Kompas Minggu, 7 November 1999 Yang Perlu Dicermati dalam Wawancara Kerja
PERNAHKAH Anda mempunyai teman, kerabat atau
entah apa saja yang punya pengalaman seperti ini? Berkali-kali melamar kerja, tetapi gagal
saat wawancara.
Seperti pengalaman Asti-sebut saja
begitu-yang bolak-balik mengadu nasib untuk mencari pekerjaan baru, tetapi sekian kali
gagal mendapatkannya. Sialnya, dia tidak berhasil lolos setelah mengikuti tahapan
wawancara. Asti sempat putus asa dan malas untuk melayangkan lamaran lagi. Tetapi seorang
teman menghiburnya, "Kamu masih beruntung karena untuk dipanggil, dites kemudian
diwawancara itu merupakan separuh bahkan tiga perempat keberhasilan. Banyak orang yang
dipanggil saja tidak, apalagi sampai diwawancara."
Rupanya kata-kata itu betul-betul memberikan
semangat baru buat Asti. Sambil terus bekerja dengan status kontrak di tempatnya sekarang,
Asti tetap mencoba mencari peluang kerja yang lebih baik. Meski begitu, setiap kali
melamar, wawancara beberapa kali yang gagal itu tetap membayang.
"Biasanya orang tambah banyak pengalaman, makin percaya diri. Tetapi saya, makin
sering diwawancara, makin pesimis, karena di sini saya selalu gagal," ujar Asti.
Pengalaman seperti itu sebenarnya jamak
dialami orang. Tak cuma di Indonesia, tetapi universal dialami oleh para pelamar kerja di
mana-mana di dunia, yang menggunakan sistem seleksi obyektif, bukan sistem koneksi.
Wawancara sebenarnya hanya merupakan bagian
dari sekian proses yang harus dilalui. Seleksi pertama biasanya sudah berlangsung saat
lamaran diterima perusahaan. Kualifikasi, termasuk pendidikan, pengalaman, dan lainnya
menjadi pertimbangan sebuah perusahaan untuk melanjutkan atau tidak
melanjutkan proses lamaran.
Betapa pentingnya wawancara, terbukti dari
contoh kasus Asti di atas. Sepandai apa pun Anda, dengan pengalaman yang Anda miliki,
tetap saja tak menjamin Anda bisa diterima di tempat kerja baru yang Anda inginkan. Tak
ada rumus yang bisa digunakan dalam wawancara, selain berusaha meyakinkan
orang yang mewawancarai bahwa Anda memang mampu, cocok, dan merupakan orang yang tepat
untuk mengisi lowongan yang sedang dicari.
Berbagai tipe
Ada beberapa bentuk wawancara yang umumnya
dipraktikkan oleh pencari kerja. Yang cukup banyak dikenal adalah bentuk wawancara tanya
jawab antara pelamar dengan calon tempatnya bekerja. Ini bisa dilakukan oleh satu orang
saja atau oleh sebuah panel pewawancara.
Dalam tipe demikian, wawancara bisa cuma
berbentuk skrining, sekadar mencocokkan antara yang dikemukakan pelamar dalam surat
lamarannya ditambah dengan rincian lisan. Wawancara demikian adakalanya bisa dilakukan
melalui telepon. Namun yang lebih banyak, wawancara dilakukan dengan tatap muka.
Sesuatu yang kini banyak dipraktikkan di
banyak tempat adalah wawancara kelompok. Di sini sejumlah kandidat yang sudah lolos
seleksi sebelumnya dikumpulkan untuk mengikuti diskusi informal. Subyek yang dibicarakan
dipilih oleh pewawancara, para kandidat diminta melontarkan pendapatnya, bertanya, atau
membuat kesimpulan.
Wawancara seperti ini biasanya dilakukan
untuk mencari tahu potensi kepemimpinan seseorang dalam bidang manajerial. "Tujuan
dari wawancara kelompok ini adalah untuk mengetahui bagaimana interaksi kandidat dengan
orang-orang lainnya. Juga untuk mengetahui bagaimana dia menggunakan pengetahuan dan
kemampuan berpikirnya untuk mengalahkan orang-orang
lainnya," demikian alasannya, sebagaimana ditulis dalam CareerBuilder's "How
to" Guide: Job Interview Types.
Jangan terpancing sewot kalau si pewawancara
menyudutkan Anda dengan kata-kata sarkastik. Bukan tidak mungkin ini bagian dari bentuk
wawancara yang disebut wawancara stres. Bentuk yang seperti ini dimaksudkan untuk menguji
bagaimana seorang pelamar mengatasi hal situasi demikian. Tak cuma
lontaran kata-kata sarkatis atau argumentatif, tetapi yang namanya wawancara stres atau
stress interview adakalanya menguji kesabaran pelamar. Salah satunya dengan membiarkan
pelamar menunggu beberapa lama.
Terhadap situasi seperti ini, jangan sakit
hati. Tahan emosi Anda ketika menghadapi pertanyaan dari pewawancara. Bersikaplah kalem,
seolah tidak terjadi apa-apa. Klarifikasi pertanyaan yang kurang jelas bila diperlukan.
Ingat,
jangan terkesan terburu-buru saat menjawab.
Wawancara adakalanya juga dilakukan sambil
makan siang (lunch interview). Suasananya mungkin lebih santai dibanding dengan wawancara
yang dilakukan di kantor. Namun jangan lupa, makan siang ini adalah makan siang bisnis dan
Anda sedang diperhatikan. Gunakan kesempatan wawancara ini untuk mengembangkan dasar
hubungan dengan pewawancara.
Pertanyaan umum
Apa saja yang ditanyakan dalam sebuah
wawancara?
Jawabannya bisa bermacam-macam. Bahkan posisi
yang sama untuk kesempatan wawancara yang hampir bersamaan, antara satu orang dengan orang
lainnya bisa mendapatkan pertanyaan yang berbeda.
Namun ada sejumlah pertanyaan umum yang
sering kali dilontarkan saat wawancara. Siap-siap saja kalau ditanya, "Kenapa Anda
ingin bekerja di sini? Bagaimana perusahaan ini sampai membuat Anda tertarik?" Atau
bisa jadi cuma pertanyaan sangat ringan, seperti: "Coba ceritakan tentang diri
Anda."
Masih banyak pertanyaan penting selain
pertanyaan di atas. Alasan mengapa seseorang ingin pindah, termasuk pertanyaan umum yang
sering ditanyakan. Penanya tentu ingin mengetahui apakah Anda mempunyai masalah dengan
tempat kerja Anda atau tidak. Jika Anda memang benar-benar tidak mempunyai
problem, katakan saja alasannya. Anda bisa mengatakan, soal tidak adanya kemungkinan
pengembangan atau Anda memerlukan pekerjaan yang cocok dengan keterampilan Anda, atau
kantor Anda pindah ke lokasi yang terlalu jauh, dan sebagainya dan sebagainya.
Sebaliknya pun begitu. Kalau memang ada
masalah, jujur saja. Tunjukkan bahwa Anda bisa menerima tanggung jawab dan belajar dari
kesalahan sebelumnya. Anda perlu menjelaskan masalahnya, tetapi jangan menguraikan posisi
bekas atasan Anda dalam terminologi yang serba negatif. Tunjukkan bahwa semua itu
merupakan bagian dari proses belajar yang tidak akan mempengaruhi pekerjaan nantinya.
Di samping kekuatan, pertanyaan juga sering
menyangkut sesuatu yang negatif. Simak umpamanya kalimat, "Apa kelemahan utama
Anda?"
Untuk hal seperti ini, bersikaplah positif.
Alihkan kelemahan menjadi kekuatan. Misalnya Anda mungkin bisa mengatakan, "Sering
saya khawatir terhadap pekerjaan saya. Kadang- kadang saya bekerja sampai larut untuk
memastikan
pekerjaan telah berjalan semestinya."
Pertanyaan-pertanyaan ringan sampai soal hobi
serta olahraga kegemaran bukan tidak mungkin masuk dalam wawancara. Dari hobi dan
aktivitas kegemaran mungkin penanya ingin mencocokkan apakah Anda orang yang kreatif,
punya daya analisis baik, staminanya bisa diandalkan, atau apakah
Anda termasuk orang yang mudah bekerja sama.
Bahkan banyak pewawancara yang ingin tahu
apakah pelamar yang sedang dihadapinya mempunyai kehidupan di luar pekerjaannya. Ini bukan
sekadar pertanyaan mengada-ada, karena dari sini bisa ditemukan suatu nilai tambah
seseorang yang bermanfaat untuk perusahaan. Sebagai contoh, orang yang kreatif atau
menjadikan atletik sebagai jalan keluar dari stres umumnya lebih sehat, lebih gembira, dan
lebih produktif.
Percaya diri
Kepercayaan diri memang perlu ditampilkan.
Usahakan untuk melakukan kontak mata dengan penanya dan jawabpertanyaan- pertanyaan dengan
jawaban yang jelas.
Jangan lupa untuk cermat mendengarkan
pertanyaan. Komunikasi harus berjalan dua arah. Jika Anda terlalu mendominasi konversasi,
bisa jadi Anda kehilangan soal-soal yang dirasakan penting oleh penanya.
Jika ada kesempatan bertanya, jangan
menanyakan sesuatu yang bisa menimbulkan kesimpulan negatif. Contoh yang paling umum
misalnya pertanyaan mengenai hari libur. Jika pertanyaan seputar ini terlalu rinci,
jangan-jangan pihak pewawancara menganggap pelamar tertarik bergabung
lebih karena banyaknya kesempatan libur. Kalaupun soal ini ingin diperjelas, pastikan
bahwa pewawancara mengerti kenapa Anda perlu menanyakan hal itu.
Sikap tubuh yang baik hendaknya
diperhatikan selama berlangsungnya wawancara. Hindari bahasa-bahasa tubuh yang negatif,
seperti menggerak-gerakkan kaki, menggigit bibir, melipat tangan, tidak melihat lawan
bicara atau berdehem sebelum menjawab setiap pertanyaan. (mnsbc/ret)
Rileks dan Terbuka
TERLAMBAT datang mengikuti wawancara
merupakan satu hal yang hendaknya tidak boleh terjadi. Tepat waktu (atau datang awal)
biasanya diartikan oleh pengundang sebagai bentuk komitmen, bahkan lebih dari itu bisa
dianggap sebagai tanda bisa dipercaya serta sikap profesional.
Bersikaplah positif dan usahakan agar pihak
lain merasa nyaman. Perlihatkan keterbukaan dengan cara memberi senyum hangat serta jabat
tangan keras.
Jangan memberi komentar negatif tentang
perusahaan Anda sebelumnya atau perusahaan tempat bekerja sekarang.
Rileks. Anggap saja wawancara adalah sebuah
percakapan biasa. Ingat, penanya sebenarnya sama groginya dengan yang diwawancara.
Bila wawancara sudah selesai, jangan lupa
memberi salam dan mengucapkan terima kasih. Kesankan bahwa Anda berminat dengan posisi
yang ditawarkan. Kalau perlu tanyakan kemungkinan bisa menelepon untuk mencek status
lamaran. Kalau mereka menyatakan akan mengontak, dengan sopan tanyakan kapan hal itu bisa
diharapkan.
Kirimkan pesan, "Terima kasih untuk
wawancaranya". Usahakan supaya pesan itu tiba sebelum keputusan diambil. Kalau kontak
selama ini dilakukan melalui e-mail, kirim e-mail terima kasih segera setelah wawancara.
(mnsbc/ret)
|