Kompas
"Kak, kemari sebentar!"
"Ada apa?"
"Ayo lihat pake teleskop ini."
"Antariksa yang terbentang malam ini memang sangat indah, dihiasi dengan ribuan bintang yang membentuk dua belas rasi bintang, serta bentuk bulan yang sedang dalam keadaan sempurna menambah kekaguman kakak. Tapi terkadang ini membosankan."
"Lah, kenapa membosankan Kak?"
"Karena kakak pengennya lihat bumi dari bulan."
"Haha, kakak ada-ada aja, yah gak bisa lah Kak."
Jarum pendek arloji kesayanganku telah mengarah ke angka 10, sudah waktunya Kak Peter pulang kerumah. Setelah mengantar Kak Peter ke depan pintu, dan melambaikan tanganku padanya serta memberikan senyuman selamat malamku, aku langsung menaiki tangga menuju ke dunia antariksa pribadiku, yaitu kamarku.
Aku duduk di kelas 10, aku adik kelasnya Kak Peter atau lebih tepatnya aku pacarnya, tak terasa sudah hampir setengah tahun kami pacaran. Sebentar lagi Kak Peter akan menghadapi sesuatu yang datang dengan cepat sekali dengan ciri khasnya yang sangat unik, yang membuat hampir semua orang menjadi gempar karenanya, ya Ujian Nasional. Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu hal yang membuat lengkungan di bibirku, dan memunculkan dua bolongan kecil di kedua pipiku, yang membuat orang-orang berpendapat kalau aku manis.
Gajah Kampung
Adat Penghulu berpadang luas dan beralam lapang
Bagai Bung Karo dan Bung Hatta ,mereka yang kami inginkan
Angguk anggak geleng mau, unjuk tidak diberikan
Itulah kalian semua, wahai Tuan Berdasi
Yang berlenggang di atas singgasana
Tak air peluh diurut, tak air talang dipancung
Hal itu membuat kami semakin benci kepada kalian semua
Di alang bagai memengat, karena kami akan menuntut piutang kalian
Kalian mungkin berpikir, kalian bagai menyimpan api dalam sekam?
TIDAK! Kalian sudah salah besar!
Kalian itu bagai meletakkan api di bubungan
Asal kalian tahu Wahai Tuan Berdasi
Bondong air bondong dedak
Jadi janganlah menjual tangkai pungkur dedap
Jika ribuan Tuan Berdasi sama saja
Tak heran banyak penjual tangkai cangkul sekan
Banyak yang menahan jerat di tempat genting
Sehingga membuat kami terbeli di petai hampa
Kalian bagaikan gajah yang masuk kampung
Merampas yang dimiliki beta dengan silatan lincah lidah kalian
Kalianlah lembu punya susu
Sedangkan kami hanyalah sapi punya nama
Bisikan Sang Putri
Dalam hidupku, aku sudah mengenal ribuan boneka. Dan menurutku tak satupun dari boneka itu bukan pemain film yang hebat. Dan kalau aku memang boleh jujur, aku juga termasuk diantara boneka-boneka yang pernah ku kenal itu. Banyak juga dari boneka itu yang gagah perkasa, namun sayangnya beberapa dari mereka adalah boneka buta yang memasang topeng transparan di wajahnya dengan alat perekat. Boneka buta itu selalu mencoba untuk dekat dengan ku. Aku memang boneka yang bodoh. Aku adalah dalang disini, aku juga yang menentukan bonekaku akan berjalan ke arah mana, tetapi kenapa aku yang sebagai boneka disini tetap berjalan ke arah jalan yang sesungguhnya itu tidak baik untuk masa depanku. Yah, itu sudah merupakan takdir yang telah ditulis oleh Ketua Dalang di buku peradabanku. Aku hanya bisa memilih dan menjalankannya saja. Tetapi sayangnya aku selalu berjalan ke arah yang tidak sepantasnya aku lewati. Aku sudah tahu bahwa jalan itu penuh belokan, penuh tanjakan, penuh turunan, dan jalanan itu juga terbuat oleh tanah liat merah yang licin, dan terkadang juga ada batu-batu koral kecil yang bertebaran di tanah itu, yang akan membuat kaki boneka itu terasa sangat sakit, aku sudah tahu itu semua dari awal. Tetapi pada nyatanya, aku merupakan boneka yang terlalu pemberani sehingga aku mau melalui dan merasa harus mampu melaluinya apapun resiko yang harus aku ambil. Ingin aku berteriak dan bertanya kepada orang-orang "KENAPA AKU BEGITU BODOH?" Sehingga aku dengan begitu mudah membiarkan boneka-boneka itu tetap masuk ke dalam ......
Kopi dengan Garam
Di suatu senja, nampak seorang pria bernama Nando merasa sangat gugup, karena ini adalah pertama kali baginya untuk nge'date sama cewek, apalagi cewek satu ini adalah cewek yang fashionable banget, dan emang populer di sekolah. Banyak yang kebingungan mendengar kabar bahwa mereka akan nge'date bareng, gimana enggak, sesosok pria cupu yang gugup bisa jalan sama cewek kayak Raisha. Tapi gak bisa dipungkiri, toh emang pada kenyataannya mereka jalan bareng. Waktu terus berjalan, pelayan pun menghampiri mereka, dengan spontan si Nando memesan Kopa dengan garam, bukan dengan gula. Segala mata tertuju padanya mendengar apa yang telah dipesan Nando kepada pelayan itu. Raisha pun nanya sama si Nando, "Nando, kenapa kamu suka kopi asin?", kemudian dengan pede Nando menjawab, "Kalau meminum kopi asin itu, mengingatku dengan masa kecilku. Dulu, aku pernah tinggal di pinggiran pantai untuk beberapa tahun bersama nenek, karena pada saat itu orangtuaku sedang bekerja. Jadi, yah begitulah, kamu tahu bukan rasa air pantai itu asin?." Raisha pun menganggap hal itu biasa.
Sehingga pada suatu hari, mereka jadian dan melanjutkan hubungan mereka ke pelaminan. Yah, mereka nikah dan hidup bahagia. Dan tak lupa juga dengan kopi asin yang selalu disiapkan Raisha di atas meja makan setiap pagi, saat Nando mau pergi bekerja. Ketika pada suatu malam, Raisha mendapat telepon bahwa Nando mengalami kecelakaan dan saat itu sedang berada di rumah sakit. Raisha langsung menyalakan mobilnya dan berniat menuju ke rumah sakit saat itu juga. Namun, Raisha terlambat. Nando sudah pergi dan tak akan bisa kembali. Lalu, temannya Nando bernama Dodi memberikan sebuah surat kepada Raisha. Surat itu ditulis Nando sebelum ia pergi untuk selamanya.
"Sayang, maafin aku ya. Mungkin aku terlalu cepat ninggalin kamu. Delapan tahun kita membina rumah tangga itu tidak cukup untukku. Dan aku minta maaf, kalau selama ini aku sudah bohong sama kamu. Aku memang pembohong besar. Aku bohong sama kamu sejak pertama kali kita nge'date di coffee cafe waktu itu. Jujur, aku tidak pernah suka kopi asin. Rasanya sangat tidak enak. Membuat tenggorokanku merasa tercekat, dan perutku terasa mual. Kamu tahu bukan kalau aku orangnya gugup? Jujur aku ingin memesan kopi manis waktu itu, tetapi entah kenapa, mungkin karena aku sangat gugup waktu itu, hingga membuatku salah bicara. Aku sengaja berbohong padamu, tapi itu ku lakukan untuk menjaga hubungan kita. Aku tidak ingin kamu marah kalau kamu tahu aku sudah bohong padamu. Maka karena itu aku tetap meminum kopi asin buatanmu, walau rasanya sangat tidak enak. Tetapi mungkin hal itu menjadi keberuntungan bagiku, karena aku tahu kamu suka sama seseorang yang aneh bukan? Mungkin kopi asin inilah yang mengantarkan kita bertemu dan hidup bersama. Sekali lagi maafkan aku."
Raisha tak dapat lagi menahan air matanya. Butiran-butiran halus mulai jatuh perlahan dengan sendirinya. Raisha tak sama sekali marah pada Nando, ia malah merasa sangat bangga pernah memiliki suami seperti Nando. Sejak kejadian itu, Raisha mulai belajar untuk meminum kopi asin itu, iya kopi yang diberi garam tanpa gula, kopi yang biasanya diminum oleh Nando, sebagai bukti kecintaannya pada Nando.