Membawa : Upacara Adat
Kesakralan Adat Tengger Akankah Terhapuskan?
Alkisah, Jaka Seger dan Rara Anteng lama tak mendapatkan keturunan. Setelah bersemedi, ia mendapatkan suara gaib. Mereka akan deberi 25 anak, dengan syarat ia harus rela menyerahkan anak bungsunya untuk diambil kembali pada Bulan Kasada, Purnama ke 14, putih wetan (subuh). Namun, setelah Kusuma, anak bungsunya, berusia 10 tahun, teringat akan janjinya itu Jaka Seger dan Rara Anteng malah mengungsikan ke 25 anaknya ke Gunung Penanjakan. Ia takut kehilangan salah satu putranya. Meski demikian, Hyang Kuasa tetap mengambil Kusuma, tepat di Bulan Kasada, sebagaimana yang pernah dijanjikan. Akhirnya, Kusuma pun melalui suara gaibnya berpesan kepada seluruh saudaranya di sekitar Poten untuk merelakannya kepergiannya. Kusuma juga berpesan agar mereka hidup rukun. Untuk mengingat dirinya, Kusuma hanya meminta warga Tengger agar menyisihkan sebagian hasil buminya kepadanya.
Sejak saat itulah upacara Yadnya Kasada selalu dirayakan oleh suku Tengger secara turun-temurun. Yadnya Kasada diartikan sebagai hari kurban yang sakral. Bagi warga Tengger, Yadnya Kasada mempunyai makna khusus dalam hidup mereka. Terbukti, ketika malam Kasada mencapai puncaknya, ribuan warga suku Tengger dengan perlahan berbondong-bondong menapaki Gunung Bromo. Mereka membawa berbagai hasil bumi yang mereka tanam di ladang masing-masing, untuk kemudian dipersembahkan ke sang leluhur, Kusuma, di kawah Gunung Bromo. Jauh dan terjalnya medan pegunungan tak menyurutkan mereka untuk mencapai puncak kawah dan melemparkan hasil bumi terkait. Pria, wanita, tua, muda, maupun bocah, tidak mau ketinggalan mendaki Gunung Bromo.

Dengan diterangi sejumlah oncor, obor, mereka mendaki kaki Gunung Bromo yang berpasir itu secara perlahan. Gamelan kepyek, yang bergemerincing maupun tabuhan ketipung yang mengiringi prosesi ini, semakin menambah kehikmatan dan Kesakralan Upacara Yadnya Kasada. Di atas puncak gunung itu, keturunan Rara Anteng dan Joko Seger ini mengucap syukur kepada Hyang Widi Wasa atas karunia yang mereka terima selama satu tahun. Namun, disayangkan, romantisme dan kesakralan upacara Yadnya Kasada belum sepenuhnya dipahami ribuan wisatawan yang dari tahun ke tahun semakin membanjiri Kawasan Taman Nasional (KTN) Bromo, Tengger, Semeru. Bisa dihitung dengan jari wisatawan yang bermaksud menyelami nilai-nilai yang terkandung dalam ritual suku Tengger itu. Banyak wisatawan justru membuat ulah sendiri.

Mereka membawa loud speaker besar-besar dan menyuarakan house music, atau musik dangdut disana, bersamaan dengan saat warga Tengger melangsungkan upacara sakral. Harmonisasi yang tercipta antara tabuhan musik tradisional yang didendangkan warga Tengger dengan alam Penggunungan Bromo yang terjadi saat prosesi pun akhirnya terkoyak-koyak, tertelan oleh dentuman house music yang keluar dari loud seaker yang dibawa para wisatawan tersebut. Suasana kesakralan upacara Yadnya Kasada pun akhirnya bercampur baur dengan suasana keramaian, yang tak jauh berbeda dengan suasana pasar malam. Bagi warga Tengger sendiri, kata Soedjai, hiruk pikuk kehadiran wisatawan tidak terlalu dipersoalkan. Sebagai seorang kepala adat,  tetap acara pribadi-pribadi mengimbau setiap warga Tengger  untuk menghayati upacara Yadnya Kasada sebagai ritus yang sakral.

Menurut Soedjai, tentu saja, jika ribuan wisatawan tergerak untuk turut menjaga suasana harmonisasi alam akan jauh lebih baik. Jeany(54), wisatawan Eropa yang malam itu semula berkeinginan menikmati suasana bernuansa magis di Bromo yang masih asli, menyatakan kekecewaannya. Dia yang pernah menyaksikan upacara Yadnya Kasada saat masih sepi dikunjungi pengunjung - mengimpikan hal itu kembali terjadi saat ini. Ketua Kawasan Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (BTS) Herry Subagiadi menilai, persoalan yang terjadi di Bromo sebagai cerminan rendahnya bangsa Indonesia menghargai pluralisme budaya. Dibandingkan dengan Kawasan Wisata Nasional di Jerman dan Inggris, menurut Master Manajemen Konversasi dari Mississipi State, Amerika Serikat, ini, bangsa Indonesia masih tertinggal jauh. "Warga di sana, ketika diberi tahu kekeliruannya, langsung malu dan respek terhadap petugas. Padahal, jumlah wisatawan mereka lebih banyak. Law en forcement pun diterapkan dengan baik. Mereka yang tertangkap benar-benar diproses," tambahnya.

Ia sependapat bahwa apa yang selama ini banyak dilakukan wisatawan di Kawasan Taman Nasional BTS, sesungguhnya merupakan polusi udara yang mengacaukan harmonisasi alam penggunungan Bromo. Dan, itu melanggar prinsip dasar konversasi. Herry, yang baru bertugas di KTN BTS selama tiga minggu itu, kini, hanya mengimpikan, suatu saat Upacara Adat Bromo bisa kembali menemukan suasana aslinya. Seperti halnya yang masih terjadi pada upacara adat Kasepuhan Hanoman, di wilayah Jawa Barat, di Desa Cipta Rasa. "Acara itu benar-benar masih terasa khidmat," ujarnya. Bisa dibayangkan, bila di tengah keheningan malam, warga Suku Tengger dapat berprosesi dengan tenang dan khidmat membawa persembahan sebagian hasil buminya kepada Kusuma, saudara leluhurnya yang telah dipanggil sang Kuasa, sebagai simbol pengorbanan. Romantisme dan kesakralan upacara adat Tengger pasti tidak akan tergantikan.
Terminal    Musik    Indonesia
Kembali
Hosted by www.Geocities.ws

1