Angin
Surga
Membawa : Sesekali ke Museum, Jangan
ke Mal....Melulu
Dengan hanya membayar tiket masuk Rp 600 untuk pelajar
dan Rp 2.000 untuk dewasa sesuai perda No 3/1999, pengunjung sudah bisa
mendapat pengetahuan dan pengalaman berharga dari kunjungannya ke museum.
Tiket ini jauh lebih murah dibandingkan tiket masuk tempat wisata hiburan
yang bisa mencapai Rp 32.000 per orang. Itu pun harus membayar karcis tambahan
jika ingin menikmati fasilitas
hiburan lainnya. Di seberang jalan menjulang Monumen
Nasional ( Monas ) - yang tamannya tak pernah selesai dibenahi itu- dengan
tugu
emas seberat 35 kilogram yang menggambarkan " nyala api
nan tak kunjung padam ". Jangan ngaku orang Jakarta, jika baru melihat
Tugu Monas dari luar atau dari kejauhan. Selain bisa mencapai ketinggian,
di bawah Monas juga terdapat museum diorama yang menggambarkan perjalanan
bangsa Indonesia hingga Merdeka.
" Ada Suara papahnya Megawati ngomong kita udah Merdeka,"
cerita Bentang, siswa SD Cikal Harapan, Serpong, Tangerang, sepulang mengunjungi
obyek wisata bersama sekolahnya. Di " Ruang Kemerdekaan " pengunjung
dapat melihat naskah asli Proklamasi Kemerdekaan serta rekaman suara asli
pembacaan naskah Proklamasi oleh Bung Karno, 17 Agustus 1945.
Tidak hanya Museum Sejarah Jakarta dan Museum Nasional
yang menarik untuk dikunjungi. Di Jakarta terdapat 64 museum yang bisa
dikunjungi setiap hari (kecuali hari Senin yang merupakan hari libur museum)dengan
beragam koleksi yang dipamerkan.
Jika ingin melihat koleksi benda-benda peninggalan zaman
prasejarah seperti patung, prasasti dan senjata purbakala bisa dilihat
di Museum Nasional. Museum yang dibangun tahun 1778 ini memiliki koleksi
109,342 benda budaya bernilai tinggi, termasuk benda purbakala emas yang
baru-baru ini ditemukan di Klaten, Jawa Tengah.
Sedangkan jika ingin melihat benda-benda etnografi Betawi, maupun benda-benda bersejarah dari masa Hindu-Buddha, Islam hingga masa kolonialis Belanda, bisa di saksikan di Museum Sejarah Jakarta. Di museum ini juga bisa dilihat koleksi mebel, senjata, keramik, mata uang, alat musik, lemari dan berbagai benda lainnya berumur ratusan tahun. Persis di sebelah timur Museum Sejarah Jakarta terdapat Mueum Senirupa dan Keramik yang memiliki koleksi keramik dari seluruh Tanah Air. Di gedung museum yang bertiang tinggi dan bergaya Romawi ini juga tersimpan rapi keramik dari berbagai negara hampir seluruh dunia seperti Cina, Eropa, Vietnam, Timur Tengah, hingga Thailand. Tak jauh dari museum ini, terdapat pula Museum Bahari yang menyajikan koleksi perahu klasik zaman VOC, perahu nelayan dari seluruh Nusantara hingga peralatan bantu pelayaran seperti jangkar, teropong dan alat-alat navigasi. Selain bisa menikmati koleksi benda-benda kebaharian, pengunjung bisa menikmati bangunan monumental yang dijadikan museum yang terbuat dari kayu jati yang dibangun mulai tahun 1718.
Sementara itu, jika ingin melihat koleksi batik dan tenunan
Indonesia lengkap dengan peralatannya, bisa dilihat di Museum Tekstil,
Jalan
KS Tubun, Tanah Abang, Jakarta. Di museum ini tersimpan
1.052 koleksi tekstil dari seluruh Indonesia dan yang tertua berbentuk
bendera Cirebon berumur 224 tahun. Sedangkan jika ingin melihat benda-benda
bersejarah yang umurnya lebih muda dan digunakan saat mengusir kolonialis
Belanda, bisa dilihat di Museum Sastriamandala, Jalan Gatot Subroto. Gambaran
hebatnya perjuangan fisik saat perang kemerdekaan, bisa dilihat dari diorama
yang tersaji di museum ini. Pendek kata, berwisata tidak identik dengan
biaya mahal dan hura-hura. Waktu libur bisa dimanfaatkan dengan berwisata
mengunjungi museum yang harga karcisnya murah dan tentu berfaedah.
Mungkin menarik, jika orang tua-apalagi saat liburan
sekolah-mulai mengarahkan anak-anaknya ke obyek-obyek wisata bersejarah
Ibu Kota. Ya, setidaknya langkah itu lebih " ilmiah dan terpelajar " dibandingkan
kunjungan ke mal atau superstore setiap akhir pekan, yang cenderung tidak
kreatif.
Info : Kompas