|
Wajah angker, pendiam, dahi berkerut dan rambut acak acakan.
Begitulah mungkin kesan yang pertama kali timbul dibenak kita apabila kita
membayangkan seorang profesor, apalagi profesor dari luar negeri. Kita
akan selalu teringat akan wajah Albert Einstein. Namun kesan itu seolah
,olah lenyap jika melihat Profesor Patricia Layzell Ward, seorang
profesor Ilmu Perpustakaan dari University of Wales, United Kingdom. Gaya
bicaranya yang lepas dan sangat bersahabat, jenaka , dermawan dan
penampilannya yang rapih membuat orang senang dan tak segan segan untuk
berbicara dengannya.
Hal ini terlihat dalam diskusinya dengan para mahasiswa dan dosen
JIP, selasa, 15 mei 2001. Banyak para mahasiswa dan terlebih lagi para
dosen yang terperangah melihat gaya bicara profesor berkulit putih
tersebut. Bertempat di ruang serbaguna II, gedung IV FSUI, diskusi
berlangsung menarik dengan diselingi tawa para peserta. Dengan menggunakan
bahasa Inggris, ia mengemukakan tentang arti pentingnya profesi pustakawan. Ia memberi alasan bahwa profesi pustakawan adalah profesi yang aman
dibandingkan dengan profesi yang lainnya, misalnya dokter atau pengacara.
Seorang dokter atau pengacara jika melakukan kesalahan fatal
berakibat meninggalnya si pasien atau masuk penjaranya si klien. Hal ini tidak
ditemukan pada profesi pustakawan. Lalu ia juga menjelasakan bahwa
profesi pustakawan akan terus ada sampai kapanpun dan tidak akan kalah
bersaing dengan profesi lainnya. Hal ini terlihat dengan keberadaan
perpustakaan yang tetap eksis sampai sekarang. Keadaan perpustakaan di Eropa
dan Amerika Serikatpun tak lepas dari pembicaraannya.
Diskusi berlangsung selama satu setengah jam ( 10.00 11.30 ),
sayangnya tidak direspon dengan baik oleh lebih kurang enam puluh peserta.
Hal ini terlihat dalam sesi tanya jawab, hanya 3 orang saja yang
bertanya. Mungkin mereka kurang percaya diri dengan kemampuam bahasa Inggris
mereka. Diakhir acara, pihak JIP memberikan kenang kenangan sebagai tanda terimakasih. Sebelumya Profesor Patricia juga telah mengadakan
acara di Perpustakaan Nasional, sabtu 12 mei 2001 yang diselenggarakan oleh Ikatan Pustakawan Indonesia ( IPI ). Acara seperti ini harus lebih
ditingkatkan lagi frekuensinya guna meningkatkan kemampuan, wawasan danprofesionalisme pustakawan pada umumnya dan mahasiswa JIP pada
khususnya. Semoga !!(AA/AP/IP/22-05-21) |