Home

  a. General Information
  b. Actual

 

  Activity
  a. Basic Concept
  b. Technical Assistant
  c. Communty Empowerment
  d. Research

 

  Site
  a. Muria Mountain
  b. Menoreh Hills
  c. South Costal of Java



  Contact

  Office
   Jl. Palagan Tentara Pelajar
   55 F, Sedan, Sariharjo,
   Ngaglik, Sleman,
   Yogyakarta, Indonesia

  Telp. (+62-0274)-866046   

  Email :
  [email protected]




 
                   
Publication  


a. Buku

       Buku Merajut Harapan di Puncak-puncak Bukit ini adalah upaya kami untuk menyampaikan hasil-hasil penelitian dan pengalaman kami mendampingi petani yang kami lakukan di Pegunungan Menoreh. Kami harapkan buku ini tidak sekedar menjadi sebuah laporan penelitian, akan tetapi kami harapkan dapat memberikan khasanah berpikir yang cukup mendalam tentang sebuah ekosistem hutan rakyat dengan memandang manusia (petani hutan rakyat) sebagai elemen kunci. Buku ini beserta segenap isinya memang dilandasi oleh pemikiran bahwa hutan rakyat merupakan sebuah sistem yang sangat kompleks, sehingga kami coba untuk “meneropongnya” dari berbagai aspek. Hal ini juga didasari kekhawatiran kami bahwa hutan rakyat seringkali hanya dipandang sebagai “sistem hutan produksi yang dikelola oleh rakyat”. Memandang hutan rakyat hanya dari satu sisi seperti itu tentunya tidak keliru hanya saja dengan demikian kita akan banyak meninggalkan banyak pelajaran yang sesungguhnya dapat kita pakai untuk membangun kembali dunia kehutanan kita yang telah porak poranda.

b. Tabloid (cuplikan berita)

         Relung menerbitkan dua buah tabloid. Tabloid EKOSISTEM : Masa Depan Alam dan Manusia adalah sebuah tabloid yang bertujuan untuk menyampaikan kompleksitas hubungan manusia dalam berhubungan dengan ataupun mengelola sumberdaya alam. Tabloid ini mewartakan berbagai informasi dan juga analisa tentang linkungan hidup ddan dinamika kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagian besar tabloid ini akan berisi tentang kawasan-kawasan penting beserta dinamika masyarakatnya dan juga akan ditambah dengan sebuah suplemen Kalimgan (Kabar Lingkungan) yang akan berisi informasi permasalahan-permasalahan lingkungan hidup yang actual seperti pencemaran di perkotaan, isu nuklir, dll. Diharapkan pembaca akan mendapatkan pemahaman yang holistik tentang relasi manusia dengan alam. Dari pemahaman ini diharapkan akan muncul kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup dan nasib sesama manusia.

       Selain itu Relung juga menerbitkan bulletin pedesaan yang bernama Kleyang. Kleyang adalah istilah di daerah Yogya dan Jawa Tengah yang berarti daun kering, dimana jika dia jatuh dari pohon akan melayang-layang hingga akhirnya menyentuh bumi (tanah). Tabloid ini diharapkan akan memberikan informasi kepada petani dan masyarakat desa pada umumnya sehingga mereka mampu berpikir kritis dan dapat mengaplikasikan (membumikan) pemikirannya untuk kemaslahatan masyarakat.

AGROEKOSISTEM, Mengobati Luka Lama

Oleh : Moh.Ali Imron

       Gelombang modernisasi pertanian yang berkembang bersamaan dengan munculnya revolusi hijau menjadi luka mendalam dan menakutkan bagi pengelolaan lahan pertanian yang berkelanjutan. Revolusi Hijau yang saat itu digulirkan untuk menjawab kebutuhan pangan dunia dengan membuat gelombang baru intensifikasi pertanian yang berbasiskan pupuk dan pestisida, variasi tanaman bioenginering , dan kebijakan perdagangan yang memihak negara-negara utara. Keseragaman/ monokulturisasi, teknologi standard untuk skala besar, input tinggi dan sistem mekanisasi yang ditujukan untuk memaksimalkan hasil tanaman pangan komersial untuk sistem pangan global merupakan ciri khas dari Revolusi Hijau. Saat ini kita menghadapi perkembangan monokulturisasi yang menggila di dunia akibat revolusi hijau yang digulirkan dan menghasilkan luka-luka berupa degradasi dalam berbagai dimensi. Degradasi yang terjadi bukan hanya dalam konteks ekologis saja, akan tetapi menyangkut proses-proses sosial-budaya, dan politik-ekonomi. Hal ini membuka tabir masalah mengapa masalah-masalah produksi pertanian tidak dapat diselesaikan hanya dengan kemampuan teknologi.

       Pergerakan pengelolaan lahan pertanian berbasiskan Agroekosistem muncul untuk mengobati luka-luka bekas revolusi hijau dengan mengkombinasikan petimbangan dari dimensi lingkungan, sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Pendekatan Agroekosistem yang menggunakan berbagai dimensi menjadikan konsep ini sebagai konsep yang paling lengkap dalam menangani masalah-masalah pertanian yang ada selama ini . Perspektif Sosial, budaya dan ekonomi dalam pengelolaan lahan……….. (Tabloid Ekosistem edisi 1)

“SELAMATKAN LAUTKU SELAMATKAN BUMIKU”

      Unit selam Universitas Gadjah Mada mengadakan serangkaian acara pada peringatan hari bumi tahun ini. Rangkaian acara berupa diskusi (22/4), pemutaran film, dan ekspresi (24-25/4). Peringatan hari bumi unit selam bertempat di ruang pameran lantai empat Gramedia. Pesertanya meliputi anak-anak SMU se-Jogja. Panitia hanya membatasi 15 pendaftar pertama saja.

      Tahun ini sesuai temanya air, panitia memberi tajuk “Selamatkan Lautku Selamatkan Bumiku.” Para peserta mewujudkan kepeduliannya dengan ekspresi . “Ekspresi yang dilakukan harus berupa hal-hal yang riil-dapat dilihat-bukan musik atau semacamnya,”kata Novi ketua pelaksana peringatan hari bumi kali ini. “Ini sebenarnya adalah plan B kami. Plan A kami adalah membuat under water teatrikal, yakni happening art di dalam air. Acara ini akan diadakan di Sea World tetapi karena menjelang hari H belum ada konfirmasi yang pasti maka kami ganti dengan acara ini. Sebenarnya sosialisasi sudah kami lakukan sejak Januari tetapi mungkin ada hal-hal di luar perhitungan, jadi ya Jogja dulu aja. Untuk kegiatan out door kami akan mengadakan diving force untuk umum bahkan tetapi tidak sekarang karena waktu yang sangat mendesak,”lanjutnya ketika diungkit mengapa unit selam melakukan acara in door tidak di lapangan sebagaimana biasa………(Tabloid ekosistem edisi 2)

HUTAN JATI DI JAWA :

MASA LALU, SEKARANG, DAN YANG AKAN DATANG

       Hutan dalam perspektif pembangunan umumnya dipandang sebagai public resource/public property. Oleh karena itu negara sebagai representasi publik dianggap sebagai pihak yang berwenang mengatur pengelolaan atau pemanfaatannya. Diharapkan kebijakan yang ditempuh negara akan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat. Indonesia pun termasuk negara yang menerapkan pemikiran ini, sehingga penentuan fungsi dan strategi pemanfaatan sumberdaya hutan diatur melalui kebijakan pembangunan nasional . Salah satu strategi pemanfaatan hutan adalah dengan menjadikan sebagian kawasan hutan sebagai kawasan hutan produksi, baik hutan produksi alam maupun hutan produksi tanaman (buatan). Hutan produksi tanaman ditujukan untuk memproduksi bahan baku dari hutan (kayu) untuk kepentingan industri.

        Kayu jati merupakan salah satu komoditi kehutanan yang mempunyai harga yang cukup tinggi sebagai bahan baku industri. Oleh karena itu wajar jika jenis kayu ini dijadikan “barang rebutan” bagi pelaku industri kehutanan sejak masa lampau. Tulisan ini berusaha mengungkap bagaimana dalam kurun waktu yang panjang (sejak masa kerajaan) hingga di masa pembangunan modern, pengelolaan hutan jati merupakan sebuah jalan panjang yang berliku. Konflik, tindakan kriminal dan bahkan kekerasan ( violence ) selalu mewarnai dalam perjalanan pengusahaan hutan jati di Jawa. Tampaknya jalan masih panjang untuk terwujudnya sebuah tata kelola hutan jati yang mantap, stabil dan berkeadilan, akan tetapi yang perlu dicatat pula bahwa dengan berbagai konflik dan permasalahan yang muncul juga terjadi perubahan-perubahan sebagai upaya untuk memperbaiki pola, model ataupun sistem pengelolaan hutan.

        Belanda melalui kongsi dagangnya yang terkenal dengan sebutan VOC adalah pihak yang mempunyai ide memanfaatkan Jati sebagai komoditi industri secara besar-besaran. Awal abad ke-19 dimana VOC mengalami kebangkrutan dan saat itu merupakan merupakan periode krisis ekonomi yang harus segera diatasi. Gubernur Jenderal Daendels sejak 1808 kemudian mengawali inisiatif untuk mengeksploitasi hutan jati di Jawa secara massal dan sistematik.

        Ada dua pilihan yang dapat dilakukan pemerintahan Hindia Belanda saat itu. Pertama, melakukan eksploitasi terhadap hutan alam Jati. Kedua, pengusahaan hutan dengan menggunakan manajemen model perkebunan. Pemerintah kolonial pada perkembangannya memilih opsi kedua yang ditindaklanjuti dengan ide penataan hutan. Artinya dibutuhkan sejumlah lahan yang dapat diupayakan untuk pengusahaan dan produksi kayu jati secara maksimal. Saat itulah upaya-upaya untuk menguasai sumberdaya kayu jati oleh pemerintah kolonial Belanda dilakukan dengan memanfaatkan eksistensi dan kekuasaan politik atas wilayah Jawa. Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan pola-pola yang monopolistik, eksploitatif dan pendekatan yang represif polisional. Pengelolaan hutan selanjutnya berlangsung lebih sistematis dan ilmiah ( scientific forestry ). Bahkan pada perkembanganannya beberapa ahli dari Jerman pun didatangkan untuk menata hutan produksi di Jawa....(Tabloid Ekosistem edisi 3)

Mengintip Kisah-kisah Nuklir Masuk Indonesia

         Titik awalnya adalah sebuah komite yang dibentuk pemerintah untuk melakukan survei kemungkinan dampak radioaktivitas hasil uji coba bom nuklir di Pasifik. Sebab kebutuhan yang (di)muncul( kan ) kemudian, hal mengenai kenukliran di Indonesia menjadi agenda yang serius.

         Selang empat tahun setelah 1954, pemerintah melalui UU No.65 Tahun 1958, mengubah Komite Nasional Tenaga Atom menjadi Lembaga Atom Indonesia . Upaya tersebut awalnya didorong oleh spirit mengejar ketertinggalan Indonesia dalam hal teknologi dibanding negara-negara maju, khususnya teknologi kenukliran. Perubahan itu kemudian disusul dengan pengiriman sejumlah orang ke luar negeri untuk mengikuti pendidikan kenukliran di berbagai belahan dunia; seperti Uni Sovyet , AS , Perancis, Jerman Barat dan Jepang.

         Pada tahun 1960, karena kedekatan Sukarno dengan Uni Sovyet, Pemerintah Indonesia mendapat bantuan US $ 5.000.000 untuk riset reaktor nuklir. Karena bantuan tersebut, Pemerintah Amerika Serikat bereaksi dengan memberi hadiah sejumlah US$ 350.000 untuk proyek atom for peace. …………(Tabloid ekosistem edisi 3)

Selain buku dan tabloid divisi media dan informasi Relung juga menyediakan beberapa prosiding, modul dan juga film.

 


 

  Publication
  a. Book
  b. Tabloid
 

  Picture
   a. Nature
   b. Human Interest


 

 

 

 

 











  Copyright©2004 Relung All Rights Reserved
 
Hosted by www.Geocities.ws

1