Kaum kafir Quraisy makin sewenang-wenang dalam menentang dakwah Nabi Muhammad Saw.. Kemudian mereka membuat undang-undang pemboikotan terhadap keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib serta semua pengikut Nabi Muhammad Saw.. Isi undang-undang pemboikotan adalah sebagai berikut:
- Nabi Muhammad Saw. dan kaum keluarganya serta kaum pengikutnya tidak diperkenankan menikah dengan kaum Quraisy lainnya. (Sosial)
- Kaum Quraisy tidak diperkenankan berjual beli barang dengan Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya serta pengikutnya. (Ekonomi)
- Kaum Quraisy dilarang menjalin persahabatan dengan Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya serta pengikutnya. (Sosial)
- Kaum Quraisy tidak diperkenankan untuk mengasihi dan menyayangi Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya serta pengikutnya. (Sosial)
- Undang-undang ini berlaku selama keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib belum menyerahkan Nabi Muhammad Saw. kepada kaum Quraisy.
Kemudian Nabi Muhammad Saw. memerintahkan kaum muslimin untuk kembali hijrah ke Habasyah untuk yang kedua kalinya.
Hijrah ke Habasyah tahap kedua dipimpin oleh Ja'far bin Abi Thalib. Rombongan hijrah kedua tersebut terdiri atas 83 laki-laki dan 18 wanita. Hal tersebut membuat kaum kafir Quraisy semakin marah. Kaum kafie Quraisy kemudian mengirimkan utusannya, yaitu Amr bin Ash dan Imarah bin Walid menghadap Raja Najasyi. Mereka meminta agar Raja Najasyi mengusir umat Islam dari Habsyah.
Permintaan Amr bin Ash dan Imarah bin Walid di tolak oleh Raja Najasyi. Raja Najasyi menolak permintaan tersebut, sebab para Muhajirin tidak pernah membuat kerusuhan di Negeri Habasyah.
Amr bin Ash tidak menyerah dengan situasi tersebut. Amr bin Ash menyatakan kepada Raja Najasyi bahwa orang-orang Islam itu memiliki pandangan yang berbeda mengenai Maryam, ibunda Nabi Isa a.s.. Sebagai seorang penguasa yang beragama Nasrani, Raja Najasyi sangat terkejut. Dengan tenang, Ja'far bin Abi Thalib menjelaskan bagaimana islam memposisikan Maryam dan putranya sebagai sosok mulia dan agung. Ja'far kemudian membacakan Al-Qur'an Surat Maryam ayat ke-14.
وَبَرًّا ۢ بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا
Artinya: "dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka." Q.S. Maryam : 14)
Belum selesai ayat tersebut dibacakan, air mata Raja Najasyi sudah berderai haru. Para pendeta kerajaan juga meneteskan air mata karena hati mereka tergugah oleh keindahan ayat tersebut.
Di hari berikutnya, Amr bin Ash tidak juga menyerah. Dia lantas menuduh Islam sebagai ajaran yang merendahkan Nabi Isa a.s. dan Maryam. Oleh karena itu, Raja Najasyi lantas memanggil kembali Ja'far bin Abi Thalib.
"Bagaimana pendapat kalian tentang Isa bin Maryam?". tanya sang raja.
"Kami mempercayainya sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. kepada kami. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya Isal adalah hamba Allah dan rasul-Nya, ruh-Nya, dan firman-Nya yang ditujukan kepada Maryam yang senantiasa perawan suci'.", jawab Ja'far dengan tenang.
Raja Najasyi berkata, "Demi Allah, tidak ada berbedaan barang sehelai rambut pun antara ajaran Isa bin Maryam dan nabi kalian." Kemudian, sang raja meminta Amr bin Ash dan kawan-kawan agar berhenti mengganggu kaum muslim. Utusan kaum Quraisy itu pun diperintahkan segera keluar dari Negeri Habasyah. "Pergilah kalian semua! Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan orang-orang muslim ini kepada kalian!".
Amr bin Ash pun pulang dengan tangan hampa. Ia tidak mendapatkan apapun untuk dikabarkan kepada kaum kafir Quraisy di Makkah. Dari sini pula Amr bin Ash menyadari bahwa Islam adalah agama yang benar. Akan tetapi, keislamannya tak berangsur lama, karena khawatir kehilangan posisi di Makkah.
Sepulih tahun lamanya kelompok muslim yang dipimpin Ja'far bin Abi Thalib hidup damai di Habasyah. Mereka memutuskan hijrah ke Madinah ketika Nabi Muhammad Saw. dan Abu Bakar telah hijrah ke Madinah.