Page 58 - Ekoteologi-Banjar
P. 58
Sabda Rasulullah:
َ ْ َ َ َ َ َّ ّ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ُ َ َ َ َ َ َّ َ َ
َ
اهسرغيلف اهسرغي تح موقت نأ ل عاطتسا نإف ةليسف ِ مك ِ دحأ ِ دي فو ةعاسلا ِ تماق نإ
ِ ِ
ِ ِ
Artinya: “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka
jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad)
Penguatan ekoteologi akan membangkitkan kesadaran spiritual sehingga kita lebih peduli terhadap
kelestarian bumi, mengubah cara pandang dari eksploitasi menjadi konservasi, serta menata kehidupan
sosial dan ekonomi secara adil serta berkelanjutan. Wujud dari kuatnya ekoteologi yang tertanam dalam
diri kita dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti gerakan penghijauan, pengelolaan sampah
yang ramah lingkungan, dakwah tentang kesadaran ekologis, dan sikap hemat energi serta air dalam
kehidupan sehari-hari. Ekoteologi hadir sebagai pengingat bahwa bumi adalah amanah Allah yang harus
dijaga dan dilestarikan. Menyelamatkan lingkungan berarti menjaga keberlangsungan hidup seluruh
makhluk dan sekaligus mengabdikan diri kepada Allah. Beribadah adalah tugas utama kita di dunia
sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Az-Zariyat ayat 56:
َ َّ َ َّ َ ْ َ َ َ َ
نودبعي ِ ل لِا سن ِ لاو نجلا تقلخ امو
ِ
ِ
Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Melalui pendekatan ekoteologis, keyakinan dalam beragama diharapkan kembali menyatu dengan
kelestarian alam, sehingga keseimbangan ciptaan dapat terjaga untuk generasi masa kini dan yang akan
datang. Dengan kuatnya ekoteologi dalam diri, maka kita tidak hanya taat dalam ibadah ritual, tetapi juga
memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam sebagai amanah Allah SWT. Kesadaran ini akan
mendorong kita untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sumber daya alam secara bijak, serta
menolak segala bentuk perusakan dan pemborosan yang merugikan kehidupan. Ketika nilai-nilai
keimanan terwujud dalam sikap ekologis, maka bumi akan tetap terpelihara keseimbangannya,
keberlanjutan kehidupan dapat dijaga, serta rahmat Islam sebagai agama yang membawa kedamaian bagi
seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin akan benar-benar tercermin dalam perilaku kita.
Allah berfirman:
َ َ ٰ ْ ِّ َ َ َّ َ ٰ ْ َ َ َ َ
ي ِ ملعلل ةمحر لِا كنلسرا امو
Artinya: "Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam," (QS
Al-Anbiya': 107)
Semoga penguatan ekoteologi menjadi jalan tercapainya keberkahan dan kesejahteraan bagi seluruh
makhluk di muka bumi. Amin.
Wassalamu alaikum wr wb.

