Angin Surga
         Terminal Musik Indonesia

Membawa : Sesekali ke Museum, Jangan ke Mal....Melulu



Beberapa siswi Sekolah Menengah Umum atau Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ( SLTA ) mengaku merinding ketika melihat penjara tua yang terletak di bagian bawah Museum Sejarah Jakarta. Penjara tersebut bukan hanya sempit dan pengap, tetapi juga menimbulkan kesan seram karena puluhan bola besi yang dulunya diikatkan pada kaki para tahanan, masih tersimpan rapi hingga saat ini.
Dengan antusias mereka menanyakan kepada pemandu perihal sejarah tersebut, termasuk penjara bawah air yang terletak dibagian muka museum. Sesekali diantara siswa tersebut menanyakan perihal gedung museum yang dibangun tahun 1707 dan dulunya dijadikan Balaikota Batavia tersebut. Sikap antusias dan rasa ingin tahu juga ditunjukan sejumlah siswa SLTP dan SLTA saat mengunjungi Museum Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat. Selain menyimak penjelasan pemandu, beberapa murid dengan serius mencatat benda
benda koleksi museum berupa peninggalan zaman prasejarah, peninggalan masa Hindu-Buddha, Islam hingga masa penjajahan Belanda.

Dengan hanya membayar tiket masuk Rp 600 untuk pelajar dan Rp 2.000 untuk dewasa sesuai perda No 3/1999, pengunjung sudah bisa mendapat pengetahuan dan pengalaman berharga dari kunjungannya ke museum. Tiket ini jauh lebih murah dibandingkan tiket masuk tempat wisata hiburan yang bisa mencapai Rp 32.000 per orang. Itu pun harus membayar karcis tambahan jika ingin menikmati fasilitas
hiburan lainnya. Di seberang jalan menjulang Monumen Nasional ( Monas ) - yang tamannya tak pernah selesai dibenahi itu- dengan tugu
emas seberat 35 kilogram yang menggambarkan " nyala api nan tak kunjung padam ". Jangan ngaku orang Jakarta, jika baru melihat Tugu Monas dari luar atau dari kejauhan. Selain bisa mencapai ketinggian, di bawah Monas juga terdapat museum diorama yang menggambarkan perjalanan bangsa Indonesia hingga Merdeka.

" Ada Suara papahnya Megawati ngomong kita udah Merdeka," cerita Bentang, siswa SD Cikal Harapan, Serpong, Tangerang, sepulang mengunjungi obyek wisata  bersama sekolahnya. Di " Ruang Kemerdekaan " pengunjung dapat melihat naskah asli Proklamasi Kemerdekaan serta rekaman suara asli pembacaan naskah Proklamasi oleh Bung Karno, 17 Agustus 1945.
Tidak hanya Museum Sejarah Jakarta dan Museum Nasional yang menarik untuk dikunjungi. Di Jakarta terdapat 64 museum yang bisa dikunjungi setiap hari (kecuali hari Senin yang merupakan hari libur museum)dengan beragam koleksi yang dipamerkan.
Jika ingin melihat koleksi benda-benda peninggalan zaman prasejarah seperti patung, prasasti dan senjata purbakala bisa dilihat di Museum Nasional. Museum yang dibangun tahun 1778 ini memiliki koleksi 109,342 benda budaya bernilai tinggi, termasuk benda purbakala emas yang baru-baru ini ditemukan di Klaten, Jawa Tengah.

Sedangkan jika ingin melihat benda-benda etnografi Betawi, maupun benda-benda bersejarah dari masa Hindu-Buddha, Islam hingga masa kolonialis Belanda, bisa di saksikan di Museum Sejarah Jakarta. Di museum ini juga bisa dilihat koleksi mebel, senjata, keramik, mata uang, alat musik, lemari dan berbagai benda lainnya berumur ratusan tahun. Persis di sebelah timur Museum Sejarah Jakarta terdapat Mueum Senirupa dan Keramik yang memiliki koleksi keramik dari seluruh Tanah Air. Di gedung museum yang bertiang tinggi dan bergaya Romawi ini juga tersimpan rapi keramik dari berbagai negara hampir seluruh dunia seperti Cina, Eropa, Vietnam, Timur Tengah, hingga Thailand. Tak jauh dari museum ini, terdapat pula Museum Bahari yang menyajikan koleksi perahu klasik zaman VOC, perahu nelayan dari seluruh Nusantara hingga peralatan bantu pelayaran seperti jangkar, teropong dan alat-alat navigasi. Selain bisa menikmati koleksi benda-benda kebaharian, pengunjung bisa menikmati bangunan monumental yang dijadikan museum yang terbuat dari kayu jati yang dibangun mulai tahun 1718.

Sementara itu, jika ingin melihat koleksi batik dan tenunan Indonesia lengkap dengan peralatannya, bisa dilihat di Museum Tekstil, Jalan
KS Tubun, Tanah Abang, Jakarta. Di museum ini tersimpan 1.052 koleksi tekstil dari seluruh Indonesia dan yang tertua berbentuk bendera Cirebon berumur 224 tahun. Sedangkan jika ingin melihat benda-benda bersejarah yang umurnya lebih muda dan digunakan saat mengusir kolonialis Belanda, bisa dilihat di Museum Sastriamandala, Jalan Gatot Subroto. Gambaran hebatnya perjuangan fisik saat perang kemerdekaan, bisa dilihat dari diorama yang tersaji di museum ini. Pendek kata, berwisata tidak identik dengan biaya mahal dan hura-hura. Waktu libur bisa dimanfaatkan dengan berwisata mengunjungi museum yang harga karcisnya murah dan tentu berfaedah.
Mungkin menarik, jika orang tua-apalagi saat liburan sekolah-mulai mengarahkan anak-anaknya ke obyek-obyek wisata bersejarah Ibu Kota. Ya, setidaknya langkah itu lebih " ilmiah dan terpelajar " dibandingkan kunjungan ke mal atau superstore setiap akhir pekan, yang cenderung tidak kreatif.

Info : Kompas
 

 Kembali


Hosted by www.Geocities.ws

1