ARSITEKTUR RUMAH


Arsitektur rumah memiliki  posisi yang menonjol di Kotagede, karena jumlah bangunan di Kotagede sangat terbatas. Hanya ada 4 tipe yang menonjol yaitu : perumahan/pemukiman, Masjid Besar Mataram, bangunan-bangunan di dalam kompleks Panembahan Senopati dan pasar Kotagede.

Hanya ada satu masjid besar di Kotagede. Pemakaman dekat dengan penduduk, karena ada banyak syarat untuk memasuki pemakaman . Pasar kotagede hanya ada satu meskipun berubah setiap waktu. Salah satu yang cukup besar adalah perumahan, tetapi rumah-rumah tersebut memiliki karakter berbeda dengan tempat lain.

Konsep arsitektur tradisional Jawa menjadi bagian dari sistem kebudayaan Jawa yang difokuskan pada istana sebagai orientasi pusat. Rumah-rumah dengan arsitektur tradisional menciptakan kesan fisik Kotagede sebagai sebuah daerah yang penuh dengan karakteristik Jawa.

Rumah-rumah tradisional Jawa memiliki bermacam-macam struktur, dari struktur sederhana seperti panggang pe, kampung, limasan, sampai struktur yang kompleks seperti joglo sebagai puncak arsitektur Jawa. Ada sekitar 170 joglo di Kotagede pada tahun 1985. Kebanyakan joglo  terdapat di Kelurahan Jagalan, Alun-alun, Purbayan, Prenggan, Basen yang secara historis terletak di Kraton Mataram. Pada umumnya joglo dibangun pada  pertengahan abad ke-19, meskipun beberapa diantaranya dibangun sebelum itu.


Sekarang jumlah Joglo berkurang sebagai contoh akibat dari kebutuhan ruang interior yang berubah. Beberapa bangunan yang dibangun pada tahun 1886 telah diruntuhkan dan diganti dengan bangunan modern. Sebagai contoh, rumah Ahmad Dalem Mustahal di kampung Prenggan dan rumah Kanjeng Martalaya di kampung Citran telah diubah. Selain itu rumah Sopingen baru saja dijual.

Rumah paling tua adalah rumah Prawiradiharja di kampung Citran. Rumah tersebut dibangun pada tahun 1750. Rumah terakhir yang masih memiliki ruang interior tradisional adalah rumah nGudirahardja di kampung Basen. Kotagede mewakili kota tradisional Jawa karena Kotagede memiliki banyak arsitektur rumah tradisional yang tetap utuh dan terlindungi.
back to page 2
home
YAYASAN KANTHIL
(LEMBAGA PENGEMBANGAN SENI BUDAYA DAN PARIWISATA KOTAGEDE)

CENTRE FOR ART, CULTURE AND TOURISM DEVELOPMENT OF KOTAGEDE

Kudusan 76 A
(Rumah Lurah Jagalan)
Kotagede Yogyakarta


phone : 62-274-378484
email : [email protected]
http://www.geocities.com/kanthilkotagede
page 3
THE ARCHITECTURE OF HOUSES

The housing architecture has a prominent position in Kotagede, because the variety of buildings in Kotagede is very limited.

There are only four prominent types of building, e.g : housing, the great Mosquerelic of Mataram Kingdom, the building inside the complex of Panembahan Senopati Graveyard, and Kotagede Market . There is only one Great Mosque. The graveyard close to people, because there are many requirements to enter the graveyard. The Kotagede market is only one, although it has already changed many times. The only one that is great enough is housing, but the houses have different characteristic from other place.

The concept of Javanese traditional architecture become part of the system of Javanese culture that focused on palace as central orientation. Housing with traditional architecture build physical image of Kotagede as an a region with full of Javanese characteristic.

Javanese traditional houses have the variety of structure, from the simple structure such as Panggang Pe, Kampung, Limasan, to the complex one e.g : Joglo as the top of Javanese architecture. There were 170 joglos in Kotagede in 1985. Most of the joglos are in Kalurahan Jagalan, Alun-alun, Prenggan, Basen, Purbayan that historically situated in Mataram Palace.

Generally the joglo was built in 1886 have already collapsed and were replaced by modern one, for example Ahmad Dalem Mutahal`s house in Prenggan and Kanjeng Martalaya`a house in Citran were already changed and Sopingen`s house has just been sold.

The oldest house is Prawiradihardha`s house in Kampung Citran. It was built in 1750. The last one that still has traditional interior space is Ngudirahardja`s house in Kampung Basen. It was built in 1942. Kotagede is the representatif of Javanese traditional city because Kotagede has a lot of traditionally architectural houses which are still complete and preserves.
go to page 4
RAMBLING
THRU
KOTAGEDE
Hosted by www.Geocities.ws

1