prologue   chapter1   chapter2   chapter3   chapter4   guestbook   rendezvous   epilogue  

 

     

 

   

Kutunggu momen ini setelah lelah kudikejar perasaan bersalah. Ya, inilah kuasa Illahi…

Aku tahu Dia takkan memberikan cobaan diluar kemampuan umat-Nya. Terkadang ada hal yang memang sulit dimengerti dan memang bukan untuk dimengerti tapi kita bisa merasakan bahwa ada sisi lain dibalik tabir itu.

Karena di tim nasyid inilah aku benar-benar interest merasakan warna dan nuansa yang berbeda dalam hidupku. Akhirnya perlahan aku bisa juga menepis ketakutan-ketakutan itu.

                                                                

Hati-hatilah, Mier...

Dalam mendayungi bahtera hidupmu, mengarungi lautan samudera yang begitu liar menantang. Karang terjal, gelombang, topan, dan badai kerap menerpa dan menghempas bahkan sanggup mengoyak isi hatimu namun kau harus tetap berdiri tegar menghalau segalanya.

Jangan biarkan dirimu terhanyut menghilang, biarkan dirimu mengarungi lautan itu sampai bisa kau temukan tempat berlabuh meski kau sendiri tak tahu persis entah sampai kapan bisa kau temui dan kau singgahi pelabuhan itu nanti.

Apabila nakhoda dan juru mudimu senantiasa seiya sekata dalam melayarkan bahteranya niscaya kau akan menepi dan bergayut lembut di pelabuhan biru yang sarat akan kasih.

Oh , Mierzhaku sayang...

Sampai dimanakah kau bidukkan bahtera hidupmu?

Jalanmu masih panjang berliku dan melelahkan...

 

 

                                                    

  

Siapkan pundi-pundi bekalmu, Mier…

Untuk masa yang pasti menantimu bila maut datang menjemputmu, sampailah sudah batas hayatmu. Tibalah saatnya kau bertaubat dari segala perilaku jahat. Hendaklah kamu waspada sebelum ajalmu dijemput malaikat. Tidakkah kau merasa kecewa sahabatmu yang ceria karena bekal yang cukup tersedia sedang dirimu dalam bahaya?

Andai saja aku diberi kesempatan untuk memilih antara menjadi manusia dengan menjadi kambing, aku lebih memilih menjadi kambing... tidak akan membuatku malu dan meringankan pertanggungjawabanku di yaumul akhir nanti.

Usia bukanlah bilangan waktu, tapi bilangan kesadaran.

Aku senang akan segala ketenanganku daripada ikhwan dan aku senang dengan segala pejaman mata dari segala kesalahan, yang memberikan pertolongan kepadaku dikala hidup matiku, siapakah yang mau memberikan hal ini kepadaku?

Seandainya hal ini benar-benar dapat ku peroleh niscaya akan kuberikan segala kebaikan yang ada padaku.

Wallahu ‘alam bishawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Hosted by www.Geocities.ws

1