Chapter 4 : 2000 - 2001

 

Terkadang aku ingin menghapus namamu dan mengubur sejuta cerita kita, hitam putih, susah senang, pahit manis, tawa tangis, kenyang lapar, ... namun mengapa bayangmu selalu hadir dan menghantuiku disaat aku ingin berjuang untuk melupakanmu.

Takkan pernah kulupakan ucapanmu itu sampai kapanpun di sepanjang sisa umurku ini. Ucapan yang benar-benar menusuk kalbuku, yang merasuk ke urat nadiku, yang tak pernah kudapati dari teman-temanku sebelumnya. Sumpah! Kurasakan sekali bagaimana caramu meludahi perasaanku.

Ya, memang ada yang sempat singgah di sudut benakku yaitu segumpal angan dan harapan yang terlindas luka. Kemunafikan yang nyata dalam kebekuan. Kini semuanya telah berakhir, malam telah terkubur dengan pekatnya dendangkan suara-suara sumbang yang menidurkan kekecewaanku.

Meski aku sadar bahwa kesabaran itu adalah rasa yang tak berbatas, tapi aku bukanlah malaikat. Aku hanya manusia biasa jadi amatlah manusiawi bila ternyata akhirnya aku menyerah juga. Di balik kepahitan tausiyah ini, jujur aku merasakan keindahan ukhuwah yang luar biasa dan tarbiyah untuk memaafkan.

Sampai jumpa kawanku... semoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.

(dedicated to someone who let me down)

                                     

Ini adalah satu dari sekian banyak tempat yang memberikan pelajaran dalam hari-hariku. Hari dimana aku keluar dan bertemu dengan orang yang lebih pandai, maka aku belajar dari dia, itulah hari manfaat dan keberuntunganku. Hari aku bertemu dengan orang yang kurang pandai, lalu aku mengajarinya, itulah hari pahalaku. Hari dimana aku bertemu dengan yang ilmunya seimbang denganku lalu aku berdiskusi dengannya dan itulah hari tambahan pelajaran untukku. Hari aku bertemu dengan yang ilmunya dibawahku tapi dia merasa lebih pandai maka itulah hari istirahatku.

Aku belajar dari hidupku sendiri. Bila aku hidup dalam permusuhan, aku belajar berkelahi. Bila hidup dalam ejekan aku belajar untuk malu. Bila aku hidup dipermalukan, aku belajar merasa bersalah. Bila aku hidup memalukan, aku belajar tahu diri. Bila aku hidup dalam dorongan aku belajar meyakini diri. Bila hidupku dalam ketakutan aku belajar berdoa dan beriman. Bila kuhidup dalam kebenaran maka aku belajar menyukai diriku. Dan bila aku hidup dalam kehangatan dan persahabatan, aku belajar menegakkan dan memberi kedamaian dalam duniaku.

Hidup ini hanya sepenggal perjalanan. Mengawalinya dengan baik memang sulit tetapi mengakhirinya dengan baik jauh lebih sulit.

                                            

Hosted by www.Geocities.ws

1