Sunarya,
sebut saja pelajar SMU itu begitu, dikeluhkan orang tuanya kurang akrab
dengan buku pelajarannya. Ia sering keluyuran bersama teman-temannya
pada jam-jam sekolah tanpa tujuan jelas. Yenny yang sudah mahasiswi juga
begitu. Kalau diajak melakukan diskusi ilmiah, jawabannya sering kali
"Ogah ah!". Bahkan, Jono yang masih menganggur pun enggan
bangun pagi untuk segera mencari informasi lapangan kerja atau berusaha
membuka lapangan kerja sendiri.
Tampak
ketiganya seakan-akan tak memiliki gairah untuk beraktivitas. Orang
menyebut "gejala" macam ini sebagai malas, yang dalam
psikologi dimasukkan sebagai salah satu bentuk perilaku.
Kalau
kita simak Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud malas adalah
tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu, segan, tidak suka, tidak
bernafsu. Dari kacamata psikologi, menurut Dr. Sukiat, menunda pekerjaan
atau menyelesaikan tugas tapi tidak sesuai waktu yang sudah ditetapkan
saja sudah bisa disebut perilaku malas. Muara perilaku ini sudah tentu
penurunan produktivitas yang bersangkutan.
Pada
era globalisasi, perilaku malas bisa merugikan yang bersangkutan. Sebab,
pada era itu berlaku sistem nilai "siapa yang mampu dan mau bisa
produktif dan menyesuaikan diri". Bayangkan saja, prestasi atau
produktivitas macam apa yang bakal dicapai Sunarya, Yenny, atau Jono
bila terus berperilaku semacam itu. Tapi, perilaku ini bukanlah kartu
mati yang tidak bisa diubah.
Persepsi
dan niat ingsun
Menurut
Dr. Sukiat, seseorang bisa berperilaku malas terhadap suatu pekerjaan
atau kegiatan karena dia tidak memiliki motivasi untuk melakukan
pekerjaan atau kegiatan itu. Dalam psikologi, seseorang berperilaku
tertentu karena adanya energi yang mendorongnya untuk berperilaku.
Energi inilah yang disebut motivasi, yakni hal yang mendorong seseorang
bertingkah laku mencapai suatu tujuan. "Orang Jawa sering
menyebutnya sebagai niat ingsun," jelas Sukiat.
Motivasi
dipengaruhi oleh suatu sikap yang terdapat dalam diri orang itu. Sikap
yang bisa positif atau negatif itu timbul lantaran adanya persepsi atau
pemberian makna terhadap suatu objek atau peristiwa. Persepsi atau
pemberian makna tersebut ditentukan oleh suatu sistem nilai, yakni suatu
patokan untuk berperilaku yang berlaku pada suatu lingkungan tertentu.
Sistem nilai yang tertanam dalam diri seseorang ini dipengaruhi oleh
budaya, masyarakat, dan orang tua.
Dalam
hal ini, malas belajar, berdiskusi, atau mencari pekerjaan yang
ditunjukkan Sunarya, Yenny, atau Jono, terjadi lantaran mereka tidak
memiliki motivasi untuk melakukan tugas di depan mereka. Ini akibat
sikap mereka terhadap kegiatan itu negatif atau positif-negatif. Sikap
tersebut muncul karena di benaknya tertanam persepsi yang salah terhadap
tugas-tugas tadi. Umpamanya, belajar atau berdiskusi itu melelahkan atau
tak ada gunanya, dan mencari kerja buang-buang tenaga saja bila tidak
punya koneksi. Persepsi macam itu bisa terjadi kalau dalam keluarga atau
lingkungan di sekitar mereka kurang tertanam budaya belajar, berdiskusi,
atau hampir semua rekan mereka memperoleh pekerjaan berkat bantuan orang
lain atau uang sogok.
Sukiat
memberi contoh lain. Salah satu etnis di Indonesia terkenal rajin dan
serius dalam bekerja. Perilaku ini muncul lantaran mereka memiliki suatu
sistem nilai bahwa kalau ingin hidup layak, mereka harus bekerja keras.
Sistem nilai itu telah ditanamkan oleh orang tua sejak kecil dalam
perilaku sehari-hari, baik dalam memarahi, memberi nasihat, atau memberi
suatu contoh. Lingkungan budaya etnis ini juga memberikan teladan.
Mereka yang hidup layak ya karena mereka bekerja keras. Sebaliknya, yang
berkekurangan lantaran tidak mau bekerja keras.
Dengan
sistem nilai itu, mereka mempunyai persepsi atau memberi makna bahwa
pintar menjahit, membuat tahu, atau berdagang, bakal bisa menghidupi
mereka. Bukan menyengsarakan. Jadi mereka akan serius dalam melakukan
tugas itu. "Mereka percaya, apa saja bisa menjadi duit, asal
dikerjakan dengan sungguh-sungguh."
Dengan
begitu, sikap mereka dalam bekerja sangat positif. "Kalau
mengerjakan sesuatu, niat mereka sangat kuat, energinya kuat. Akhirnya,
mereka berperilaku rajin bekerja."
Contoh
lainnya, karyawan suatu kantor yang "menganut" nilai RMS
(rajin malas sama saja) bakal menjadi malas melakukan tugasnya. Ketika
pindah ke kantor yang nilai profesionalismenya dijunjung tinggi,
perilakunya pasti berubah. "Karena di kantor seperti itu sistem
nilainya: 'Kamu bekerja baik, imbalannya baik. Kamu tidak bekerja,
prestasi rendah, imbalannya juga rendah, kalau perlu di-PHK'. Jadi
persepsinya, pekerjaan adalah sesuatu yang bisa meningkatkan penghasilan
saya dan bisa menghidupi saya. Karena pemberian maknanya seperti itu,
maka sikapnya terhadap suatu pekerjaan jadi positif. Akhirnya, motivasi
jadi kuat, kerjanya rajin. Tetapi kalau sikapnya positif, sedangkan
lingkungannya tidak mendukung, ada diskriminasi misalnya, sikapnya bisa
menjadi negatif, motivasinya berkurang, sehingga dia bisa menjadi malas,
bahkan keluar," jelas psikolog yang penah mengasuh rubrik pasutri
di sebuah majalah ibu kota ini.
Bisa
diubah
Kalau
seseorang malas terhadap suatu pekerjaan, artinya motivasi dia terhadap
pekerjaan tersebut sangat rendah. Sikapnya terhadap pekerjaan itu
negatif akibat persepsi yang diberikannya terhadap pekerjaan itu kurang
baik. Ini lantaran sistem nilai yang ada dalam dirinya membuat dia
berperilaku malas untuk melakukan pekerjaan itu. Sementara terhadap
pekerjaan lainnya mungkin tidak begitu.
Jadi,
perilaku malas, menurut Sukiat, merupakan hasil suatu bentukan. Artinya,
perilaku itu bisa dibentuk kembali menjadi baik atau tidak malas.
Salah
satu bukti bahwa perilaku bisa dibentuk lagi bisa ditemukan pada pelaku
tindak kriminal seperti pembunuh atau perampok. Ada mantan narapidana
kini menjadi tokoh agama atau pengusaha yang baik. Padahal, dulunya
mereka perampok, pembunuh, atau pelaku tindak kriminal lain. Atau
sebaliknya, orang baik-baik berubah jadi berperilaku buruk.
Pembentukan
kembali perilaku seseorang tadi sebetulnya sangat besar dipengaruhi oleh
lingkungan di sekitarnya, bisa orang tua, teman, atau orang lain di
sekitarnya. Lingkungan yang bisa memberi pengaruh lebih kuatlah yang
bisa membentuk seseorang. Umpamanya, seorang remaja lebih banyak
waktunya bertemu atau lebih dekat dengan teman-temannya ketimbang orang
tuanya. Teman-temannya termasuk kelompok remaja yang malas. Maka, dia
lebih mudah terbentuk menjadi anak malas ke sekolah meskipun sebelumnya
dia termasuk murid yang tak pernah bolos.
Biasanya,
kalau itu terjadi, orang tua lalu menyalahkan si anak karena tidak mau
mencontoh orang tua. "Padahal, si orang tua sendiri lupa untuk
menanamkan persepsi bahwa belajar itu penting atau mempunyai arti bagi
hidup si anak. Biar disuruh belajar, belajar, anak bisa saja menolak
karena tidak tahu tujuan belajar itu untuk apa?" tambah Sukiat.
Bagi
orang tua yang mengalami masalah seperti itu tak perlu risau. Seseorang
yang telanjur berperilaku malas bisa dibentuk kembali menjadi tidak
malas. Namun, itu tergantung anak atau orangnya. "Kalau anaknya
masih SD, ya masih mudah dibentuk. Tapi kalau anak remaja, umumnya apa
yang dikatakan orang tua, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Jadi,
yang harus kita bentuk adalah lingkungan teman. Peer group-nya kita
rangkul dan pemberian makna terhadap suatu pekerjaan atau sekolah harus
kita ubah. Yang tadinya 'belajar itu suatu kewajiban sekolah' diubah
menjadi 'dengan belajar di sekolah dia bisa hidup'," jelas dosen
Fak. Psikologi UI ini.
"Jadi
dalam mengubah perilaku seseorang, yang paling mendasar adalah mengubah
persepsinya. Untuk itu, perlu mempelajari dan mengambil sistem nilainya
yang bisa mengubah persepsinya atau memberikan sistem nilai lain yang
baru baginya," tambahnya.
Jadi,
perilaku manusia pada dasarnya dapat diubah. "Namun, ada hal yang
tidak dapat diubah, yakni perilaku-perilaku yang erat kaitannya dengan
fisik," jelas Sukiat. Misalnya, seseorang yang berkaki panjang
sebelah. Kalau dia disuruh berperilaku jalan normal, dia tidak bakal
bisa melakukannya. Seseorang yang memiliki penyakit tekanan darah
tinggi, dia akan mudah marah atau waswas. Ini juga tidak dapat diubah.
Seseorang yang kecerdasannya rendah karena sel-sel otaknya tidak
berkembang dengan baik ketika masih kecil, sulit melakukan pekerjaan
yang mengandung pemecahan masalah. Jangan beri dia tugas seperti itu.
Anak
yang tingkat kecerdasannya rendah, relatif sulit untuk di-charge
(dimotivasi) menjadi rajin. Kalau dia tidak mampu dalam hal pelajaran
matematika, sudah tentu energi untuk belajar matematikanya juga kurang.
Ujung-ujungnya, perilaku yang ditampilkan adalah malas belajar
matematika atau bahkan malas sekolah.
Ada
juga anak yang mampu, tapi orang tuanya membandingkan kepintarannya
dengan kakak atau adiknya. Lama-lama akan terbentuk konsep diri yang
negatif. Akhirnya, dia memberikan makna pada matematika sebagai sesuatu
yang sulit. "Padahal sebenarnya dia mampu. Tapi karena
lingkungannya menganggap dia tidak mampu, sikapnya terhadap matematika
menjadi negatif, energinya kurang dalam mengerjakan matematika, sehingga
dia jadi malas-malasan terhadap pelajaran itu."
Teori
pembiasaan
Ada
beberapa teori yang bisa digunakan untuk melakukan pembentukan perilaku
seseorang, di antaranya dua teori pembiasaan yang dikemukakan oleh
Dollard & Miller dan Bandura, ketiganya psikolog dari AS. Teori ini
kira-kira senada dengan pepatah "Ala bisa karena biasa".
"Yang
paling cocok untuk saya, teori belajar. Bagaimana kita memberikan
stimulus (rangsangan) supaya terbentuk suatu respons atau perilaku.
Bagaimana stimulus itu menjadi cue (stimulus dalam dirinya yang
mengarahkan untuk berbuat), sehingga menimbulkan suatu drive (dorongan)
untuk berperilaku. Kalau berhasil, dia akan mendapatkan reward
(imbalan)." Ini teori Dollard & Miller.
Teori
lain yang dikemukakan Bandura sering disebut teori panutan. Dalam teori
ini ada stimulus dalam bentuk oral atau visual yang diberikan oleh
seorang model atau tokoh. Stimulus ini disimpan atau diingat, dan suatu
saat akan dilakukan sebagai suatu perilaku. Dari tindakannya dia akan
mendapatkan suatu reward. "Ini lama-lama menetap," kata
Sukiat.
Contohnya,
dalam suatu keluarga orang tua giat bekerja dan selalu menasihati anak
untuk mencapai prestasi. Anak, yang melihat orang tuanya bekerja keras
(visual) dan sering memberikan nasihat atau cerita (oral) soal perlunya
bekerja keras, akan timbul persepsi bahwa sesuatu itu dapat diperoleh
dengan kerja keras. Dari sana bakal terbentuk tingkah laku kerja keras
dalam diri anak. Bisa jadi pemberian makna atau persepsi soal pentingnya
belajar, mengikuti diskusi ilmiah, atau berusaha mencari pekerjaan,
tidak ditemukan dalam diri Sunarya, Yenny, ataupun Jono. (Gde/Masitoh
EO)
q
Sumber : http://www.indomedia.com/intisari/1997/april/malas.htm