. Dalam masyarakat Hindu di Bali, simbol memegang peran sangat sentral. Begitu pentingnya makna simbol, sehingga ia menjadi sakral. Sebagai contoh, canang(bagian kecil dalam upacara) dianggap sebagai sarana persembahyangan. Ketika sebuah iklan menghadirkan canang berisi bola golf, masyarakat Hindu pun heboh dan menuduh itu sebagai sebuah penghinaan. Simbol telah menjadi bagian totalitas kehidupan umat Hindu yang tak bisa dipisah-pisahkan. Tetapi, ketika simbol-simbol itu telah menjadi sebuah rutinitas, ia seolah kehilangan daya magnisnya dalam inti kesadaran manusia pendukungnya. Sebutlah misalnya hari raya Galungan yang baru saja dirayakan umat Hindu ( khususnya di Bali) pada hari Rabu kliwon, wuku Dungulan, 26 September 2001. Hari raya ini menyimbolkan kemenangan dharma(kebenaran) melawan a-dharma(kejahatan).
Dan agar lebih meresap ke hati masyarakat, simbol kemenangan dharma itu dikaitkan pula dengan cerita Mayadanawa(melambangkan kejahatan) yang dikalahkan dewa Indra(melambangkan kebenaran). Mayadanawa telah dikalahkan Indra; kebenaran(dharma) telah mengalahkan kejahatan(a-dharma); namun pola kehidupan umat Hindu sangat lambat berubah dalam beratus-ratus kali Galungan , dalam beratus-ratus kali kemenangan dharma melawan a-dharma. Judi, misalnya, masih tetap menjadi tradisi yang tidak dianggap tabu di Bali. Sistem kasta yang membeda-bedakan harkat dan martabat manusia bedasarkan kelahiran, masih tetap diakui dalam masyarakat. Pelaksanaan agama masih sarat dengan upacara-upacara besar, mengalakan bobot etika dan filsafatnya. Maka saya lebih cenderung memaknai Galungan ini sebagai sebuah spiral kebenaran(dharma)tanpa pernah sama sekali mengalahkan kejahatan(a-dharma).