Chapter 2 : 1993 - 1999

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cinta merupakan cermin bagiku yang sedang jatuh cinta.

Untuk mengetahui watak dan kelemahlembutan diriku dalam citra kekasihku. Karena sesungguhnya aku tidak jatuh cinta kecuali terhadap diriku sendiri.

Kudapati kekaguman dalam sorot dua matamu. Kurasakan bagai bicara tentang sebuah pesona. Itu yang pertama waktu kumelihat kehadiranmu. Kucoba memahami apa arti senyum manis di bibirmu yang mendidihkan seluruh peluhku. Bahwa itulah yang membawa kau dalam ingatan tentang cinta pertamaku.

Sosok mungilmu itu menggodaku... membuatku luluh... menggairahkan... membangkitkan sebuah rasa, bahwa kaulah karya Tuhan yang terindah yang pertama merangkup kalbuku.

Pada mulanya cintamu adalah kekuatan rahasia yang menyimpan kelembutan dan kehangatan hati, kemudian rahasia itu diberi makna dan pertemuan kita adalah awal yang sederhana.

 

 

 

 

 

 

 

Hari demi hari pun kian berlalu jauh. Tiba-tiba saja prahara datang menghantamku, menerjangku... akupun hancur lantak bagai butiran debu. Kuakrabi sebuah sepi, kupelihara sebuah rindu, dan kurangkum kesabaran dengan sepenuh kasih. Haruskah kupertahankan sebuah cinta yang melayang karena ulahku sendiri? Sementara kau telah pergi dengan lukamu tinggalkanku sendiri.

Disini kuberdiri dalam bayang kelabu mengharapkan kau kembali. Namun kan kusadari segera atau nanti semuanya hanya tinggal indah kenangan saja. Menelusuri heningnya malam... hari-hariku pun terlewatkan. Aku hanya bicara berteman khayalan dan sama sekali tak mendapatkan jawaban. Ini bukanlah akhir segalanya. Bumi masih akan terus berputar dan tak ada satupun yang abadi didalamnya. Biarkanlah kenangan itu menjadi pelangi menghiasi langit hatiku.

Terima kasih cinta, untuk semuanya...untuk rasa yang tak bertempat, untuk rasa yang tak menentu, untuk rasa yang tak tahu itu apa, bahkan untuk rasa yang tak pernah ada.

( dedicated to my first love … and all ex-girlfriends )

 

Hosted by www.Geocities.ws

1