|
SUAKA MARGASATWA
DANAU SENTARUM
|
MASYARAKAT
Kawasan SMDS
Kawasan ini menghasilkan berbagai sumberdaya alam sehingga menarik
minat manusia untuk datang dan tinggal di kawasan ini. Pada Tahun 1996,
lebih dari 6800 orang menetap di dalam kawasan yang tersebar dalam lebih
dari 45 dusun permanen dan 10 dusun musiman. Pada musim kemarau, jumlah
meningkat hingga 8900 orang. Selain suku Melayu, kawasan ini juga dihuni
suku Dayak Iban, Embaloh dan Kantuk.
Sebagian suku Dayak tinggal di daratan dan hulu-hulu sungai yang mengalir
kei kawasan SMDS. Sebagian besar masyarakat pedalaman masih tinggal di
rumah panjang , yang dihuni 15 - 30 keluarga, dan menjalankan upacara-upacara
adat pada masa tertentu. Namun demikian banyak juga yang telah hidup dalam
perkampungan modern , satu rumah untuk satu keluarga. Mata pencaharian
mereka yang utama adalah berburu, berladang dan menanam padi. Sebagian
juga hidup sebagai pedagang dan bekerja di Malaysia. Jenis padi yang ditanam
sangat beragam sampai 42 jenis padi lokal.
Suku Melayu tinggal di kampung-kampung yang terdapat dipinggir danau
dan sungai. Mereka tinggal dalam rumah yang disangga tiang-tiang
, dan sebagian lagi di rumah lanting dan bandung. Sebagian besar bermata
pencaharian sebagai nelayan (penangkap ikan). Mereka juga mengumpulkan
rotan, madu, kayu dan sarang burung untuk dimakan sendiri maupun dijual.
Penduduk yang mata encahariannya sebagai penebang kayu, petani dan pedagang
sangatlah sedikit. Sebagian besar kampung Melayu di kawasan SMDS bersifat
menetap, dan pada musim banjir mereka sulit mendapatkan ikan, sehingga
penduduk membudidayakan ikan dalam keramba, sebagai tabungan. Pedagang
hasil ikan dan hasil alam lainnya dilakukan melalui toko-toko terapung
yaitu perahu dagang yang disebut "bandung". Para pedagang membeli hasil
ikan dari nelayan, dan menjual berbagai kebutuhan hidup kepada penduduk.
Ketergantungan penduduk terhadap SMDS sangat besar. Mereka mendapatkan
makanan dan penghasilan dari danau dan hutan-hutan sekitar danau. Jika
dicoba dijumlahkan, maka hasil sumber daya alam dari dalam kawasan dapat
mencapai lebih dari 6 (enam) milyar rupiah per-tahun , sebagai hasil pengambilan
ikan, ikan hias, kayu, madu dan rotan.
Jumlah penduduk yang bermukim disini terus meningkat karena adanya
kelahiran baru maupun masuknya para pendatang dari luar kawasan. Jumlah
sumberdaya alam yang dapat dihasilkan oleh SMDS cenderung tetap , bahkan
semakin menurun dari tahun ke tahun. Sementara itu gangguan terhadap alam
dan pencemaran semakin meningkat.
Masyarakat setempat memenuhi kebutuhan hidupnya antara lain dengan
menangkap ikan, mengambil hasil hutan (madu, rotan, kayu) dan berburu.
Berbagai cara tradisional yang pernah digunakan dan dapat menjaga kelestarian
sumberdaya alam, mulai ditinggalkan dan diganti dengan cara-cara baru.
Sayang sekali beberapa cara yang digunakan itu ada bersifat merusak.
Akibatnya hasil ikan, hutan, dan binatang buruan semakin lama semakin menurun.
Dan tanpa disadari, apabila danau dan hutan-hutan itu rusak, penduduk setempatlah
yang pertama kali akan kehilangan mata pencaharian.
Saat ini kelestarian kawasan SMDS terancam karena adanya beberapa kegiatan
manusia antara lain :
-
perladangan berpindah dan pengembangan ; perkebunan dan kawasan konservasi
;
-
penggunaan racun alam dan buatan (sianida) untuk menangkap ikan ;
-
pengambilan flora-fauna (termasuk jenis-jenis yang endemik dan langka)
secara berlebihan ; serta ;
-
pembukaan lahan untuk pemukiman.
Beberapa ancaman yang berasal dari luar kawasan, dan dikhawatirkan dapat
mengancam kelestarian vegetasi rawa dan jumlah ikan di SMDS antara lain
adalah sebagai berikut :
-
rencana perubahanpemanfaatan tanah di daerah tangkapan Sungai Kapuas bagian
hulu, antara lain pembukaan hutan rawa untuk perkebunan dan pertanian,
pembangunan jalan di tengah hutan, serta rencana pembuatan dam ;
-
penebangan kayu di daerah luar dan sekitar kawasan lindung ;
-
penambangan emas yang banyak dilakukan sepanjang cekungan Kapuas, terutama
pada musim kemarau.
|
|