PERENCANAAN KOTA Perencanaan kota Kotagede memiliki karakter khusus. Ada istana, alun-alun, bangunan-bangunan tradisional, jalan-jalan yang berhubungan satu sama lain di pusat kota. Semuanya membentuk suatu persegi empat (Tjandrasasmita 1975:5-6) Di samping itu karakter khusus Kotagede dapat dilihat dari toponim rumah-rumahnya. Ada banyak perubahan dalam fungsi arsitektur rumah-rumah sekarang ini. Sebagai contoh : Alun-alun, saat ini telah penuh dengan rumah penduduk, bangunan istana telah menjadi sebuah pemakaman dengan rumah-rumah di sekelilingnya. Pusat kota bukan di istana lagi tetapi pasar. Pasar sendiri tetap menjadi pusat kota sampai saat ini. Hal tersebut merupakan salah satu elemen dari catur tunggal, konsep tradisi Jawa mengenai perencanaan kota : istana, alun-alun, masjid dan pasar dengan sebuah pola yang tetap. Meskipun sekarang ini banyak terjadi perubahan fungsi arsitektur, pada umumnya perencanaan kota Kotagede tetap mencerminkan struktur awal ketika dibangun. Tembok di sekeliling istana dan di sekeliling kota masih dapat dijumpai. Ada satu jagang (parit) di luar tembok istana. Saat ini, parit di sekeliling tembok istana menjadi jalan penghubung kampung (kampung nDalem dan kampung Kedaton) di sekitar istana. Di samping kampung terdapat pula kampung Ledhok. Nama Ledhok menunjukkan bahwa terdapat parit di lokasi pada masa lampau. Parit yag mengelilingi kota, sekarang berubah menjadi sawah khususnya di bagian timur kota. Masih ada bekas parit di kampung Tinalan yang sekarang menjadi perumahan Sendok Indah. Nama Sendok Indah berasal dari istilah Basen Ledhok. Terdapat sungai Gadjah Wong di sebelah barat kota yang memiliki 2 fungsi ganda, di samping sebagai sebuah sungai yang memberikan air untuk parit juga sebagai parit itu sendiri di bagian barat kota. Dari nama kampung kita bisa melihat bahwa rumah penduduk yang padat terletak di sekeliling istana, pasar dan lingkar jalan utama. Nama kampung menunjukkan kelompok masyarakat yang didasarkan pada profesi, status sosial, nama orang atau aktifitas pertanian penduduk yang tinggal di beberapa wilayah. Nama-nama kampung terpengaruh oleh perencanaan kota Kotagede. Di sebelah timur pasar Kotagede, kita bisa melihat bahwa rumah penduduk yang padat terletak di sebelah istana, pasar dan lingkar jalan utama. Nama kampung menunjukkan kelompok masyarakat yang didasarkan pada profesi, status sosial, nama orang atau aktifitas pertanian penduduk yang tinggal di beberapa wilayah. Nama-nama kampung terpengaruh oleh perencanaan kota Kotagede. Di sebelah timur pasar Kotagede, kampung Pandeyan (Pande berati pande besi), kampung Boharen (Buchari nama pendiri kampung), kampung Selokraman (Selokromo berarti sepasang batu), di sebelah selatan dan tenggara pasar Kotagede, kampung Alun-alun, kampung Kedaton, dan kampung nDalem menunjukkan peninggalan arkeologis istana, di sebelah utara pasar Kotagede, kampung Lor Pasar (rumah peninggalan Panembahan Senopati menjadi raja dan memiliki panggilan Hangabehi Loring Pasar yang berarti Pangeran Utara Pasar, kampung Prenggan (P. Pringgalaya). Di sebelah barat pasar terdapat kampung Sayangan (Sayang berarti pengrajin tembaga), kampung Jagalan (Jagal berarti : tempat untuk penjagalan). Di luar wilayah utama Kotagede terdapat kampung Tegal Gendu. Di masa lampau ada sebuah komunitas masyarakat yang disebut Kalang yang memiliki keahlian dalam arsitektur jaman Mataram. Mereka memiliki posisi sebagai Demang Kalang. Mereka mempunyai tugas untuk menjaga kondisi fisik bangunan-bangunan dan mengawasi masyarakat Kalang. Masyarakat Kalang tinggal di kampung Tegal Gendu di sebelah barat sungai Gadjah Wong di luar Kotagede. |
| RAMBLING THROUGH KOTAGEDE |
| page2 |
![]() |