MIMPI BAPAK HAJI AHMAD SHOLEH
- Dari sumbernya tidak disebutkan apakah cerita ini fiktif atau tidak -
Bapak Haji Ahmad Sholeh adalah seseorang yang berhati baik. Di dalam hidupnya, dia selalu berusaha untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan arti namanya yaitu ‘orang yang patuh kepada perintah Allah’. Dia rajin beribadah, seperti sholat lima waktu dan puasa. Dia juga gemar memberi kepada orang-orang yang miskin dan selalu menerima siapa saja dirumahnya sebagai seorang tamu yang layak dihormati. Oleh karena itu, sepanjang hidupnya, dia banyak mendapat sanjungan dan pujian dari orang-orang yang mengenalnya.
Pada suatu malam, ketika dia tidur, dia bermimpi. Di dalam mimpinya tersebut, di melihat suatu cahaya yang sangat menyilaukan. Tiba-tiba dia sadar bahwa sesungguhnya dia sedang berdiri di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Di samping kanan dan kirinya, dia melihat ada dua orang malaikat yang masing-masing ditangannya memegang kitab yang berisi catatan amal-amalnya. Malaikat Roqib yang berdiri di sebelah kanan, memegang kitab yang memuat catatan segala amal baiknya, sementara itu malaikat Atid yang beridiri di sebelah kiri memegang kitab yang memuat catatan amal buruk atau dosa-dosanya.
Malaikat Roqib kemudian membuka kitab yang ada padanya dan meneliti lembar-demi lembar. Setelah itu, kepada Allah SWT, dia berkata:” Di dalam kitab amal baik ini tidak ada satu pun amal baik yang tertulis. Semua lembar di dalam kitab ini kosong belaka.”
Malaikat Atid melakukan hal yang sama. Dia membuka dan meneliti setiap lembar kitab amal buruk yang dipegangnya. Dia mulai menghitung semua dosa yang telah dilakukan oleh Haji Ahmad Sholeh. Di dalam kitab tersebut banyak sekali dosa-dosa yang tercatat. Dosa-dosa itu bukanlah dosa-dosa yang secara nyata terlihat oleh manusia, namun merupakan dosa-dosa yang tersembunyi, seperti kemarahan, iri hati dan dengki, dusta, sakit hati dan dosa-dosa lain yang timbul di dalam pikiran serta hati.
Mendengar laporan kedua malaikat-Nya, Allah bersabda:” Singkirkan manusia ini dan masukkanlah dia ke dalam air belerang yang mendidih yang telah disiapkan bagi Syetan dan pelayan-pelayannya.”
Haji Ahmad Sholeh merasakan ada suatu tangan yang begitu kuat menyeretnya ke arah tempat penyiksaan, dan dia pun mulai merasakan panasnya api neraka. Namun demikian, sebelum dia di masukkan ke dalam air belerang yang mendidih tadi, terjagalah dia dari mimpinya.
Keesokan harinya, Haji Ahmad Sholeh memikirkan apa arti mimpi tersebut sepanjang hari.
Pada malam hari berikutnya, mimpinya berlanjut. Dalam panasnya sengatan api neraka, dia berseru:” Aku telah berusaha semampuku untuk berbakti dan bertaqwa kepada Allah. Apa yang Allah perintahkan sudah aku jalankan, dan apa yang Ia larang sudah aku jauhi.”
Malaikat yang ada di dekatnya berkata:” Keyakinanmulah yang telah membawamu ke pintu neraka ini. Sepanjang hidupmu, kamu selalu menjauhi segala makanan yang najis /haram karena kamu percaya bahwa sesuatu yang najis/haram meskipun sedikit, kalau kamu makan maka akan mengotori/manajisi yang bersih/halal yang ada di dalam dirimu. Kalau bagi kamu saja sebagai manusia berlaku hal yang demikian, terlebih lagi bagi Allah Yang Maha Suci. Tidaklah Dia layak ternodai oleh najis walau pun sedikit. Kamu sholat, tetapi betulkah sholatmu itu sungguh-sungguh ikhlas dan terlepas dari keinginan untuk diketahui orang-orang disekitarmu (riya’)? Kamu berpuasa, namun kamu tidak pernah melakukan itu semata-mata untuk mencari ridlo Allah. Kamu suka bersedekah, namun kedermawananmu kepada kaum fakir dan miskin selalu disertai keinginan untuk dipuji. Tak sekalipun di dalam hidupmu, saat kamu beramal baik, kamu lepas dari niat yang tidak baik. Dengan demikian, setiap amal baikmu telah ternodai oleh amal burukmu sendiri yang timbul dari dalam hati dan pikiranmu, meskipun amal buruk itu sangat kecil dan tidak nampak olehmu.
Seperti halnya kamu yang selalu membuang setiap makanan yang telah ternodai najis, demikian juga Allah SWT pun akan membuang dan menghapus setiap amal baik yang telah ternodai oleh najis amal buruk. Oleh karenanya, jangan heran jika kitab yang berisi catatan amal baikmu ternyata kosong, sebab semua amal baikmu telah terhapus oleh amal buruk dan dosa-dosamu.
Selesai malaikat itu berkata, Haji Ahmad Sholeh kembali merasakan ada suatu cengkeraman kuat yang hendak menyeretnya ke neraka dan dia pun kembali merasakan betapa panasnya sengatan api neraka itu. Namun, saat itu juga dia terjaga dari mimpinya. Dan keringat dingin pun membasahi sekujur tubuhnya
Betapa gelisahnya hati Haji Ahmad Sholeh pada hari berikutnya. Hari itu, dia berniat untuk berpuasa dan beribadah dengan sungguh-sungguh. Dia berseru-seru kepada Allah agar Allah memberi petunjuk kepadanya jalan keselamatan dari siksaan neraka yang pedih.
Malam itu Haji Ahmad Sholeh bermimpi lagi untuk yang kesekian kalinya. Singkat cerita, sewaktu ia akan dimasukkan ke dalam neraka, ia berseru kepada Allah:” Ya Allah ampunilah saya.” Pada saat itu, ia melihat ada suatu bayangan seorang laki-laki yang berjalan keluar dari dalam cahaya di depannya. Laki-laki itu berjubah putih kemilau. Kemudian dia mulai berbicara kepada Haji Ahmad Sholeh, demikian:” Sepanjang hidupmu, kamu membaca dan mempelajari Kitab Sucimu sebab kamu pikir di dalamnya akan kamu dapatkan rahasia keselamatan. Kitab Suci yang ada padamu itu telah memberikan kesaksian mengenai aku. Namun, kamu tidak mau percaya kepadaku meski pun hanya padakulah jalan keselamatan itu ada. Aku telah diutus ke dunia untuk mengalahkan Syetan dan aku benar-benar telah mengalahkannya berkat kepatuhanku (ketakwaanku) yang sungguh-sungguh kepada Dia, Tuhan Yang Maha Esa. Aku tidak mengucapkan apa yang berasal dariku, tetapi apa yang berasal dari-Nya. Aku tidak melakukan suatu amal apa pun selain yang Ia perintahkan agar aku melakukannya. Ujian terkhir yang harus kulalui ialah bahwa aku aku menyerahkan nyawaku. Aku menjerit dan meminta kepada Allah agar aku dijauhkan dari ujian semacan ini. Namun demikian, karena bagiku kehendak-Nya sangatlah nyata, maka aku tetap terus patuh pada apa yang telah Ia perintahkan.
Akhirnya, aku serahkan nyawaku sendiri pada-Nya. Aku mati di kayu palang demi umat manusia. Di waktu ajalku datang, tak seorang pun manusia bahkan pengikutku sendiri dapat memahami apa sebenarnya yang aku lakukan dan mengapa semua itu terjadi.
Sebetulnya, bisa saja waktu itu aku membela diri dan melepaskan diriku dari kematian di kayu palang sebab di sekitarku ada dua belas ribu malaikat yang siap menyelamatkan aku. Kalau saja aku perintahkan mereka untuk menghancurkan prajurit-prajurit Romawi dan orang-orang Yahudi yang telah menghukumku di kayu palang, maka amatlah mudah bagi mereka untuk melakukannya. Namun, semua itu tidak aku lakukan sebab kepadaku telah diperintahkan bahwa aku harus tunduk dan patuh sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT: mati untuk umat manusia. Yah, itulah yang telah aku lakukan. Aku tetap patuh kepada-Nya sampai akhir ajalku. Bahkan sampai aku mati di kayu palang yang bagi semua orang adalah suatu kematian yang hina dan tidak masuk akal.
Perlu kamu ketahui bahwa kematianku bukanlah akhir dari segala-galanya. Aku kemudian bangkit dari kematianku. Aku telah berhasil mengalahkan kematian. Untuk hal inilah kepadaku telah diberikan suatu Nama dia atas segala nama. Kepadaku pula semua kuasa yanag ada di bumi dan di surga telah diberikan.. Bukan hanya itu, aku juga punya hak untuk memberikan anugerah dan rahmat keselamatan dunia akhirat kepada siapa saja yang mau percaya kepadaku. Anugerah dan rahmat itu aku berikan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang mau masuk kedalam surgaku dan mau menjadikan aku sebagai junjungannya yang Ilahi.
Kamu telah berseru-seru kepada Allah memohon pengampunan-Nya. Pengampunan, anugerah serta rahmat itu telah tersedia bagimu selama kamu masih ada di dunia. Namun sekarang, semua itu telah tak ada lagi sebab semuanya sudah terlambat.
Akulah Isa, rahmat dari Allah SWT sebagaimana yang tertulis di dalam Kitab Sucimu. Selain dariku, tidak ada lagi rahmat keselamatan. Seharusnya, hanya kepadakulah kamu berharap dan percaya jikalau kamu memang ingin selamat dari siksaan api neraka. Di samping itu, kalau saja kamu mau percaya kepada apa yang diajarkan dan yang diimani oleh para rasul Allah dan bukan kepada tradisi-tradisi serta hukum-hukum manusia, tentunya kamu akan percaya kepadaku, sebab esungguhnya, para rasul itu telah mengabarkan tentang aku kepadamu. Bagaimana mungkin kamu dapat mempercayaiku jika kamu sendiri tidak mau percaya kepada ajaran dan kesaksian mereka mengenai aku?”
Setelah Isa selesai berkata-kata, dari dalam cahaya ilahi yang menyilaukan keluar suatu perintah:” Singkirkanlah dia!. Masukkan dia ke dalam air belerang yang mendidih yang telah dipersiapkan bagi Syetan dan para pengikutnya.”
Haji Ahmad Sholeh untuk kali yang berikutnya kembali merasakan ada suatu tangan kuat yang mencengkeram dan menyeretnya ke neraka. Semakin lama, dia semakin dapat merasakan panasnya neraka. Namun, sebelum dia binasa oleh pedihnya siksaan neraka, dia terbangun.
Pagi harinya, dia bersyukur dan menyadari bahwa semuanya belum terlambat sama sekali. Dia masih mempunyai kesempatan untuk mempelajari kembali Kitab Suci Allah. Dia masih mempunyai waktu untuk mencari tuntunan kepada Jalan Yang Lurus (shirootul mustaqiim), yang akan menyelamatkannya dari siksaan neraka dan membawanya kepada surga dan hidup yang kekal.
Saudara-saudariku yang terkasih, mungkin kalian semua cukup bangga dengan semua amal baik yang telah kalian lakukan dan kumpulkan selama ini seperti apa yang telah Haji Ahmad Sholeh lakukan. Namun janganlah terkejut seandainya tidak satu pun dari amal baik itu tidak tercatat di sisi Allah SWT. Jika demikian yang sudah pasti akan terjadi, masihkah kalian mau mengandalkan amal baik untuk keselamatan dunia dan akhirat kalian? Sadarkah kalian bahwa semua amal baik itu tidak dapat diterima di sisi Allah sebab semuanya telah ternodai (ternajisi) oleh dosa-dosa kalian? Maukah kalian berseru memohon kepada Allah dan mengharapkan rahmat-Nya?
Sekarang, semuanya terserah kepada saudara-saudariku sekalian. Maukah kalian percaya kepada apa yang telah diajarkan oleh Kitab Suci Allah, ataukah kalian mau menunggu saja sampai semuanya terlambat.
-----------------------------------------------------
----------------------------------------------------- |