Chapter 3 : 1999 - 2000

Adakah yang lebih menyedihkan dari keluh duka di dalam sebuah luka tajam menghujam jiwa dan dosa yang mesti ditangisi?

Adakah yang lebih kuat dari karang lautan pribadi dan sikap hidup manusia meski mendidihkan darah?

Hidup bukanlah hadiah tanpa menghidupkan hidup waktu, pacu memburu, maut bagai pisau menikam.

Kau ( : Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ) seonggok cita pula. Dahulu bisa tersalur tingkah laku, kini katamu terbawa pulang. Tinggal aku menunggu waktu, tinggal kita menunggu masa... kesempatan! Disini kubuat pertarungan...kenyataan... kubuat pedoman. Betapapun panjang kemarau mengering, izinkanlah aku untuk tetap bertahan didalamnya.

Wahai Allah SWT-ku, kalaulah memang ia yang terbaik untukku nantinya, untuk agamaku, untuk keluargaku, untuk masyarakat, bangsa, dan negaraku, untuk urusanku, untuk kehidupanku, untuk masa depanku, untuk duniaku, untuk akhiratku... mudahkanlah ia untukku, kuasakanlah ia untukku, berikanlah keberkahan dan keridhaan di dalamnya.

Pergilah kau harapan yang telah usang. Dengan senyum kuhadapi cobaan di tepi dinding yang membentang kebahagiaan yang tak abadi. Aku harus sampai ke ujung citaku agar tak terlampau banyak bermimpi...

                                                    

Hosted by www.Geocities.ws

1