Page 4 - Ekoteologi-Banjar
P. 4
JUDUL PENYULUHAN/CERAMAH : Menjaga Amanah
NAMA : Insan Nor Rahman, Lc
egala puji bagi Allah ta'ala yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan se S
hingga kita dapat berkumpul pada kesempatan ini. Shalawat beserta salam, marilah kita
haturkan kepada baginda alam Habibana wa Nabiyyana Muhammad SAW, juga kepada para
keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Aamiiin
ya Rabbal ‘alamin. Islam menempatkan pelestarian alam dan lingkungan sebagai bagian dari
amanah Allah kepada manusia yang dijalankan dari generasi ke generasi. Dengan menjaga
dan merawat bumi sama saja dengan menjalankan perintah Allah dan menjaga
keberlangsungan hidup seluruh makhluk. Kita semua hidup di dunia ini tidak bisa lepas dari
alam dan lingkungan yang telah Allah ciptakan sebagai amanah bagi kita. Kehadiran alam
memungkinkan kita dan seluruh makhluk lain yang ada di muka bumi ini bisa
melangsungkan hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menjaga dan merawatnya
َّ
dengan penuh tanggung jawab. Allah ta'ala berfirman dalam surat Fathir ayat 39: يِذلا وُه
َ
َ
ض ْ ر ْ لْا يِف َ فِئ َ لََخ ْمُكَل َ عَجِ Artinya: “Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di
bumi." Dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Azhim, juz 3, halaman 384, Imam Ibnu Katsir
menjelaskan bahwa maksud dari khalifah atau para pengganti dalam ayat tersebut adalah
bahwa Allah menjadikan manusia sebagai pihak yang bertugas memakmurkan bumi. Tugas
ini berlangsung dari generasi ke generasi, dari abad ke abad, dan dari satu keturunan ke
keturunan berikutnya. Dengan demikian, orang-orang yang hadir di muka bumi ini, dari
berbagai generasi telah diberi amanah oleh Allah sebagai pihak yang dipercaya untuk
mengelola dan memakmurkan bumi, bukan malah menjadi pihak yang merusaknya. Namun
kenyataannya, jika kita perhatikan, terjadinya banyak kerusakan alam dan lingkungan itu
merupakan akibat dari ulah tangan manusia itu sendiri. Hal ini telah Allah ingatkan dalam
َ
ْ
ْ
ْ
firman-Nya pada surat Ar-Rum ayat 41: َ ضْعَب مُهَقيِذُيِل ِ ساَّنلا يِدْيأ ْ تَبَسَك ا َ م ِ ب ِ رْحَبلاو ِ رَبلا يِف ُداَسَفلا َ رهَظ
َ
َ
ُ
َّ
َّ
نوُع ِ ج ْ رَي ْمُهل َ عَل اولِمَع يِذلاَ Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." Dalam Tafsir Al-Munir juz 9
halaman 105, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa kerusakan tersebut adalah
ketidakseimbangan yang mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari kekeringan, musim
paceklik, berkurangnya tumbuhan, merebaknya kebakaran, tenggelamnya sesuatu,
perampasan harta secara zalim, hingga meluasnya mudarat dan berkurangnya manfaat. Selain
itu, ayat tersebut juga merupakan peringatan dari Allah agar kita semua senantiasa bisa
menjaga alam ini dengan baik dan penuh tanggung jawab. Hal ini dilakukan demi terciptanya

