Badan Promosi Parawisata Indonesia(BPPI) dan seluruh komponen penggerak industri parawisata sangat menyayangkan sikap operator tur asing yang menghapus nama Indonesia dalam agenda perjalanan wisata tahunan.
Alasannya, Indonesia tidak aman untuk dikunjungi. Namun nama pulau Bali masih tetap masuk dalam agenda itu karena dinilai masih aman. Padahal kenyataan menunjukkan bahwa hanya beberapa daerah yang kurang aman karena terjadi kerusuhan beberapa waktu lalu. Namun sekarang situasi di beberapa derah tersebut sudah makin kondusif.
Kondisi itu akibat pemberitaan pers asing yang selama ini menyudutkan Indonesia dari segi keamanan dalam negeri. Sehingga sangat mempengaruhi industri parawisata Indonesia.
Direktur BPPI, nyonya Elly Hutabarat yang juga ketua PATA Indonesia Chapter (PIC) mengatakan kepada wartawan di jakarta, bahwa sikap agen biro perjalanan asing menghapus nama Indonesia adalah tidak pada tempatnya. Dalam pertemuan di Berlin, pihak Indonesia telah menjelaskan secara jujur tentang kondisi sebenarnya di Indonesia. Namun hal itu tidak dapat menghubah opini yang telah terbentuk akibat pemberitaan pers asing.
Oleh karena itu menurut Elly Hutabarat, semua pihak terutama penggerak industri pariwisata harus bekerja keras untuk memulihkan nama baik dan citra Indonesia di luar negeri. Hal ini mengingat, parawisata adalah tulang punggung perekonomian nasional. Untuk mengatasinya semakin menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara(wisman) ke Indonesia, maka sector kunjungan wisatawan nusantara(wisnu) harus di garap karena memang sangat potensial.
Diakuinya, bahwa selama ini pihak industri pariwisata terkesan melupakan potensi dalam negeri yang sangat besar. Sehingga banyak penggerak pariwisata Indonesia yang justru mengabaikan warga negaranya sendiri. Ada bukti bahwa penggerak pariwisata selama ini justru lebih memberikan perhatian kepada wisman.
Akibatnay kualitas pelayanan kepada wisnu sangat rendah. Dalam rangka membangkitkan kembali minat wisnu berwisata di negaranya sendiri, maka pihak BPPI dan PATA serta semua komponen industir pariwisata Indonesia mengadakan acara Pesta Wisata Nusantara (PWN) di Jakarta Convention Center. Kegiatan ini merupakan ajang pariwisata yang pertama untuk memperkenalkan secara detil industri pariwisata Indonesia kepada masyarakatnya sendiri.
Tujuannya untuk lebih meningkatkan kesadaran menjadi wisnu yang baik.
Dengan berbagai promosi tentang potensi wisata di Indonesia, maka diharapkan dalam lima tahun mendatang masyarakat Indonesia menjadi wistawan di negaranya sendiri. Promosi itu sudah menjadi program BPPI dengan berkeliling ke daera- daerah yang potensial agar lebih meningkatkan kesadaran menjadi wisatawan domestik. Sehingga ketergantungan kita tehadap wisman semakin kecil.
Namun program BPPI itu justru dinilai beberapa kalangan hanyalah upaya sesaat untuk menutup "kesombongan" masa lalu yang lebih mengandalkan wisman ketimbang wisnu. Situasi yang tidak menguntungkan seperti sekarang ini membuat program BPPI sesaat beralih ke wisnu.
Sehingga timbul kekhawatiran pada beberapa kalangan. Mungkinkah setelah ekonomi Indonesia pulih kembali, orientasi industri parawisata akan kembali ke wisman?. Namun kekhawatiran itu dibantah Ely Hutabarat. Alasannya, jika mulai sekarang masyarakat Indonesia dibina dan dikenalkan pada parawisata nusantara, maka akan terlihat betapa pentingnya peran wisnu dalam industri pariwisata.
Untuk itu dalam ajang PWN nanti, pengunjung atau wisnu dapat membeli langsung produk-produk wisata. Seperti kesempatan belanja berbagai keperluan untuk berwisata yang dijual bebas selama acara itu berlangsung.
Dalam acara tersebut seluruh penggerak pariwisata akan menawarkan produk-produk menarik dengan diskon. Peserta PWN adalah dari kalangan perhotelan,kapal pesiar, pembuat suvenir, stasiun televisi, dinas parawisata dari beberapa daerah, restoran dan kafe, perusahaan telekominikasi, pengusaha kerajinan tangan, perusahan penerbangan, pusat perbelanjaan, biro perjalanan umum, taman hiburan dan perusahan minum serta makanan.