YESUS ITU ILAHI ?
Orang Islam menerima Yesus sebagai seorang yang baik dan bermartabat tinggi tetapi menolak keilahianNya. Mereka mengatakan bahwa merekalah satu-satunya golongan manusia yang memberi penghormatan yang sesuai kepada Yesus; tidak seperti orang Yahudi yang mengatakan Yesus adalah anak luar nikah Maria atau seperti orang Kristen yang memuji dan memuliakan Yesus sebagai Allah. Bagi mereka kelakuan seperti ini tidak seharusnya dibuat dan merupakan satu penghinaan kepada Yesus.
"Akulah Allah"
Salah satu kritikan yang coba ditonjolkan oleh orang Islam untuk menyangkal keilahian Yesus berbunyi begini:
Di dalam seluruh Alkitab, Yesus tidak pernah berkata, "Akulah Allah", atau, "Sembahlah saya."
Kalau kita berharap untuk melihat kenyataan di atas dalam Alkitab, memang kita akan kecewa. Memang benar tidak ada catatan dalam Alkitab di mana Yesus secara terus-terang memberitakan keilahianNya. Yesus tidak pernah berbuat demikian, menyebarkan kepada umum identitas dan kedudukanNya yang sebenarnya.
Ketika Yesus memulai pelayananNya, Dia berkata bahwa Dia adalah hamba yang datang "bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45). Yesus telah merendahkan diriNya sebagai manusia supaya Dia dapat melayani mereka. Ini bukan sesuatu yang mustahil. Hal seperti ini terjadi dan berlaku di sekeliling kita. Apabila Presiden kita menyingsingkan lengan bajunya dan turun ke sawah untuk menuai padi yang sudah masak, membuktikan dia berjiwa rakyat, dia tetaplah Presiden kita. Walaupun dia untuk sementara waktu telah turun ke tempat seorang petani, kedudukannya sebagai pemimpin negara tidak pernah berubah.Kita perlu memahami hakikat ini terlebih dahulu, jika kita mau memahami alasan mengapa Yesus tidak pernah berkata 'Aku Allah' secara terbuka.Pelayanan dan pernyataan Yesus berdasarkan tujuanNya datang ke dunia dan bukan untuk menunjukkan identitas pribadiNya. Kalau begitu, adakah Yesus akan menyatakan keilahianNya secara terbuka setelah Dia memilih kehidupan sebagai hamba dengan penuh kerendahan hati?
Saya rasa tidak! Tambahan pula, bolehkah Yesus melayani orang yang sakit, berdosa, miskin, tanpa harapan dan memikul beban yang berat jika Dia mengutamakan pernyataan identitas yang sebenarnya? Jelas jawabannya tidak! Itulah sebabnya Yesus sering melarang orang mengheboh-hebohkan identitasNya yang ilahi.
Dia menyembuhkan semua orang sakit, dan melarang mereka memberitahu orang lain tentang siapa Dia. (Matius 12:15,16).
Yesus, walaupun memiliki sifat Allah, tidak memilih untuk menyatakan aspek tersebut tetapi sebaliknya dia mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama seperti manusia. Kalau ini sengaja dilakukan Yesus, maka tidak masuk akallah jika Dia mengumumkan keilahianNya karena hal itu tidak sejalan dengan maksud Dia menjelma di dunia.
Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:6,7).
Sebenarnya, adalah mudah bagi manusia percaya seandainya Yesus mengakui secara terus-terang identitasNya.
Karena itu orang Yahudi datang berkumpul di sekeliling Yesus. Mereka bertanya, "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." ?" (Yohanes 10:24)
Tetapi Yesus enggan menyatakan identitasNya dengan terus terang karena kepercayaan yang berdasarkan pernyataanNya tidak memerlukan iman lagi. Iman "berarti : yakin sungguh-sungguh akan perkara-perkara yang diharapkan dan mempunyai kepastian akan perkara-perkara yang tidak dapat kita lihat." (Ibrani 11:1). Mungkinkah Yesus menyatakan keilahianNya secara tidak langsung supaya kita bebas menilai tindakan-tindakanNya sehingga membawa kepada pertumbuhan iman yang kokoh? Walaupun Dia tidak menyatakan siapa Dia sebenarNya, saya percaya Yesus telah memperlihatkan siapa diriNya melalui perbuatanNya lalu membiarkan manusia menilai apa yang sebenarnya dinyatakan oleh perkataan dan perbuatanNya itu.
Umat Kristian percaya bahwa Yesus adalah Allah walaupun dia tidak menyatakan ini di manapun bagian Alkitab dengan terus-terang. Cara untuk mengatasi dilema ini bukanlah dengan mencari ayat-ayat tertentu di mana Yesus berkata Dia Allah, tetapi dengan membaca keseluruhan Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, dan merenungkan identitas Yesus yang sebenarnya. Adalah cukup jelas dalam kata-kata dan perbuatannya, bahwa keilahian Yesus diakui dan tidak dapat dielakkan. Dari kata-kata Yesus saja, adalah sangat mengherankan jika kita berpikir bahwa Dia hanyalah manusia biasa saja. Keseluruhan catatan Injil menyatakan pesan ini: Yesus bukan hanya seorang manusia biasa.
Mari kita lihat beberapa contoh daripada Kitab Injil:
Yesus mengakui kewujudannya yang kekal
Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?"
Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." (Yohanes 8:57-58)
Yesus Maha Tahu
Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!"
Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." (Yohanes 1:47-48)
Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." (Yohanes 4:16-18)
Yesus akan menghakimi segala bangsa
Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. (Yohanes 5:22-23)
Yesus Maha Kuasa
Mukjizat-mukjizatNya mengukuhkan kebenaran ini. Memang diakui bahwa nabi-nabi lain juga melakukan mukjizat, tetapi mereka melakukannya dengan memohon kuasa Allah melalui doa. Yesus tidak melakukan ini karena sifat keilahianNya berkuasa melakukan mukjizat. Juga perlu dinyatakan di sini bahwa murid-murid Yesus melakukan berbagai mukjizat dalam nama Yesus:
Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kisah Para Rasul 3:6).
Yesus berkuasa mengampuni dosa
Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"
Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" (Markus 2:5,10-11)
Yesus mengaku datang dari syurga
. . . Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. . Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. (Yohanes 6:38a, 51a)
Yesus akan membangkitkan semua orang yang mati
. . . Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." (Yohanes 6:40)
Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, (Yohanes 11:25)
Kedudukan akhirat semua manusia bergantung kepada tindakbalas mereka kepada identiti Yesus.
Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.".’ (Yohanes 8:24)
Semua hakikat ini menunjuk kepada keilahian Yesus. Semua yang dinyatakan di atas adalah sifat dan hak istimewa Allah yang juga diakui dalam Islam. Apakah dengan menyatakan semua ini, Yesus tidak berkata Dia adalah Allah?
Seringkali Dia dituduh menghina martabat Allah apabila menyatakan hal-hal di atas. Walaupun Dia tahu bahwa tuduhan itu akan membawa kepada hukuman mati, Dia tidak beranjak dari pernyataan-pernyataanNya kontroversial itu.
Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah." (Yohanes 19:7)
Jelaslah bagi Yesus bahwa segala pernyataanNya adalah benar dan diucapkan dengan akal yang waras. Al-Quran memaparkan Yesus sebagai seorang yang benar, waras dan terhormat. Jadi, adalah mustahil untuk Yesus berdusta, apalagi sanggup mati untuk kenyataan-kenyataan yang Dia sendiri anggap salah! Jika kata-kata ini tidak diucapkan oleh Yesus (seperti yang disangka sebagian pihak), apakah Yesus mau mati untuk kenyataan-kenyataan dusta orang lain tentang diriNya?
"Sembahlah Aku"
Pernahkah Yesus berkata kepada orang banyak, "Sembahlah saya"? Ini adalah satu soalan yang sukar dijawab dan jawabannya berkaitan dengan apa yang telah dibicarakan sebelum ini, yaitu pernyataan Yesus akan keilahianNya. Jika Yesus secara umum tidak mengakui diriNya sebagai Allah, apakah patut kita mengharapkan Dia memberitahu orang banyak supaya menyembahNya? Pasti tidak!
Walaupun begitu, Yesus menyatakan keilahianNya dengan jelas dalam kenyataan-kenyataan dan perbuatan-perbuatanNya yang luar biasa. Ketika Dia membuat satu pengakuan atau mukjizat-mukjizatNya, ada orang yang menyembah Dia. Terdapat banyak peristiwa di mana orang menyembah Yesus dan dalam setiap peristiwa itu, Dia tidak pernah menolak atau menghalangi penyembahan mereka.
Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." (Matius 14:33)
Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. (Matius 28:9)
Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. (Matius 28:17)
Untuk menghargai aspek kehidupan Yesus ini, marilah kita membandingkannya dengan pengalaman Paulus dan Barnabas. Kedua hamba Allah ini melarang dan mengutuk orang yang menyembah mereka sambil berkata bahwa mereka adalah manusia biasa walaupun mereka melakukan berbagai mukjizat :
Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru: "Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. . (Kisah Para Rasul 14:13-15).
Atau pengalaman Petrus :
Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus. Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: "Bangunlah, aku hanya manusia saja."
Sebaliknya, Yesus tidak pernah menghalangi siapapun yang datang menyembahNya! Dengan ini, Yesus sesungguhnya berkata, "Sembahlah saya!"
Anak Maryam, Anak Allah
Semestinya tidak ada bantahan mengenai Yesus sebagai anak Maryam. Alkitab menunjukkan bahwa orang yang hidup pada masa Yesus memang mengakui demikian.
Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Markus 6:3)
Pengertian ini datang dari kehidupan dan rupa Yesus sebagai manusia. Karena itu mereka heran bagaimana Dia, anak seorang wanita biasa dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Jelas sekali bahwa Yesus seorang manusia, seorang Yahudi, anak dari Yusuf dan Maryam, seorang tukang kayu yang mempunyai beberapa saudara baik lelaki-laki maupun perempuan. Dia dibesarkan oleh Yusuf dan Maryam dan taat kepada mereka seperti anak-anak lainnya.
Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. (Lukas 2:51-52)
Yesus mencapai kedewasaan seperti manusia biasa dan menampakkan ciri-ciri biasa yang dimiliki semua manusia. Ini termasuk:
Menjadi letih
Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. (Yohanes 4:6)
Makan dan minum
Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya." (Matius 11:19)
Menjadi sedih dan menangis
Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu ... Maka menangislah Yesus (Yohanes 11:33 dan 35)
Wafat
Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya... (Lukas 23:46)
Yesus adalah seperti manusia dalam hampir semua hal. Dia mengalami apa yang manusia lain alami kecuali dosa.
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (Ibrani 4:15)
Banyak orang Islam membangkitkan isu tentang kemanusiaan Yesus. Mereka bertanya:
Sekiranya Yesus adalah Tuhan, mengapa dia makan? Tuhan tidak makan. Mengapa Dia tidur? Tuhan tidak tidur.
Sebenarnya pendekatan perbincangan ini salah pada tempatnya. Pendekatan umat Islam tidak sesuai dengan perbincangan tentang amalan Yesus sebagai manusia. Kesimpulan yang sepatutnya dibuat dengan amalan-amalan Yesus ini ialah bahwa dia manusia dan bukan sebagai bukti yang Dia bukan Allah. Amalan Yesus yang dibangkitkan, membuktikan Yesus adalah manusia tulen. Ini juga kepercayaan orang Kristen yang tidak menafikan kemanusiaan Yesus. Amalan-amalan dan sifat-sifat Yesus ini tidak menyatakan atau menafikan keilahianNya dan karena itu tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk menolak keilahianNya.
Saya percaya kita boleh menyimpulkan bahwa Yesus bukan Allah sekiranya Yesus tidak pernah memberi tanda yang membuktikan keilahianNya. Akan tetapi jika kita telah tunjukkan bahwa Yesus telah membuktikannya, maka kita terpaksa mengakui Yesus sebagai ilahi. Untuk menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan tidak semestinya menghalangi Yesus menjadi manusia, lebih-lebih lagi jika Allah yang telah merancang untuk menjelma sebagai manusia. Hal ini sangat ajaib tetapi tidak mustahil jika kita menghargai kuasa Allah yang tidak terbatas.
Yesus adalah Tuhan dan manusia. Kedua-dua sifat ini telah disatukan di dalam satu pribadi.
Walaupun Dia makan, Dia juga memberi makanan kepada 5000 orang dengan menggunakan lima biji roti dan dua ekor ikan (Yohanes 6:5-13). Dia tidur mengharapkan murid-muridNya percaya akan Dia ketika perahu mereka dihantam ombak karena Dia masih berkuasa walaupun sedang tidur (Markus 4:35-41). Walaupun Dia menjadi letih, Dia mengundang orang banyak untuk datang kepadaNya untuk mendapat kelegaan bagi jiwa mereka (Matius 11:28). Walaupun Dia menderita, Dia menyembuhkan orang yang sakit dan membebaskan orang yang disiksa. Yesus mati dan bangkit pada hari ketiga. Dengan kebangkitannya, Yesus tidak lagi letih atau sakit dan Dia hidup selama-lamanya. Kalau itu adalah pengertian anda tentang Yesus, maka Yesus - manusia tulen itu adalah juga Allah.
Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah."
Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?
Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah--sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yohanes 10:32-38)
Penjelmaan Allah sebagai manusia Yesus adalah satu kenyataan Injil yang jelas. Rasul Yohanes seorang murid dalam Injil tulisannya dengan jelas menyatakan kepada kita bahwa "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah" (Yohanes 1:1). Kita juga diberitahu bahwa "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita," (Yohanes 1:14).
Oleh karena itu Firman yang menjadi manusia dan diam di antara kita bersifat jasmani dan ilahi serta mempunyai keberadaan yang kekal bersama Allah.
Seorang dari anak Allah atau satu-satunya Anak Allah?
Satu kritikan dari pihak Islam yang telah muncul menyatakan bahwa Yesus adalah anak Allah sama seperti semua hamba Tuhan lain yang setia kepada Allah. Dengan ini apa yang ingin disampaikan ialah gelaran ‘Anak Allah’ yang diberikan kepada Yesus bukanlah sesuatu yang unik.
Menurut Ahmad Deedat dalam bukunya ‘ Al-Masih di dalam Islam’, perkataan ‘anak daripada Allah’ merujuk kepada setiap orang yang setia yang menggenapi kehendak dan rancangan Allah. Penyataan Yesus sebagai anak Allah mungkin lebih dekat kepada pengertian "telah menjadi anak Allah karena dia lebih setia kepada Allah berbanding kemampuan setiap daripada kita."
Walaupun istilah ‘anak’ yang diberikan oleh Islam (yaitu hamba yang setia dan taat kepada Allah) tidak begitu salah, Islam membuat kesalahan yang besar dalam ilmu Tafsir karena memberikan maksud ini kepada perkataan ‘anak’ tanpa mengambil apa konteksnya. Penggunaan perkataan ‘anak’ hanya boleh dipahami dalam konteks di mana perkataan tersebut dijumpai. Contohnya:
Kaum Israel dipanggil anak Allah bukan karena mereka menggenapi kehendak Allah tetapi karena mereka dipilih menjadi umat pilihan Allah (Hosea 11:1).
Raja-raja kaum Israel dipanggil anak Allah karena Allah telah mentahbiskan mereka dan memberi kepada mereka pimpinan dan keselamatan.
Adam dipanggil anak Allah karena dia tidak ada ibu bapa dan dicipta oleh Allah (Lukas 3:38).
Umat Kristian adalah anak Allah karena mereka percaya kepada Yesus (Yohanes 1:12). Semua golongan manusia semestinya melakukan kehendak Allah tetapi alasan dasar kenapa mereka dianggap anak Allah adalah karena perhubungan yang Allah sendiri telah tetapkan dengan mereka.
Jelaslah dari contoh-contoh di atas bahwa definisi Islam bagi 'anak' (seperti yang disodorkan Ahmad Deedat) sangat lemah dan tidak berhasil mencakup sepenuhnya skop penggunaan perkataan ‘anak’ dalam Alkitab.
Seperti yang telah dikatakan, inilah kesalahan dasar Islam apabila mentafsirkan setiap penggunaan perkataan ‘anak’ yang berhubungan dengan nama Yesus.
Yesus memanggil Allah dengan nama yang intim, yaitu ‘Abba’, satu panggilan intim untuk bapa yang dipakai pada zaman Yesus (Markus 14:36). Adalah sangat penting bagi kita, untuk mengerti bahwa panggilan ‘Abba’ tidak pernah digunakan oleh orang Yahudi apabila memanggil Allah. Yang menarik, ini hanya digunakan oleh kanak-kanak apabila mereka berbicara dengan bapa kandung mereka. Tambahan pula, apabila merujuk kepada persekutuan dan perhubunganNya dengan Allah dan ketika memanggil Dia, Yesus menggunakan ungkapan intim ‘BapaKu’ dan bukan ungkapan biasa ‘Bapa kami’. Ini menunjukkan kemesraan perhubungan di antara Yesus dan Allah, kemesraan seorang anak dengan bapanya.
Apabila merujuk Allah kepada orang Yahudi, Yesus hanya menggunakan ungkapan ‘Bapamu’ dan bukan ‘Bapa kita’. Dia menggunakan frasa ‘BapaKu’, BapaKu di surga’ atau ‘Bapa’ apabila rujukanNya kepada Allah berkaitan dengan diriNya dan ‘Bapa kamu’ apabila berbicara dengan orang Yahudi. Ini tidak bermaksud ada dua Bapa (Allah), tetapi dua hubungan yang berbeda dengan Allah yang esa.
Ikatan kemesraan yang tiada bandingnya antara Yesus dan Allah menjelaskan persekutuan yang lengkap bukan saja di dalam tujuannya tetapi juga dari segi kepentingannya. Yesus mengajar murid-muridNya untuk percaya bahwa Dia di dalam Allah dan Allah di dalam Dia.
Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. (Yohanes 14:11).
Inilah sebabnya Yesus dapat mengaku bahwa perkataan dan pekerjaannya adalah dari Allah:
Apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. (Yohanes 5:19).
Allah membangkitkan orang yang mati dan memberi hidup, Yesus juga demikian – memberi hidup kepada siapa saja yang Dia kehendaki (Yohanes 5:21).
Allah memiliki hak istimewa menjadi hakim atas manusia, tetapi sekarang Allah menyerahkan penghakiman ini kepada Yesus (Yohanes 5:22).
Allah sedang bekerja, Yesus pun bekerja (Yohanes 5:17).
Apabila kita melihat Yesus, sama seperti melihat Allah (Yohanes 14:9).
Dalam mengenal Yesus kita pun mengenal Allah (Yohanes 8:19).
Percaya kepada Yesus adalah percaya kepada Allah (Yohanes 14:11).
Menghormati Yesus sama seperti menghormati Allah dan membenci Yesus ialah juga membenci Allah (Yohanes 5:23).
Dalam pengertian orang Yahudi (yang tidak coba dibetulkan oleh Yesus), apabila Yesus memanggil Allah sebagai BapaNya sendiri, Dia membuat diriNya sama dan setaraf dengan Allah. Hal ini saja cukup sebagai dasar yang kuat mengapa Yesus dipanggil Anak Allah.
Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. (Yohanes 5:17-18)
Yesus, ketika dipaksa oleh mereka yang menghakimiNya telah menjawab ‘Ya’ kepada pertanyaan mereka: "Apakah kamu Mesias (Kristus), Anak Allah yang hidup?" (Markus 14:61-62). Dengan pengakuan ini Yesus dikutuk bukan karena dia didapati bersalah tetapi karena orang Yahudi tidak mau percaya kepada Dia sebagai Anak Allah. Jika, Yesus dengan tidak sengaja telah menyesatkan orang Yahudi dan sebenarnya bermaksud mengatakan Dia adalah anak Allah dalam maksud yang biasa, apakah Dia rela mau membenarkan diriNya menjalankan hukuman salib yang memalukan itu?
Bukan Yesus saja yang menggelar dirinya Anak Allah. Banyak lagi memanggilnya dengan gelaran ini:
Allah sendiri memanggil Yesus anakNya pada waktu pembaptisan dan penjelmaan Yesus (Markus 1:9,11, 9:7).
Natanael apabila melihat Yesus berkata, "Rabbi, Engkau Anak Allah." Yesus mengambil ini sebagai pengakuan iman Natanael berdasarkan pengetahuanNya yang lebih awal mengenai Natanael (Yohanes 1:49-50).
Yohanes Pembaptis pada pertemuannya dengan Yesus mengaku bahwa Yesuslah satu-satunya Anak Allah (Yohanes 1:34).
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya . (Yohanes 1:18)
Pengertian mengenai perkataan ‘anak tunggal’ menyebabkan banyak orang Islam tersandung karena mereka mengaitkan definisi perkataan ini kepada maksud biasa yang melibatkan aspek kelamin/seks. Perkataan ini tidak semestinya membawa pengertian kelamin/seks/biologi. Perkataan ini berasal dari kata Yunani ‘monogenes’ yang boleh berarti ‘hanya satu’ atau ‘satu-satunya’. Kamus Webster pula menerangkan perkataan ini sebagai ‘menjadi bapa kepada’.
Seseorang itu bisa menjadi anak melalui beberapa cara. Contohnya, di dalam Lukas 3:23, orang Yahudi mengenal Yesus sebagai anak Yusuf dan Maryam. Yusuf dianggap sebagai bapa Yesus, bukan secara biologi tetapi berdasarkan perkawinannya dengan Maryam dan juga karena kedua-duanya telah memelihara Yesus.
Kita telah memahami bahwa perkataan ‘anak Allah’ di dalam Alkitab dipakai dalam konteks yang berlainan dan tidak satupun yang bermaksud ‘anak Allah’ secara jasmani. Oleh karena itu adalah mengherankan bahwa walaupun orang Islam mengerti dengan betul bahwa terdapat banyak sebutan anak Allah dalam Alkitab dan tiada satupun di antaranya yang merujuk kepada pengertian biologi, tersandung dengan perkataan yang sama apabila digunakan untuk Yesus karena mereka menjelaskannya melalui pengertian biologi/jasmani!
Asal Mulanya
Pakar agama Kristian yang tinggal di kalangan orang Islam berpikir bahwa perkataan ‘anak tunggal’ walaupun tidak ada kaitan dengan proses biologi, tidak akan mendapat pertimbangan oleh orang Islam. Mereka berpikir adalah lebih sesuai dengan konteks sekeliling untuk menyampaikan Yesus sebagai anak dalam pengertian asalnya. Artinya, menyatakan bahwa Yesus telah diutus Allah untuk menggenapi rancangan keselamatanNya. Walaupun Yesus dinyatakan sebagai yang diutus, ini mesti dipahami bukan hanya dari segi amanatNya karena ini bisa menyebabkan Yesus hanya seperti nabi-nabi lain yang telah diutus.
Pengutusan Yesus berarti Dia datang atau berasal dari Allah
Jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Biarpun Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, namun kesaksian-Ku itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. . . Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini... Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. (Yohanes 8:14,16,23. Juga lihat Yohanes 5:36, 6:46, 8:42, dan 16:27).
Setelah Yesus menggenapi misiNya, Dia memberitahu murid-muridNya bahwa Dia akan kembali kepada Allah, ke tempat kediaman asalNya. Inilah sebabnya kenapa Yesus mengakui pengetahuanNya mengenai Allah adalah ekslusif.
Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.. (Yohanes 7:29).
Ini juga bermakna Yesus mempunyai keberadaan yang kekal dan memiliki kemuliaan serta kedaulatan bersama dengan Allah bahkan sebelum dunia ini ada! Pengakuan Yesus ini bukan saja menjelaskan penjelmaanNya yang langsung (dari surga ke bumi) tetapi juga sumber kepribadianNya (terbit daripada Allah).
Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. (Yohanes 17:5)
Maka, jelaslah Yesus adalah Allah, kekal bersama Allah, berasal dan diutus oleh Allah.
-----------------------------------------------------
----------------------------------------------------- |