Perdana Menteri Cina Zhu Rongji batal berkunjung ke Candi Borobudur. Sedianya dia akan mengunjungi bangunan peninggalan Dinasti Syailendra tahun 800-an di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Batalnya kunjungan itu justru menjadi "keberuntungan" menemukan kenyataan, betapa candi dari bahan batu andesit tersebut, dihantui kemerosotan fisik. Maklum, sehari sebelumnya, Balai Sudi dan Konservasi Borobudur mengungkapkan temuannya bahwa sisi barat daya bangunan candi mengalami penurunan 1,7 cm. Untuk bangunan yang memiliki sisi dasar sepanjang 123 meter (model bujur sangkar)dengan tinggi 42 meter, angka penurunan 1,7 cm itu tentu belum signifikan. Menurut pakar teknik geodesi dari Universitas Gadjah Mada(UGM)Yogyakarta, Bilal Makruf ST MT, angka penurunan itu masih perlu dikaji lebih jauh dengan berbagai pendekatan, termasuk geoteknik. Kepala Bali Studi dan Konservasi Borobudur Dukut Santoso menilai, angka penurunan itu masih dalam batas toleransi dan belum sampai mengubah struktur bangunan candi. Malah, Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur Wagiman Subiarso menilai, isu itu tak perlu dibesar-besarkan . Katakanlah Dukut dan Wagiman benar, namun masalahnya tidak sederhana. Apalagi kalau dikaitkan dengan sejarah dan pamor Borobudur sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia, sebaigaimana Tembok Cina sepanjang 2.450 km. Jangan lupa, Borobudur obyek wisata biasa, seperti halnya Tembok Cina itu. Borobudur adalah bangunan suci agama Budha. Stupa Borobudur merupakan tiruan alam semesta yang menurut filsafat ajaran Budha terdiri atas tiga bagian besar; kamadhatu(alam bawah, kehidupan dunaiwi) rupadhatu(alam antara, tempat manusia meninggalkan ke duniawan), dan arupadhatu(alam atas, tempat berdiam para dewa). Relief pada dinding pun sarat dengan muatan filosofi. Oleh karena itu, Borobudur berfungsi sebagai obyek wisata sejarah. Candi itu selalu menjadi pusat perhatian dunia, setiap kali umat Budha memperingati Waisyak.