Chapter 1 : 1981 -1993

meski kupijaki,yang memaksaku untuk harus memainkan satu peranan didalamnya. Bersiap-siap mengarungi pahit manis getirnya kehidupan ini. Lahir dari rahim wanita teristimewa di sepanjang sejarah hidupku nantinya. Aroma darah segar menusuk masih tercium dari tubuhku yang merah.

Ya, lagi-lagi aku... dengan ketelanjangan jiwa aku hadir apa adanya. Kalaulah aku boleh protes pada Allah SWT, pastilah aku protes pada-Nya. Aku ingin sekali terlahir sempurna, dengan tubuh yang sehat, otak yang cerdas, wajah yang memancarkan aura... tapi siapalah aku ini? Siapakah Dia? Inilah yang disebut sunatullah. Tidakkah kau rasa tatapan di mataku ini? Masih adakah yang tersisa? Ternyata kurang apa aku ini.

Hmm... memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi dengan alasannya. Itulah takdir yang digariskan oleh-Nya. Ya, Dia takkan menanyakanku apakah aku mau menerima hidup, karena itu bukanlah pilihan. Semantara pilihanku hanyalah mengenai bagaimana caranya hidup.

 

 

 

 

 

             

  

 

 

                                       

             

 

     

 

Siang menjemput malam. Ketika para biarawati melangkah menuju arah suara lonceng gereja yang berada di sisi kanan RS St. Carolus, menuntun butir-butir rosario menapaki setiap lantai putih kamar bersalin, zuster-zuster berseragam abu-abu dan berkerudung putih concern membantu persalinan seorang ibu yang sedang hamil tua.

Ya, itulah awal permulaan aku menatap dunia ini, dunia fana yang sebenarnya sama sekali tak pernah kuinginkan sebelumnya namun

Kini hadirku takkan kusesali lagi. Mata beningku masih menatap dengan sorot keluguan yang terbungkus dalam tubuh mungil penuh keceriaan. Pandanganku jauh tinggi di awan. Pesona senyum polosku sungguh indah dengan segala cerita. Inginku mendengar suara hatiku agar kutahu pasti apa yang seharusnya kujalani.

Kuteringat selalu akan masa kecilku dulu, bahagia berlalu, membawa kujauh ke alam tidurku. Telusuri perlahan dalam sanubariku dan temui jawaban yang selalu ada bersama mimpiku. Aku merangkak, berjalan, berlari, dan jatuh… mencari arti bahagia.

Dan senyum itu kembali merekah saat kutemukan dunia lamaku yang sarat nuansa gaya canda nakal bersama sosok-sosok kecil sepermainanku. Ingin rasanya tersenyum menyaksikan sosok kecilku itu bergerak lincah di antara dahan-dahan pohon sawo yang terpaku kokoh di atas tanah. Aku bisa merasakan rasa itu… ya, debaran hempasan angin semilir yang menyapu rambut tipisku saat kucapai puncak pohon sawo seraya menatap langit dari ketinggian. Hamparan sawah itu yang sempat melumuriku dengan lumpur dan hisapan lintah. Air sungai itu yang sanggup membenamkanku dalam sejuta angan… hmm, namun kini tak lagi kudengar rimbanya dimana pohonku, dimana sawahku, dimana sungaiku,… dimana teman-teman kecilku.

Selamat tinggal ilalang… kan kuingat gesekan mesramu saat kau cumbu mesra mentari yang masih menyisakan sejarah kecilku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1