|
Ketakutan
Akan....
Lost
Generation |
|
Apakah Akan Benar-Benar Terjadi? |
|
Oleh: Agung Pramanto (JIP ’98) Ada
suatu hal yang perlu kita renungkan
dalam menyambut Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei yang lalu, yaitu
ancaman terjadinya generasi yang hilang atau Lost
Generation yang sudah mulai tampak. Hal ini akan mengakibatkan
generasi bangsa Indonesia pada 10 sampai 20 tahun yang akan datang
kualitas sumber dayanya lebih rendah daripada generasi sekarang. Ada
beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya Lost
Generation ini, terutama faktor krisis multi dimensional, khususnya
krisis ekonomi yang melanda negeri kita yang dampaknya masih dirasakan
berkepanjangan. Akibat krisis, ketahanan pangan melemah karena daya beli
masyarakat turun drastis akibat melambungnya harga bahan kebutuhan pokok
khususnya bahan makanan, hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat yang
hidup di bawah garis kemiskinan yang sejak krisis terjadi jumlahnya
semakin membengkak. Akibat kekurangan pangan inilah, gizi masyarakat
menjadi tidak terurus, anak-anak yang seharusnya mendapat nutrisi yang
cukup bagi masa pertumbuhannya akhirnya harus makan ala kadarnya dengan
kualitas yang tidak memenuhi standar gizi. Selanjutnya, karena kebutuhan
gizi mereka tidak tercukupi, maka hal ini akan menyebabkan perkembangan
intelektualnya terganggu. Dan di masa yang akan datang otomatis kualitas
SDM mereka menjadi rendah sehingga gejala terjadinya Lost
Generation pun akan ada di depan mata. Selain
faktor krisis ekonomi, gejolak sosial politik yang kerap terjadi di
beberapa daerah di Indonesia juga turut andil dalam terjadinya Lost
Generation ini. Akibat kerusuhan dan konflik SARA yang pecah di
derahnya, anak-anak yang polos dan tidak berdosa harus kehilangan masa
depan mereka. Mereka tercabut dari kehidupan sekolahnya, mereka harus
meninggalkan bangku sekolahnya karena harus mengungsi ke daerah lain yang
dianggap cukup aman. Di daerah pengungsian, anak-anak tersebut pun
mendapatkan masalah karena pendidikan mereka pun terbengkalai sebab tidak
semua anak-anak yang mengungsi itu dapat melanjutkan sekolahnya. Selain
itu ancaman kelaparan dan wabah penyakit yang terjadi di daerah
pengungsian juga dapat menyebabkan anak-anak yang hidup di sana menjadi
bibit-bibit munculnya Lost
Generation. Potret
buram generasi masa depan Indonesia akibat Lost
Generation itu juga dapat disebabkan oleh mutu sistem pendidikan di
negara kita ini. Anggaran pendidikan yang jumlahnya kecil dan dianggap
tidak layak untuk APBN tahun ini tampaknya juga masih akan dipangkas.
Alasannya adalah untuk menutupi defisit anggaran yang membengkak. Defisit
anggaran ini terjadi karena perekonomian Indonesia masih belum pulih dari
krisis. Walaupun beberapa waktu yang lalu sudah tampak ada tanda-tanda
pencerahan bagi perbaikan ekonomi, namun nilai tukar Rupiah terhadap Dolar
AS yang semaikin terperosok pada awal tahun 2001 ini mengakibatkan
Indonesia kembali berada di ambang krisis kedua. Masalah-masalah ini salah
satunya juga disebabkan oleh konflik antarelit politik yang terjadi
akhir-akhir ini. Presiden Abdurrahman Wahid yang ketika terpilih menjadi
presiden diharapkan dapat memperbaiki keadaan, sekarang kekuasaannya malah
goyah setelah DPR mengeluarkan memorandum I dan disusul memorandum II. Dunia
pendidikan kita rupanya harus dikorbankan karena anggarannya yang kecil
masih harus dipotong untuk menutupi defisit anggaran. Pemerintah tampaknya
masih memprioritaskan kebutuhan pokok rakyat yang lain seperti untuk
subsidi pangan sehingga mengesampingkan kebutuhan akan pendidikan. Padahal,
tanpa menganggap hal-hal lain yang harus dibiayai APBN tidak penting,
pendidikan merupakan investasi yang sangat berharga. Kita memang tidak
dapat merasakan hasilnya sekarang atau dalam waktu cepat. Namun kelak di
masa datang, wajah generasi penerus bangsa ini ada pada sistem pendidikan
yang kita bangun sekarang. Jika pendidikan yang dikembangkan pemerintah
terganggu akibat minimnya dana, maka di masa mendatang akan banyak
anak-anak bangsa ini yang menjadi generasi yang hilang karena rendahnya
sumber daya manusia mereka. Kalau sudah begini, generasi mendatang tidak
dapat diharapkan dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang jauh lebih
maju. Jangankan dengan Eropa atau Amerika, dengan tetangga-tetangga kita
di kawasan Asia Tenggara saja kita masih kalah, padahal perdagangan bebas
di kawasan Asia Tenggara sudah di depan mata, selanjutnya nanti akan ada
perdagangan bebas di kawasan Asia Pasifik. Kita tentu tidak ingin akibat Lost
Generation bangsa kita menjadi lemah dan terkucil dalam pergaulan
internasional apalagi kembali menjadi negara terjajah dengan penjajahan
atau eksploitasi gaya baru yang ternyata lebih menyedihkan dibanding
penjajahan secara fisik dengan kekuatan senjata. Untuk itulah sektor
pendidikan mestinya mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah dan
juga partisispasi semua pihak.
Di dalam dunia pendidikan sudah barang tentu perpustakaan memainkan peranan penting. Dari perpustakaan itulah muncul informasi berupa sumber-sumber ilmu pengetahuan yang sangat diperlukan bagi kelancaran sistem pendidikan. Maka tidaklah heran jika pemerintah mengeluarkan ketentuan bahwa di setiap institusi pendidikan harus didirikan perpustakaan. Masalahnya sekarang, apakah perpustakaan itu sudah dikelola dengan baik sehingga nantinya dapat mendukung sistem pendidikan yang akhirnya dapat meningkatkan SDM generasi penerus bangsa ini? Pertanyaan inilah yang harus kita jawab bersama sebagai mahasiswa Ilmu Perpustakaan nantinya juga akan terjun ke masyarakat dan ikut bersama-sama membangun bangsa ini lewat keahlian yang kita miliki. Sebagai warga negara Indonesia kita juga memiliki tanggung jawab untuk memikirkan nasib bangsa ini di masa yang akan datang./AP/15-5-01/IP |
BERITA UTAMA LAIN:
|