|
prologue chapter1 chapter2 chapter3 chapter4 guestbook rendezvous epilogue |
||
Mencari teman yang baik itu sangatlah mudah tapi untuk mencari teman yang baik dan benar itu bukanlah hal yang mudah. Dan sebaik-baiknya teman adalah yang mengingatkan kita dengan yang di-Atas. Aku harus berani meninggalkan teman-teman yang sudah tidak bisa memberikan manfaat lagi buatku karena sekuat-kuatnya iman adalah bersahabat karena Allah SWT, bermusuhan karena Allah SWT, cinta karena Allah SWT, dan benci karena Allah SWT. Semoga persahabatan ini hanya karena Allah SWT semata. Ridho Allah SWT adalah asa yang ingin digapai, yang terpendam di dalam relung hati, disetiap desahan napas, disetiap denyut jantung, dan disetiap aliran darah di tubuh. Adalah awal yang sulit
bagiku ketika harus tinggal terpisah dari orang tua. Rumah ini...
ternyata banyak mengajariku untuk mengenali diriku sendiri. Ketika harus
mengurusi diriku sendiri dari mulai tidur, melek mata, hingga tidur lagi...
ya, diriku sendiri dalam bayang-bayang kedewasaan. Di rumah ini pula
kutemukan Ibu dalam sosok yang lain, kehangatan, kemandirian, bahkan aku
sering merasa kini hidup ini bagaikan bercermin dan aku baru saja
memulainya dan tentunya takkan kuakhiri begitu saja walau sangat
melelahkan hingga melahirkan rasa saling memiliki. Mungkin ini sederhana
saja... namun begitu berarti bagiku. Betapa terasa bagiku bagaimana bila jauh terpisah dari keluarga, betapa
ternyata aku membutuhkan suasana kehangatan itu. Terasa pula bagiku
bagaimana hidup lepas di tengah masyarakat, membuat merasa pantas untuk
bisa dihargai oleh masyarakat. ( dedicated to my all boarding houses )
|