ketika ini hanya sebuah cerita
Hujan, kopi dan laptop.Tiga hal itu sudah cukup untuk membuatku merasakan indahnya hidup. Apalagi apabila ketiganya hadir di tempat, waktu dan kondisi yang sama, seperti yang terjadi sekarang ini. Harmoni musik sederhana namun menenangkan mengalun dari hujan yang berderai di luar.Semerbak aroma kopi lengkap dengan uap mengepul memenuhi ruang sederhana yang nyaman. Sebuah laptop bercasing orange plus baterai dan sinyal koneksi internet yang mendekati level full terduduk manis di pangkuan seorang remaja berkacamata minus.Inilah saat-saat yang kusebut ‘Paradise’. Surga Dunia. Ya, karena hanya disaat seperti inilah aku bisa mengekspresikan diriku sendiri.Apa saja bisa kulakukan, apapunitu ..contohnya membuat puisi, lagu, mengakses social network yang kupunya, bahkan mengkhayal. Memang, hal yang sangat kusukai disaat seperti ini adalah mengkhayal, karena…ya ..dengan mengkhayal aku bisa menjadi apapun yang aku inginkan, membayangkan hal apa yang akan terjadi dihari esok… ataupun, masa depanku kelak. Ah…memang asyik memikirkan hal-hal yang belum terjadi dalam kehidupan ini… tak pernah ada rasa bosan, jenuh ataupun risau… hinggatak terasa detik demi detik pun terus berlalu, seakan menemani rintik-rintik hujan yang tengah berlomba menuju ke bumi nan indah ini. Seiring berjalannya waktu, melodi indah itu mulai tak terdengar, ‘apakah hujan telah berhenti?’ pikirku. Aku pun terpaksa menghentikan kegiatan-kegiatan yang membuatku ketagihan ini.
Kulangkahkan kakiku dengan malas untuk melihat indahnya pekarangan rumah yang baru saja diguyur oleh tetes demi tetes air yang mungkin berasal dari surga itu. Kuarahkan pandanganku kesekitar rumah dan menghirup udara sekencang-kencangnya.Kurasakan aroma khas tanah basah akibat hujan ini. Begitu manis menurutku. Beberapa saat aku sangat menikmati aktivitasku itu sampai pada akhirnya aku kembali teringat dengan kenangan buruk yang pernah menimpaku dimasa lalu, kenangan yang sangat membuatku terpuruk, mengoyakkan perasaan dan jiwaku, menepis semua kebahagian yang kumiliki, mengukir sebuah luka yang begitu mendalam didalam sini! Ya, didalam hatiku yang terus menjerit ini.Kucoba untuk tetap tegar dengan situasi ini.Situasi yang sangat membebaniku dan terus bergantian menghantui hari-hariku hingga menjadi gelap gulita.Perasaanku kacau.Sedih, marah, kesal, prihatin semuanya menjadi satu sepertimagma yang telah siap meluncur dari dalam gunung berapi.Emosiku mulai memuncak, menyeruak keluar seakan berbaris di benakku, menyibakkan seluruh perasaan jiwa.Sampai pada akhirnya kurasakan panas yang mendalam di mataku. Aku tak bisa menahan semuanya lagi, sudah cukup keterpurukan menimpaku, aku ingin mengakhirinya secepat mungkin, aku terisak tak bisa lagi menahan beban yang mengerikan ini, hingga kulampiaskan emosiku dengan meneteskan air mata dipipi kecilku sejadi-jadinya, menahan detak jantung yang berdegap sangat kencang dampak dari amarahku yang memuncak dan tak terkendali.Kutarik nafasku perlahan tapi pasti, mencoba menenangkan pikirianku yang entah sangat kacau ini… kucoba tuk mengingat masa-masa bahagia yang pernah kualami agar dapat mengurangi rasa amarah dan sedih yang mendalam ini walau hanya sedikit.Kuangkat tubuhku yang terasa berat ini dan menenangkan pikiranku dikamar kecil yang sangat nyaman bagiku.
2 minggu telah berlalu, artinya aku akan segera kembali ke tempat dimana aku menuntut ilmu. Akan kembali disibukkan dengan semua tugas-tugas yang akan segera menerkamku. Sebetulnya, aku sangat tidak ingin kembali ketempat laknat yang telah merusakku itu.Tapi, apa boleh buat, aku tak bisa mengatakannya pada siapapun atau akulah yang akan terkena getahnya nanti. Jika boleh aku berharap, aku ingin Tuhan membalas perbuatan orang itu dengan balasan yang setimpal. Bahkan jika boleh, lebih parah dari apa yang telah ia perbuat kepadaku.
“Pagi amat.”Katanya kepadaku.
“Bukan urusanmu!”Jawabku ketus. 1 2 3 4

