Home

  a. General Information
  b. Actual

 

  Activity
  a. Basic Concept
  b. Technical Assistant
  c. Communty Empowerment
  d. Research

 

  Site
  a. Muria Mountain
  b. Menoreh Hills
  c. South Costal of Java



  Contact

  Office
   Jl. Palagan Tentara Pelajar
   55 F, Sedan, Sariharjo,
   Ngaglik, Sleman,
   Yogyakarta, Indonesia

  Telp. (+62-0274)-866046   

  Email :
  [email protected]



 
                   
GENERAL INFORMATION   

    
     Relung was founded in Yogyakarta-Indonesia on November 21 st 1998. RELUNG has been committing for the sustainability of natural resources and environment. Natural resources and environment sustainability is the main requirement for the sustainable development. Natural resources sustainability will be achieved only by balance, integrative and adaptive approach in natural resources exploitation mechanism. In other hand, public participation and equity principle in benefit sharing are fundamental for controlling the development process

    RELUNG is an institution which work to establish the condition of natural resources management which fit to its carrying capacity, social justice and cultural adaptive, it called Sustainable Natural Resources Management . The principal values of RELUNG in its activities are empowering local community, multi-stakeholder approach, and cross-sectors approach. All of those principal values have to be supported by implementation of innovative and environmental friendly technology. Our goal is Dynamic Harmony between Human and Nature.


 

ACTUAL

   
          

  ANCAMAN  PRAHARA   G. MURIA

Kerusakan lingkungan merupakan satu tahapan siklik sebagai akibat proses alami maupun kesalahan manajemen sumberdaya alam. Mengapa suatu kawasan harus dijaga dan dikelola secara lestari, toh alam juga akan mampu memberikan keseimbangan baru?  Bukankah teknologi telah dapat memecahkan persoalan-persoalan kelestarian dan perbaikan lingkungan?  Tetapi mana buktinya semua persoalan yang terintegrasi secara sistemik tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan benar di negeri ini?  Hutan rusak akibat penjarahan, perladangan tanaman semusim mencukur pepohonan hutan, debit air  mengalami penurunan, erosi dan sedimentasi telah merugikan secara sosial-ekonomi dan ekologis, hukum lingkungan tiada pernah mampu berdiri tegak, sendi-sendi demokrasi telah dilanggar dan cenderung merugikan kepentingan umum, manajemen sumberdaya alam tak mampu memperbaiki sistemnya akibat in-efisiensi dan sumberdaya manusia pengelola yang lemah menghasilkan sistem yang korup. Fenomena itu, nampaknya belum mampu menyadarkan Sang Penguasa, mengetahui bahwa energi dan daya mengalami kekuarangan kemudian muncul gagasan pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir).  Ha... ha... ha.. mengelola PLN dan hutan yang tergolong lebih mudah saja merugi dan rusak apalagi PLTN, mau jadi apa kawasan Muria ke depan? Ya, mungkin proyeknya yang cukup menggiurkan. 
(JSS-Red)

          Kawasan Muria secara geografis terletak di 3 wilayah Kabupaten, yaitu Jepara, Kudus, dan Pati.  Jepara dikenal dengan ukirannya yang khas, Kudus merupakan kota industri terutama rokok, dan Pati merupakan penghasil kayu jati yang berkualitas nomor wahid.  Perkembangan pengelolaan sumberdaya hutan terutama jati tidak dapat begitu saja dilepaskan dari peranan daerah ini pada awal-awal pembentukan pengusahaan oleh Pemerintah Hindia-Belanda. 

           Wilayah ini secara historis telah menjadi pusat peradaban di tanah Jawa baik dalam masa Kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Kalingga (± 6 - 7 M) sampai Kerajaan Majapahit (± 13 – 15 M) dan masa Kerajaan Islam yaitu Kerajaan Demak (± 16 M).  Pada jaman VOC dan Pemerintahan Hindia-Belanda kawasan Jepara dan sekitarnya merupakan daerah strategis sebagai wilayah pengembangan kota-kota pelabuhan dengan tujuan ekspor ke Eropa.  Kondisi yang demikian strategis tersebut berimbas pada upaya pengembangan kawasan Muria bagi usaha perkebunan (tebu, kopi, randu, dll.) dan kehutanan (terutama jati) untuk mendukung sektor ekspor andalan Pemerintah Hindia-Belanda. 

 Ada tiga hal yang menjadikan pengelolaan kawasan Muria penting untuk dikaji, yaitu pertama, kawasan Muria ini merupakan penyangga sosial-ekonomi maupun ekologis yang sangat penting sebagai urat nadi ke hidupan industri di kota Kudus, Jepara, dan Pati; kedua, kawasan ini menyimpan situs-situs bersejarah dari jaman kerajaan Hindu dan Islam sebagai asal-usul peradaban Jawa; ketiga, kawasan Muria memiiki letak yang strategis di tengah P. Jawa terutama di jalur pantai utara yang menjadi pusat pengembangan industri.  Hal inilah yang mungkin melatarbelakangi rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Muria. 

Menurut tata guna lahannya, sebagian besar kawasan Muria merupakan kawasan lindung terutama sebagai daerah tangkapan air (catchment area).  Kawasan lindung ini terdiri dari: Lahan Negara, yaitu kawasan hutan lindung, cagar alam, hutan produksi, dan perkebunan;

Lahan Milik, yaitu  sawah, ladang, tegal, kebun, kebun campur dan hutan rakyat.

          Dengan demikian secara faktual kawasan ini dikelola oleh rakyat maupun pemerintah lewat kepanjangan tangan BUMN (Perhutani dan PTPN IX).  Dampak dari proses pergantian kekuasaan pada tahun 1998 salah satunya menjadi pemicu penjarahan hutan dan lahan sebagaimana lazimnya terjadi di daerah-daerah lain termasuk Muria. Gambaran atas kondisi kerusakan hutan tersebut salah satunya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 

 Tabel 1. Perbandingan Potensi Hutan Awal tahun 1999 dan Awal Tahun (April) 2003

Kelas Hutan

Awal jangka RPKH

1999 – 2000

(ha)

Awal tahun 2003

(Risalah Kilat)

(ha)

1

2

3

1. Untuk Produksi kayu  Jati

 

 

a. Produktif

 15.513,00

 9.274,30

b. Tidak produktif

6.552,4

13.279,50

2. Bukan untuk produksi Kayu Jati

12.522,50

12.102

3. Bukan untuk produksi

3964,791

       3.902,00

Jumlah luas KPH (ha)

       38.552,69

     38.557,80

Sumber : Rencana Strategis KPH Pati 2003 – 2008

          Fakta di lapangan bisa jadi melebihi dari angka yang disampaikan di atas, karena berdasarkan pengamatan langsung sisa-sisa hutan di kawasan Muria tinggal beberapa titik saja  yang masih ada tanamannya.  Hampir sebagian besar kawasan, baik produksi maupun lindung dijarah dan dikonversi menjadi ladang jagung, tebu, dan ketela pohon.    Di kawasan Muria bagian utara, konversi hutan menjadi kebun singkong cukup merajalela karena di daerah ini berkembang industri pengolahan tepung tapioka.

            Banjir dan tanah longsor adalah bencana tahunan yang selalu terjadi setelah hutan di Muria hancur. Diakhir musim kemarau ini, masyarakat  tiga kabupaten: Pati, Kudus dan Jepara  yang berada di sekitar pegunungan ini  harus bersiap-siap menghadapi bencana ini. Kalau akan hujan kita harus menyiapkan payung, tapi kalau banjir akan datang lagi apa yang harus kita persiapkan???




 



 

  Publication
  a. Book
  b. Tabloid
 

  Picture
   a. Nature
   b. Human Interest


 

 

 

 

 











  Copyright ©2004 Relung All Rights Reserved
 
Hosted by www.Geocities.ws

1