|
Pustakawan, Ilmuwan dan Dialog
Interaktif Metro TV |
||
|
Orang
bilang , orang yang sukses ialah orang yang memiliki banyak Lembaga-lembaga
yang bergerak di bidang penyimpanan informasi, sudah seharusnya
diperhatikan, baik oleh pemerintah, swasta Banyak
para penelpon yang mempertanyakan buruknya layanan perpustakaan
khususnya di Jakarta. Bahkan dari salah seorang penelpon pernah tidak
diperkenankan masuk ke perpustakaan nasional dengan alasan tidak
rasional, karena orang tersebut baru kelas dua SMU. Namun disayangkan
jawaban-jawaban dari pembicara terkesan kurang "intelek" (dilihat
dari sudut ilmu perpustakaan). Diakhir
dialog pembicara tidak malu-malu meminta kepada para dermawan untuk
menyisihkan sebagian uangnya untuk keperluan perpustakaan. Lantas saya
berpikir, apakah perpustakaan sudah berubah fungsi sebagaimana panti
asuhan atau panti jompo?? Sangat
disayangkan apabila jawaban - jawaban pembicara tersebut sampai
disiarkan langsung oleh stasiun televisi itu. Berkenaan dengan SDM
perpustakaan atau pustakawan, memang dirasakan sangat tidak memadai,
sehingga wajar apabila banyak perpustakaan yang dikelola secara asal-asalan.
Tapi di sini saya tidak akan mempermasalahkan hal tersebut. saya hanya
ingin mengangkat suatu wacana bagi pustakawan |
Seperti
yang kita ketahui selama ini bahwa khususnya di lembaga- besar,
dengan berbagai kelebihannya dalam pengolahan informasi, sedikit "polesan"
dan gemar membaca, seorang pustakawan, insya Allah, akan menjadi seorang
ilmuan. Kalau kita melihat sejarah
perpustakaan, khususnya perpustakaan Islam pada Zaman Dinasti Abbasiyah
(750 - 1258 M), para pustakawan akan merasa terpanggil untuk menjadi
seorang ilmuan. Zaman tersebut merupakan Zaman
keemasan tersebut ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan Perpustakaan
dan buku saat itu sangat
diormati keberadaannya. Jabatan pustakawan menjadi primadona, karena
disamping mendapat gaji yang besar diberikan langsung oleh khalifah -
juga berpeluang besar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Kalau kita
pelajari sejarah tersebut sudah sepantasnyalah para pustakawan bangga
dengan profesinya dan terus menerus bekerja secara profesional serta
mengembangkan ilmunya agar dapat menjadi ilmuan. Namun hal tersebut
memang dirasakan sangat berat, jangankan untuk menjadi seorang |
|
BERITA UTAMA LAIN
|