Pustakawan, Ilmuwan dan Dialog Interaktif Metro TV
oleh. Andy Alayyubi*

Orang bilang , orang yang sukses ialah orang yang memiliki banyak informasi - dan menurut saya itu benar. Dengan kata lain, informasi sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam berusaha. "Ledakan informasi" yang ditandai dengan hadirnya internet sebagai media informasi tanpa sensor dan batas-menjadikan dunia semakin sempit. Informasi, sekarang, sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok kehidupan manusia ( bukan sembilan bahan pokok lagi tapi sepuluh bahan pokok ).

Lembaga-lembaga yang bergerak di bidang penyimpanan informasi, sudah seharusnya diperhatikan, baik oleh pemerintah, swasta maupun dari masyarakat sendiri. Miris rasanya ketika saya menyaksikan sebuah dialog interaktif dengan tema "Perpustakaan Umum" yang ditayangkan salah satu televisi swasta, pembicara yang dalam hal ini kepala perpustakaan salah satu wilayah di DKI Jakarta - seakan menjadi "terdakwa" dalam dialog tersebut (Metro TV, sabtu, 31 maret 2001, pukul 16.30 WIB ).

Banyak para penelpon yang mempertanyakan buruknya layanan perpustakaan khususnya di Jakarta. Bahkan dari salah seorang penelpon pernah tidak diperkenankan masuk ke perpustakaan nasional dengan alasan tidak rasional, karena orang tersebut baru kelas dua SMU. Namun disayangkan jawaban-jawaban dari pembicara terkesan kurang "intelek" (dilihat dari sudut ilmu perpustakaan).

Diakhir dialog pembicara tidak malu-malu meminta kepada para dermawan untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk keperluan perpustakaan. Lantas saya berpikir, apakah perpustakaan sudah berubah fungsi sebagaimana panti asuhan atau panti jompo?? Setelah dialog tersebut, saya dapat mengambil minimal 2 kesimpulan. Yang pertama bahwa perpustakaan dalam hal ini perpustakaan wilayah DKI Jakarta masih "dilihat sebelah mata" (atau mungkin "tidak dilihat"sama sekali). Yang kedua(yang terpenting)kurang profesionalnya para pustakawan kita.

Sangat disayangkan apabila jawaban - jawaban pembicara tersebut sampai disiarkan langsung oleh stasiun televisi itu. Berkenaan dengan SDM perpustakaan atau pustakawan, memang dirasakan sangat tidak memadai, sehingga wajar apabila banyak perpustakaan yang dikelola secara  asal-asalan. Tapi di sini saya tidak akan mempermasalahkan hal tersebut. saya hanya ingin mengangkat suatu wacana bagi pustakawan untuk mengembangkan profesinya. Pustakawan yang ideal ialah selain profesional ia juga seorang ilmuan. Dengan demikian pustakawan dan ilmuan tidak dapat dipisahkan.

Seperti yang kita ketahui selama ini bahwa khususnya di lembaga- lambaga riset pekerjaan pustakawan hanyalah menyediakan informasi bagi para ilmuan. Dalam hal ini para pustakawan sudah merasa puas apabila para ilmuan sudah mendapatkan informasi yang dicarinya. Fenomena seperti ini nampaknya harus kita rubah. Kalau kita pikirkan lagi, kita seharusnya mempertanyakan, mengapa pustakawan selalu menjadi "pembantu" ilmuan kalau semua keperluan "majikan" kita miliki. Yah pustakawan mempunyai keperluan ilmuan dalam bentuk informasi. Mengapa para pustakawan tidak bisa sekaligus menjadi seorang ilmuan? padahal peluang untuk itu sangat

besar, dengan berbagai kelebihannya dalam pengolahan informasi, sedikit "polesan" dan gemar membaca, seorang pustakawan, insya Allah, akan menjadi seorang ilmuan. Kalau kita melihat sejarah perpustakaan, khususnya perpustakaan Islam pada Zaman Dinasti Abbasiyah (750 - 1258 M), para pustakawan akan merasa terpanggil untuk menjadi seorang ilmuan. Zaman tersebut merupakan zaman          (abad) kegelapan bagi orang eropa, tapi di timur (Islam) merupakan zaman keemasan dan Baghdad, sebagai salah satu wilayahnya ialah pusat peradaban dunia.

Zaman keemasan tersebut ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan perkembangan itu dipercepat dengan didirikannya perpustakaan-perpustakaan. Salah satu yang terkenal dan terbesar ialah Baitul Hikmah. Tidak sembarang orang bisa bekerja sebagai pustakawan di sana. Hanya orang-orang kepercayaan khalifah dan para ilmuan sajalah yang boleh bekerja. Diantaranya adalah Al - kindi, Al - khawarizmi, seorang ilmuan matematika terkenal saat itu. Mereka adalah para ilmuan yang bekerja di perpustakaan Baitul Hikmah. Mereka adalah Ilmuan-pustakawan.

Perpustakaan dan buku saat itu  sangat diormati keberadaannya. Jabatan pustakawan menjadi primadona, karena disamping mendapat gaji yang besar diberikan langsung oleh khalifah - juga berpeluang besar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Kalau kita pelajari sejarah tersebut sudah sepantasnyalah para pustakawan bangga dengan profesinya dan terus menerus bekerja secara profesional serta mengembangkan ilmunya agar dapat menjadi ilmuan. Namun hal tersebut memang dirasakan sangat berat, jangankan untuk menjadi seorang ilmuan, menjadi pustakawan yang profesional saja sulit ( salah siapa, hayo ??). namun hal itu pasti terwujud jika kita serius melakukannya. Semoga!! 3-4-2000/AP/2001/25-01-2001.

Back to Main

BERITA UTAMA LAIN

  1. KETAKUTAN AKAN LOST GENERATION ...Apakah Akan Benar-Benar Terjadi Pada Pustakawan?...(Lengkap)

  2. Kedudukan Pustakawan dalam Dunia Cyber...Pertanyaan ini sering mengelayuti pikiran para pustakawan dan staf pustakawan..mungkin artikel ini bisa menjawab secara singkat...(Lengkap)

  3. Bagaimana Kalo Mati Lampu??....(lengkap)

 

Hosted by www.Geocities.ws

1