KOMPAS

    Ocehan itu selalu kulontarkan pada teman-temanku. Hampir seluruh temanku menyukai cowok sombong itu. Baiklah, memang cuma beberapa cowok yang mempunyai karakteristik tertentu yang bisa mendapatkan gelar Raja, tapi sayangnya menurutku dia tidak pantas mendapatkan gelar itu. Aku benar-benar heran, bagaimana bisa temanku menyukai cowok yang kehidupannya sangat tidak jelas. Pernah pada suatu hari, Kak Peter menghampiriku di perpustakaan. Aku suka baca buku, apalagi tentang laut. Aku suka air dalam keadaan apapun, maka karena itu setiap sore aku selalu meniup gelembung air sebanyak-banyaknya, dan sebesar mungkin.

            “Hei!” Panggilnya dengan wajah sok manis.

            “Em, maaf Kak! Bintang pergi dulu.” Jawabku dan langsung menghilangkan diriku dari pandangannya.

            Mungkin dari sebagian orang berpikir bahwa aku adalah salah satu cewek yang paling beruntung saat itu, karena dia sangat memilih seseorang yang dia ajak ngomong, jadi simpulnya dia tidak pernah ngobrol dengan orang yang tidak menarik hatinya. Tapi menurutku, itu malahan jadi bencana yang sangat besar.

            Beberapa bulan kemudian, Kak Peter datang lagi buat mengusik kehidupanku. Semuanya berawal sejak aku menerima kiriman bunga dari orang yang tak bernama. Tidak hanya itu, aku juga sering menemukan secarik surat bertuliskan tinta berwarna hitam di laci meja sekolahku, yang berisi puisi-puisi tentang cinta, tapi menggunakan istilah tentang dunia antariksa. Rasanya aku tahu siapa pengirimnya, sempat aku merasa GR akan kata-kata yang ia rangkai dengan sangat indah, tapi aku akan tetap bersikukuh kalau hal yang aku pikirkan ini tidak benar dan tidak akan pernah terjadi. Tiba-tiba pangeran misterius itu datang dan menunjukkan siapa diri dia yang sebenarnya.

            Saat itu ketika aku mau pergi ke acara perpisahan  tahun angkatan Kak Peter, di depan pintu ada setangkai mawar dengan dihiasi pita bergambar bintang. Mawar itu menunjukkan ke suatu arah yang aku tidak tahu sebenarnya kemana. Tiba-tiba di hadapanku ada seorang cowok yang selama ini aku benci, dan benar-benar tidak aku sukai, iya dialah Jupiter Pradana. Entah kenapa aku tidak bisa memandang wajahnya, seketika jantungku bergetar dengan cepat, bola mataku berputar menatap tak tentu arah, pikiranku melayang-layang kemana saja. Lalu, dia menyuruhku menatapnya.

            “Kamu kenapa? Kaget ya kalau ini kakak?”

            “Em, sebenarnya mau kakak apa sih?” Tanyaku dengan lantang, mencoba untuk menutupi apa perasaanku sekarang, walau aku tahu hal itu tak bisa ditutupi.

            “Sudahlah, Bintang pergi kesana bareng kakak aja, ya?”

            “Tidak usah Kak, Bintang bisa pergi sendiri kok.”

            “Bintang, kali ini aja.” Dia benar-benar memohon sama aku, dan saat itu juga dia memberikan rangkaian bunga berbentuk bintang.

            Akhirnya, aku tak bisa menolak ajakan Kak Peter. Pepatah memang benar, sekeras-kerasnya batu karang di lautan pasti akan hancur juga karena terjangan ombak yang selalu datang bertubi-tubi. Dan sejak saat itu, aku mulai dekat dengan Kak Peter, kebetulan rumahku sebelahan dengan rumahnya Kak Peter.

            Aku selalu tersenyum ketika aku mengingat kejadian-kejadian lucu itu, apalagi saat itu aku masih duduk di kelas tujuh. Ketika aku selalu pergi meninggalkannya, ketika aku membuat dia malu di depan umum, dan ketika dia memproklamirkan cintanya padaku sebulan setelah aku masuk di SMA Merah Putih. Tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing lagi di telingaku, suara alarm kotak musik pemberian Kak Peter sudah berbunyi , ini berarti sudah saatnya aku tidur.

            Hari ini Kak Peter tidak ada kabar, dan bisa aku akui, aku adalah seorang cewek yang mempunyai tingkat gengsi sangat tinggi. Hingga keesokan harinya pun dia belum memberi kabar, dengan berat hati aku menelponnya. Tapi tetap hasilnya nihil, nomornya tidak aktif, BBM pun gagal, akun facebooknya menghilang, begitu pula dengan twitter. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Kak Peter sudah pindah bersama keluarganya ke Lombok sejak dia lulus SMA. Awalnya hubungan kami baik-baik saja, tapi entah kenapa tiba-tiba dia pergi tanpa ucapan apapun.

            Sejenak terlintas di benakku bahwa aku mungkin bodoh dan memang benar-benar bodoh, bagaimana bisa aku menjalin ikatan kisah klasik dengan seseorang yang sangat ku benci. Mungkin selama ini Kak Peter hanya berpura-pura mencintaiku, dia sebenarnya tidak pernah mencintaiku, dia selama ini hanya menganggapku seperti sebuah boneka yang bisa diangkatnya tinggi-tinggi, dan di lemparkannya begitu saja.

Satu tahun berlalu, hubunganku dengan Kak Peter masih belum ada kepastian. Sehingga pada suatu hari aku jadian dengan seorang cowok bernama Venus, Kak Venus berkuliah di Universitas yang cukup ternama di Indonesia, dia adalah pecinta seni dan sastra. Jalinan cinta kami berawal dari pameran lukisan dunia antariksa di Bandung tiga bulan yang lalu, waktu itu adalah kali pertamanya aku datang ke pameran di luar kota.

Sesaat aku sampai disana ada seseorang bertubuh tinggi dengan perawakan tenang, menuturkan kata-kata dengan berbagai peribahasa untuk menjelaskan apa sebenarnya sastra itu. Tatapannya yang ia tujukan kepada semua orang dihadapannya membuat aku terpukau akan kedewasaan dan pengetahuannya yang luas.

“Hei!

Aku terperanjat keheranan, apakah seorang pria yang berada dibelakangku ini sedang memanggilku, memanggil orang yang tak ia kenal sama sekali, yang tiba-tiba pikiran orang tersebut terpusat ke dia tanpa memperhatikan segala tutur kata yang dia sampaikan barusan.

“Iya kamu, kenapa bengong?”

“Ah, tidak. Aku hanya tidak percaya saja kalau memang aku yang kamu panggil barusan.”

Sejak saat itulah aku semakin dekat dengannya, kebetulan kami mempunyai hobi yang sama yaitu membuat puisi, dan tidak hanya itu, kami juga sering nonton bareng buat nonton film luar di bioskop, apalagi horor atau pembunuhan. Kak Venus tinggal di sebuah rumah kotak yang lumayan luas untuk ditinggali sendiri, dinding-dinding rumah tersebut ia jadikan kanvas sebagai tempat melukis, tidak heran kalau ketika kita melangkahkan kaki kita ke rumahnya, maka kita akan melihat tanah lot dalam bentuk dua dumensi, tata surya yang jauh terasa dekat, puisi-puisi yang ia rangkai membentuk pola-pola yang sangat indah sehingga tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Tiga bulan berlalu, aku rasa hubungan kami sangat membosankan, akhir-akhir ini dia sering marah-marah dengan alasan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Sahabatku pernah bilang kalau kesempurnaan itu bagaikan puzzle, dimana ada tonjolan disitu ada lekukan, sehingga tiap bagian puzzle akan saling melengkapi satu sama lain.

Semenjak kabar tentang Kak Peter akan pulang ke Bogor meluap, sejak itulah Kak Venus berubah total. Sebelum jadian, kabar terakhir yang ku dengar kalau Kak Peter itu sudah punya pacar di Lombok, itulah yang membuat kebencianku bertambah padanya, rasa benci yang dulu hilang kini kembali akan ulahnya sendiri. Dan kini, dia datang kembali memohon cinta padaku, aku sangat bingung dengan sesosok pria pecinta astronomi itu, sebenarnya apa yang ada di benaknya.

“Bintang, kakak mohon, kamu harus percaya sama kakak, selama ini kakak belum ada pacar selain kamu, kamu harus dengerin penjelasan Kakak dulu.”

“Apa lagi Kak? Maaf, sekarang Bintang sudah buka lembaran baru bersama kak Venus. Dan Bintang mohon jangan robek lembaran itu.”

Kak Peter akhirnya tetap menungguku diluar. Jujur aku iba padanya, karena saat ini langit sedang gelap, semut berbondong-bondong mencari tempat untuk berteduh, pancaran kilat dan petir menambah suasana kelam, serta suara gemuruh yang sangat mengerikan, tetapi dia tetap disana. Di sisi lain, aku tidak bisa menghapus rasa benciku padanya, bagaimana bisa dia kembali lagi sedangkan dia sudah menghilang lebih dari satu tahun. Namun aku juga tak bisa membiarkannya sendiri di luar, akhirnya aku menemuinya dan mengajaknya masuk ke rumahku.

“Bintang, biarkan kakak menjelaskan terlebih dahulu. Kamu tahu bukan kalau keluarga kakak tidak mengizinkan kita mempunyai hubungan spesial? Jadi waktu itu setelah mereka tahu kalau kakak masih punya hubungan dengan kamu, kakak langsung dijodohkan dengan seorang perempuan yang tidak pernah kakak kenal sama sekali. Sejak saat itu juga, kakak juga sibuk akan tugas-tugas dari kampus. Semua keluarga kakak termasuk gadis itu juga terlalu perhatian. Kakak dipaksa untuk ganti nomor dan menutup semua akun facebook dan twitter atau apapun itu. Kakak tidak bisa melakukan apapun, kakak mohon maafkan kakak.”

“Kenapa kakak tidak coba lawan? Kakak itu seorang pria yang sudah dewasa. Tidak mungkin kakak tidak bisa melakukan apapun. Kakak bisa ke warung telpon untuk menelponku. Atau kakak juga bisa menelponku dengan menggunakan ponsel pribadi kakak, dan langsung menghapusnya. Atau setidaknya Kakak memberikan kabar sekali dalam sebulan pun itu sudah lebih dari cukup bagi Bintang. Bukan menghilang begitu saja.”

Aku sudah tidak bisa menerima apapun alasan yang Kak Peter berikan padaku, saat itu juga aku memutuskan hubunganku dengan Kak Peter. Kepalaku juga semakin pusing akan tingkahnya Kak Venus belakangan ini. Saat ini aku hanya bisa tenang karena kompas kesayanganku ini. Aku sudah mengenalnya seumur hidupku, dia adalah seorang teman yang selalu ada untukku, dia juga seorang sahabat yang selalu memberikan arah dan tujuan padaku, yang menunjukkan jalan apa yang harus aku tuju.

Suatu hari aku ada kencan sama Kak Venus buat nonton bareng, sekalian perayaan kalau pada akhirnya aku telah melaksanakan Ujian Nasionalku, tapi hari itu menjadi hari terakhir aku bersamanya. Aku sudah menunggunya selama tiga jam di bioskop kesayangan kami, namun ia juga tak kunjung datang dan tak memberi kabar, sehingga suatu ketika Bunga teman SMA ku memberi tahu kalau dia baru saja melihat Kak Venus bersama seorang wanita masuk ke rumahnya. Dan saat itu juga aku langsung pergi ke rumah Kak Venus.

Disana aku melihat dia sedang bersenang-senang dengan seorang cewek yang ia akui sebagai sahabatnya, tetapi setelah aku tanyakan pada gadis itu, maka sekarang sudah cukup aku mengenal Kak Venus. Kata-kata manisnya hanyalah bohong belaka, seharusnya aku bisa melihat itu, kenapa aku bisa buta akan tingkah bodohnya itu, sudah jelas kalau sebenarnya mereka pacaran, dan saat itu juga aku pulang ke rumahku.

Aku berjalan di dalam hujan, aku tak mau seorang pun melihat aku sedang  menangis, bahkan aku tak mau kompasku tahu kalau aku sekarang sedang sangat sedih, sudah cukup ia mendengarkan keluh kesahku selama 12 tahun. Tetapi tiba-tiba aku tidak merasakan kalau kepalaku dijatuhi lagi oleh tetesan air yang jatuh dari langit itu,  ketika ku dongakkan kepala ku ada sebuah payung yang tidak membuatku kehujanan lagi, dan terdapat sebuah bayangan seseorang di hadapanku, aku sudah yakin siapa orang itu, dialah kompasku.

Dia langsung menarik tanganku masuk ke sebuah mobil yang letaknya tak jauh dari tempat aku berdiri, dia juga memberikanku sebuah handuk dan menyuruhku untuk mengeringkan tubuhku. Di perjalanan aku menceritakan apa yang baru saja terjadi, aku sangat kagum pada kompasku satu ini, dia memang seorang sahabat yang tak akan pernah aku lupakan, di saat lelah dia tetap mau mendengarkan keluh kesahku, dengan dewasa dia tetap memberikan saran-saran yang selalu memotivasiku.

Sebentar lagi sekolahku akan mengadakan acara yang sangat aku tunggu-tunggu, dan mungkin bukan hanya aku, tetapi seluruh siswa Merah Putih sangat menantikan acara ini. Kami mulai disibukkan untuk mencari pakaian apa yang akan kami pakai saat acara tiba, beberapa murid bahkan sudah memesan dan membuat gaun tersendiri, dan begitu pula denganku, tiga hari lagi gaun yang ku pesan telah selesai.

Acara malam kelulusan pun tiba. Kami semua sangat bahagia akan adanya acara ini, ini adalah acara yang pasti akan menjadi acara paling meriah sepanjang masa. Aku pergi bersama kompasku, Reynaldo Dimas. Dia menjemputku tepat pukul tujuh sehingga tidak membuat kami telat sampai disana. Tak terasa acara sudah hampir selesai, saatnya penobatan Raja dan Ratu SMA Merah Putih “Baiklah, tanpa harus buang banyak waktu. Inilah Raja dan Ratu kita adalah Reynaldo Dimas dan Bintang Febriyanti.”

Aku sempat tak percaya kalau nama yang baru saja disebut barusan adalah namaku, dan Rajanya adalah kompas kesayanganku Aldo. Kami berdua langsung naik ke atas panggung dan menerima mahkota sebagai Raja dan Ratu SMA Merah Putih. Aldo menyampaikan sepatah dua patah kata akan kesannya menjadi seorang Raja disini, dan tiba-tiba menyampaikan sesuatu hal yamg membuat jantungku berdebar, tanganku dingin, tanpa ku sadari aku sedang menggigit bibirku.

“Bintang, selama ini aku sudah mengenalmu, aku tahu benar bagaimana dirimu, tidak ada hal yang tidak aku sukai dari dirimu. Maukah kamu menjadi pacarku?”

“Iya.”

Akhirnya, tepat pada tanggal 20 Mei aku resmi pacaran sama Aldo, kompas kesayanganku. Aku benar-benar bodoh yang tak pernah sadar kalau orang yang sayang dan mencintaiku adalah orang yang selama ini dekat denganku. Sebuah kompas yang selalu menunjukkan arah untukku hingga aku tidak tertesat, dia juga yang menunjukkan bahwa kesempurnaan itu memang bagaikan puzzle, tanpa kompasku mungkin aku tak tahu jalan mana yang harus aku pilih, aku juga selalu membawa kompasku kemana pun aku pergi. Dan hingga saat ini, akan selalu kusimpan kompasku di dalam hati, kan ku jadikan dia sandaran hatiku, panutan hidupku, dan sumber kebahagiaanku.

Previous Page

 

Coretan si Putri Kecil