|
||||||||
Menu Utama Kilas Foto
Ekspresi ketua KIRSmart baru setelah Serah Terima Jabatan beberapa menit yang lalu, dan akan memimpin dan berusaha memajukan KIRSmart satu tahun kedepan.
|
Metode Telur Sapi Secara umum apapun yang ingin kita kerjakan atau hasilkan semuanya memerlukan sekurang-kurangnya lima langkah : · Bersihkan niat, mantapkan keyakinan untuk sukses lalu tetapkan tujuan, cita-cita dan visi. · Detailkan sasaran : Kuantitas, Kualitas, dan batas waktu. · Siapkan bahan baku, alat atau perlengkapan. · Lakukan langkah demi langkah disertai kegigihan untuk sukses. · Evaluasi dan tindak lanjut. Mari kita mengambil proses pembuatan telur mata sapi sebagai contoh : Langkah Pertama, Bersihkan niat, tetapkan tujuan, mantapkan keyakinan, visualisasikan langkah-langkah membuat makanan bergizi, dan enak untuk sarapan berupa telur goreng mata sapi, kata kunci pertanyaan untuk langkah pertama ini adalah APA, BERAPA, MENGAPA, KAPAN, SIAPA. Langkah Kedua, Buat keputusan, dan susun secara tertulis, sasaran, dan target melangkah. Telur “Apa” yang akan digoreng ?, ( ayam atau itik ). “Berapa” banyak ?, apakah satu butir untuk 300 peserta pelatihan?, Minyak goreng “Apa” yang akan dipakai ?, “Berapa” banyak waktu yang sibutuhkan ?, “Kapan” akan dibuat ?, Oleh “Siapa” ? “Mengapa” mata sapi, bukan dadar, atau direbus saja ?, proses memikirkan, dan mengambil keputusan ini sangat menentukan sukses tidaknya kita mencapai tujuan. Untuk mudahnya, kita melakukan langkah kedua ini, pikirkan dan visualisasikan BAGAIMANA anda membuatnya ?, KAPAN anda ingin memulai, dan BERAPA waktu diperlukan untuk membuatnya ?, SIAPA yang akan melakukannya ?, DIMANA anda akan melakukanya ?, BERAPA banyak dana , energi, dan sumber daya yang di perlukan untuk menyelesaikannya ?, dan dari mana didapatkan ?, SIAPA yang akan menikamti hasil, dan menanggung akibatnya ? Langkah Ketiga, Siapkan bahan baku, dan peralatan kerja, setelah mengetahui apa yang diinginkan, perhatian semua beralih : apakah semua bahan sudah tersedia ?, sudah ada telur atau harus dibeli dulu di toko ?, atau mengambilnya di kandang, apakah ada minyak goreng bumbu dan sebagainya ?, kalau belum ada, siapa yang akan bertugas ke toko atau ke kandang ?, anda sendiri atau minta toloh kepada seseorang ?, apakah sudah ada alat masak ?, Kompor misalnya, kompor apa ? Gas, Minyak tanah, atau memasak dengan kayu bakar ?, apakah ada korek api ?, bagaimana dengan penggorengannya ?, wajan, sodet, dan sebagainya ? Langkah Keempat, Melakukan, dan melaksanakan, setelah semua persiapan rampung, kita siap mengerjakan proses lanjutan pembuatan telur goreng mata sapi, yang rinciannya lebih kurang sebagai berikut : · ambil korek api. · nyalakan kompor. · letakkan wajan ( Penggorengan ) ke atas kompor. · masukkan minyak goreng ( tunggu sampai panas ). · pecahkan sebutir telur. · masukkan telur ke dalam minyak panas. · bubuhi telur dengan garam halus. · bubuhi telur dengan bubuk merica. · gerak-gerakkan telur dengan sodet agar tidak lengket. · tutup telurnya agar kuning dan putih telurnya cepat mengeras. · balik telurnya. · ambil telur setelah agak kecoklatan. · taruh telur di piring. · jika masih akan menambah, ulangi proses 4 dan 5. · jika sudah selesai matikan kompor. Langkah Kelima, Tindak lanjut. tindak lanjut atau follow up umumnya terdiri dari tiga komponen lagi, yaitu : · Menikmati hasil. · Menyelesaikan konsekuensi. · Evaluasi. Hasil yang nyata didapatkan melalui proses penggorengan telur adalah menikmatinya, tentu enak memakanya dengan nasi goreng hangat, apa lagi di sertai dengan kecap, sambal, dan bawang goreng. Tapi seperti juga kegiatan lainnya, menggoreng telur mata sapi tentu saja memiliki konsekuensi. Paling tidak anda harus membersihkan, dan menyimpan kembali peralatan masak yang sudah dipakai. Ini banyak kita lupakan. setelah menikmati hasil, orang lain disuruh atau diasumsikan untuk memikul tanggung jawab konsekuensinya. Selanjutnya makin sempurnalah jika akhir tindak lanjut ini anda tambahkan satu komponen lagi, yaitu Evaluasi supaya lain kali lebih enak. Di negeri ini, umumnya orang yang sudah makan di rumah atau di restoran, memberikan saja piring mereka tergeletak di atas meja, “Nanti ada pembantu atau pelayan”, padahal piring, dan gelas dapat mereka bersihkan sendiri, atau setelah makan kacang, pisang, permen, dan meminum minuman kaleng, mereka sampai hati membiarkan sampah mereka berceceran di jalan atau tempat umum, “toh ada petugas pembersih kota,” Kemasa bodohan, dan kecuekan seperti pada hal-hal kecil seperti itu bisa menjadi kebiasaan, dan menjangkit kesoal-soal besar. Misalnya, terbiasa mengambil utang besar, menyalah gunakannya, kemudian generasi kini dan berikutnya, dan seluruh bangsa ini harus menanggung akibatnya. Atau dengan enaknya menebang ribuan hektar hutan lalu jutaan rakyat menanggung banjir, dan erosinya.(Marwan) |
|
||||||
|
|
|
|
||||||
Copy 2005
Iqbal
KIRSmart