prologue      chapter1    chapter2    chapter3    chapter4   guestbook   rendezvous    epilogue

Inilah perempuan yang memperkenalkan dan memberikan arti cinta padaku disaat-saat terindah bahkan disaat-saat terpahit sekalipun. Saat kuterkulai jatuh ke tanah dan berjalan tak tentu arah, menahan lapar dan amarah hingga mengingatkanku akan kerinduan masa lalu.

Dimanakah kau Ibu? Saat kubutuh susumu? Segarkanlah aku kembali dengan kasihmu. Haruskah aku berlari Ibu? Hanya untuk dapatkan hangat belai cumbu kasihmu? Tuntunlah aku, kenyangkanlah aku, letakkanlah kulagi dalam relung tubuhmu, Ibu. Kokohnya cinta yang kau berikan membuatku tetap bertahan sampai hari ini.

Ingin kuhadirkan rasaku agar tiada sepi yang datang hingga aku dapat menarik garis lurus ke depan, agar kita dapat mengenangkan saat-saat lalu bersama. Tiada lagi yang kuharap darimu karena telah cukup kau berikan kedewasaan padaku.

Semoga kesabaran dan kesetiaanmu mewujudkan kebahagiaan.

( dedicated to my Ibu )

Usia yang terbentang diantara kita terkadang membuatku terseok mencari arti sebuah jati diri. Lelah rasanya aku menggapaimu. Terlalu jauh kau berdiri sementara aku jatuh bangun untuk sekadar mengikuti pijakanmu. Entahlah… mengapa jarak itu begitu jauh walau aku yakin kasih sayangmu takkan pernah lekang karena hal itu. Tapi kenapa kesendirian ini masih saja terasa.

Aku terpesona akan keindahan duniaku, dunia yang makin menjauhkanku dari kalian semua. Uluran tanganmu yang mengangkatku kala kujatuh, doronganmu yang membangkitkanku kala kutertatih, perilakumu mengajarkanku akan kerasnya hidup… mungkin hanya keegoisan yang selama ini mengikatku dalam bentangan waktu. Tapi semoga saja mataku masih bisa menatap, hatiku masih sanggup merasakan akan tulus dan sucinya kasih sayang dan indahnya persaudaraan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wajah sayu... pudar sudah rasa. Mestinya kusadari bahwa setiap desahan napasku ini tercipta dari benih mereka. Setiap denyut jantungku ini terhentak dari setiap tetesan keringat Abah. Yang mengalir perlahan dari ujung rambutnya yang memutih... mulai membasahi sekujur tubuhnya hingga ke telapak kakinya yang lebar... hingga ke sela-sela jarinya yang mulai menampakkan urat-urat kelelahan.

Mestinya sejak awal kusadari pula bahwa setiap tetesan darah yang mengalir di tubuhku ini tercipta dari belai kasih tangan kasar Ibu, wanita awam yang sama sekali tak mengerti hiruk pikuknya dunia luar. Tetapi melalui pelukan eratnya, begitu dalam kurasakan bagaimana ia mengajariku apa itu A apa itu B, jangan A jangan B, harus A harus B.

Ya, mestinya kusadari ternyata dua sosok manusia inilah yang pertama kali telah menuntunku menembus dimensi, menembus ruang dan waktu, menembus batas relung sukma, menembus setiap tabir yang menghalangi pandanganku.

Merekalah yang telah memberiku hidup!!! Bahkan merekalah hidupku itu. Semoga.

 

 

 

 

 

Aku terpesona akan keindahan duniaku, dunia yang makin menjauhkanku dari kalian semua. Uluran tanganmu yang mengangkatku kala kujatuh, doronganmu yang membangkitkanku kala kutertatih, perilakumu mengajarkanku akan kerasnya hidup… mungkin hanya keegoisan yang selama ini mengikatku dalam bentangan waktu. Tapi semoga saja mataku masih bisa menatap, hatiku masih sanggup merasakan akan tulus dan sucinya kasih sayang dan indahnya persaudaraan.

 

Hosted by www.Geocities.ws

1