Cinta Adalah... - 14 Feb 00 13:58 WIB (Astaga.com)
Ketika ujung-ujung jari terasa kelu, dan baru akan nyaman oleh
remasan sang kekasih, itulah arti cinta. Cinta bisa dipastikan hadir di tengah keceriaan
dan gelora yang penuh bara.
Di lain pihak, cinta juga tetap muncul kala kesedihan datang,
padahal semua itu karena ulah si pasangan. Degup lirih terasa di dada bagai mewakili
kepedihan karena khianatnya. Di antara kemarahan dan kekesalan, kadang cinta tetap muncul,
menyelinap tanpa rencana. Gaya semacam inilah yang kadang membuat orang lain
terheran-heran. "Mengapa cinta masih tetap ada meski pasangannya sudah menyakiti,
menderanya dalam derita?"
Konon, cinta yang sejati menurut bahasa gaul adalah, "Yang
nauin dan bukan yang mauin." Kurang lebih artinya identik dengan, "Cinta itu
lebih banyak memberi dan justru bukan menerima, menuntut ini itu." Cinta yang semacam
ini akan hadir tanpa beban, tapi bagaimana membedakannya? Menurut psikolog Dra. Adriana S.
Ginanjar, M.S., 'wajah' cinta bisa diteropong menurut masa yang dijalaninya.
Masa ABG
Di masa ini, cinta adalah agar si dia mau jalan bareng, menemani di setiap saat dan
kegiatan, demi... gengsi. Rasanya bangga banget bergandengan tangan dengan si dia, atau
ditelepon setiap saat. Padahal, hanya menanyakan PR anu sudah dijawab belum? Duuh! Rasanya
sesulit apa pun PR-nya, pasti bisa dikerjakan, asal si dia yang bertanya.
Antara cinta dan benci, batasnya pun setipis kulit ari.
"Belum ada kestabilan," kata psikolog pengajar fakultas Psikologi UI ini. Bisa
dijamin, periode musuhan, kalaupun ada, pasti tak lebih dari hitungan hari. Bisa-bisa,
ketika jarum jam sudah bergeser, cair sudah kejengkelan.
Masa dewasa muda
Ketenangan dan kejernihan hubungan mulai terasa. Persaingan untuk menunjukkan cinta pun
mulai dikenal dan derajat keseriusannya sudah terdeteksi. Kegairahan cinta makin
membludak, di lain pihak mereka juga sudah punya keahlian menyiasatinya.
Kebanyakan, karena sudah menduduki bangku perkuliahan, mereka
mulai mampu menghadirkan sederet teori dilengkapi bahasan canggih. Yang jelas, cinta versi
ini masih banyak yang bersifat mauin. Makin menuntut komitmen dan sangat berhitung dari
sisi: siapa yang lebih banyak memberi, pastilah dia yang berhak menerima lebih banyak.
Masa dewasa
Ada banyak versi tentang cinta di masa ini. Versi pertama, ketika masing-masing pihak
begitu rela hati 'memberikan' cintanya dan tak menuntut pasangannya melakukan hal serupa.
Kisah cinta altruisme semacam ini, konon, tetap bisa langgeng kendati tak memasuki gerbang
perkawinan. "Cuma yang model begini ini, tak banyak ditemui," kata Adriana.
Versi lain, cinta yang menuntut perimbangan antara memberi dan
menerima. Stabilitas hubungan, hanya bisa dicapai selama hasil kesepakatan masing-masing
disetujui. Tapi begitu 'timbangan' bergeser sedikit, perlu upaya khusus untuk menstabilkan
kembali.
Versi lain lagi, cinta yang penuh gejolak. "Tanpa gejolak,
justru tak menarik." Anehnya, kendati banyak konflik, mereka bisa bersatu kembali
melanjutkan hidup. "Mungkin masanya kembali ke masa ABG, seneng ribut tapi cepat
kembali lagi dan tak mungkin dipisahkan."
Masih adakah versi lain yang Anda temukan? Seperti apa pun
'wajah' cinta yang Anda miliki, di hari Valentine ini, sebaiknya masing-masing pihak perlu
meresapi. Cobalah saling menghargai pasangannya. Bagai menciptakan sepasang sayap, yang
bakal mampu menjelajahi angkasa dengan aman. Saling berpegangan, dan bukannya mematahkan
sayap yang lainnya. (besti)
|