Sekitar 75.000 orang menyaksikan upacara Syukuran Nelayan atau Hajat Laut Nelayan Pantai Pangandaran yang berlangsung meriah di Pantai Timur Pangandaran, Kamis (14/03/02). Puncak dari acara yang dimaksudkan sebagai ucapan syukur dan permohonan keselamatan dari nelayan untuk Ibu Dwi Roro Kidul, yang dipercaya sebagai penunggu Pantai Selatan ini ditandai dengan ditenggelamkannya tiga paket sesaji di perairan Batu Layar, sekitar lima mil laut dari Pantai Timur Pangandaran, sekitar pukul 16.00. Beberapa acara dilakukan nelayan Pangandaran untuk memeriahkan hajat laut yang dilaksanakan setiap bulan muharam, yang telah dimulai 13 Maret lalu dan berakhir 17 Maret. Acara itu, misalnya pertunjukkan musik dangdut, khitanan massal, dan pertunjukan wayang. Acara-acara itu sebenarnya hanya hiburan saja. Inti caranya adalah persembahan sesaji itu, kata Ato, salah seorang nelayan. Ato menambahkan, sesuai tradisi persembahan, sesaji ini selalu dilakukan pada malam Jumat Kliwon di bulan Muharam.
Tiga sesaji paket yang dipersembahkan dalam hajat laut kali ini dimasukkan dalam sebuah kotak berukuran 1,5 x 1,5 yang disebut dengan Dong Dang. Satu buah paket sesaji utama yang merupakan persembahan nelayan Pangandaran berisi satu kepala sapi, seperangkat peralatan wanitalengkap, mulai dari pakaian, sanggul, samapi dengan pakaian dalam, dan jajanan pasar. Sedangkat dua paket lainnya yang dipersembahkan pengusaha di Pangandaran berisi kepala kambing. Saat paket sesaji utama ini ditenggelamkan, ribuan nelayan Pangandaran yang menggunakan sekitar 400 perahu berusaha mendekat untuk mengambil air laut yang ada di sekitar sesaji. Air yang dipercaya membawa berkah keselamatan dan rezeki itu lalu digunakan untuk membasahi tubuh dan perahu mereka. Karena berebutan mendekat, beberapa perahu saling bertabrakan dan puluhan nelayan nekat mencebur diri ke laut
" Ritual ini merupakan bagian dari kepercayaan kami," kata Ato. Sebagai bagian dari ritual pula, pada hari Kamis dan Jumat lalu (14/15 maret), nelayan di Pangandaran tidak melaut. Kalau melaut, takut terjadi apa-apa karena ini merupakan waktu yang sakral. Setiap Jumat Kliwon mereka juga tidak melaut. Di tengah kemeriahan hajat laut yang dilakukan Rukun Nelayan Pangandaran ( RNP) ini, Ketua RNP Adang Suhendar mengaku kecewa pada rendahnya perhatian Pemerintah Kabupaten Ciamis terhadap acara yang diselenggarakan. " Sudah dua hajat laut bupati tidak datang, sumbangan Pemda untuk acara ini juga hanya Rp 2,5 juta," keluh Adang. Besarnya sumbangan Pemda Ciamis itu tidak sampai lima persen dari total biaya untuk hajat laut yang mencapai Rp 54 juta.