Angin Surga

        Terminal Musik Indonesia

Membawa :  Museum Sepuluh November(M.S.N.Jl.Pahlawan Surabaya)


  Setelah menunggu sembilan tahun, akhirnya arek-arek Suroboyo, Museum Sepuluh November(MSN) diresmikan.Dengan diresmikannya MSN semakin mengukuhkan Surabaya sebagai kota Pahlawan. Presiden Abdurachman Wahid, meresmikan museum ini setelah merayakan Tahun Baru Imlek ke 2551 bersama Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Jawa Timur.
Diresmikannya museum yang berada di kedalaman 100 meter di bawah Tugu Pahlawan ini, akan menambah meseum di Surabaya. Selama ini Surabaya hanya mempunyai satu museum, yakni Museum MPU Tantular.Museum Sepuluh November(MSN) berada di areal yang sama dengan Tugu Pahlawan. Di Dalam areal seluas 2,5 hektar itu terdapat juga lapangan upacara, viaduct rel kereta api, dan patung Proklamator. Untuk mendesain dan merencanakan Tugu Pahlawan serta MSN, pemda Kotamadya Surabaya membuat sayembara pada tahun 1988. Kemudian, hasil rancangan para pemenang sayembara dirangkum Tim Perencana Institut Teknologi Sepuluh November(ITS)Surabaya.
Dari hasil rangkuman tersebut, maka dibuatlah MSN yang mempuyai ruang pamer utama dua lantai seluas 1.366 meter persegi. di ruang itu dipamerkan benda-benda bersejarah dan diorama statis. Benda-benda bersejarah yang di pamerkan berupa alat-alat perlengkapan perang.Selain itu ada ruang perpustakaan, auditorium, dan ruang diorama elektronik yang menyajikan peristiwa pertempuran Surabaya 1945
                                                                    **********
Pelaksanaan proyek pembangunan di mulai pada tanggal 10 november 1991, yang dibagi dalam beberapa tahapan.Pembangunan ini terpaksa di buat bertahap karena kendala anggaran.Hingga sembilan tahun berjalan, pekerjaan fisik ini pun baru mencapai 97 persen.Relief pagar, patung pahlawan tak dikenal, sound system dan lukisan perjuangan, hingga kini belum selesai dilaksanakan.
"Kami Berharap sisa pekerjaan bisa diselesaikan pada tahun anggaran 2000 ini. Akan tetapi, ini pun juga jika APBD memungkinkan.
Sedangkan menyangkut pengisian  monumen berupa benda-benda bersejarah tergantung uluran warga Surabaya, terutama keluarga Pejuang".kata Asisten II Pemda Surabaya Ir.Alisyahbana.
Sampai tahun anggaran 1999/2000 kata Alisyahbana, proyek ini telah menghabiskan dana sebesar Rp 33,23 milyar. Dana pembangunan berasal dari berbagai sumber di antaranya, Dewan Harian Daerah 1945 (DHD`45) Jatim. APBD Jatim, APBD Kodya Surabaya, dan partisipasi warga Surabaya. Namaun karena pekerjaan belum selesai maka masih dibutuhkan lagi dana sekitar Rp 2,135 milyar.

Monumen Sepuluh November ini berlokasi di jalan Pahlawan dengan jarak sekitar 500 meter dari jembatan merah. Jembatan ini menjadi terkenal karena lokasi peristiwa tewasnya Brigjen Mallaby, 30 oktober 1945. Mallaby tewas saat pejuang Indonesia bentrok dengan tentara Belanda. Sedangkan Tuga Pahlawan yang berbentuk paku terbalik dengan tinggi 40,5 meter, diameter bawah 3,1 meter dan atas 1,3 meter, dibangun sebagai simbol arek-arek Suroboyo menghadang tentara.Sekutu ketika hendak menduduki kembali Kota Surabaya.
Tugu dibangun di lokasi bersejarah yakni di atas bekas gedung Raad Van Justicie(gedung pengadilan tinggi) pada masa penjajahan Belanda. Sedangkan masa penjajahan Jepang gedung itu dijadikan markas Kempetai. Gedung yang persis berhadapan dengan Kantor Gubernur Jawa Timur itu, hancur pada pertempuran 10 november 1945.

Di pintu masuk Tugu Pahlawan didirikan patung Proklamator Soekarno- Hatta yg sedang membacakan teks proklamasi. Di sekeliling tugu ini ditanami bunga bougenvile dan kamboja merah dan putih. Kemegahan Tugu Pahlawan tampak dengan latar belakang bangunan berbentuk piramida yang di pakai untuk museum. Menuju Museum, pengunjung harus melalui lorong, bisa menggunakan tangga biasa, elevator, atau lif. Saat memasuki Museum tak terasa pengunjung selaholah terbawa ke masa lalu, masa perjuangan arek-arek Suroboyo sambil menikmati segernya hurum bunga melati.

H- 1, pekerjaan museum terus dikebut, termasuk ndandani Gedung Negara Grahadi di Jl Gubernur Suryo(Jl.Pemuda). Gedung negara itu menurut kabar direncanakan sebagai tempat menginap President Abdurahman Wahid atau Gus Dur, sedangkan rombongannya termasuk  Paspampres diinapkan di Hotel Simpang yang berdampingan dengan Grahadi. Ruangan berukuran 10 x 15 meter di sayap kiri gedung itu dipercantik, dindingnya dipasang wall paper serta tersedia fasilitas untuk kursi roda. Gedung yang selama ini digunakan sebagai tempat berbagai acara, kini tampak gemerlap dan mirip seperti suite room hotel berbintang lima.

Info: Kompas


Hosted by www.Geocities.ws

1