Home
Selamat Datang
Album
Mengenang Mardiyem
Program
Museum Online
Pustaka
Artikel
Kontak
 
 
 
PROGRAM - EVENT
 

Para peserta Pertemuan Kyoto group 2008


fikom
     


Tokyo Conference 2008

Tokyo Conference 2008

Para peserta konferensi memberikan rekomendasi tiap negera

Eka Hindra and NCC Japan
EkaHindra dan Koichi Kimura bersama anggota NCC Tokyo,
kelompok religius Jepang yang mendukung isu Ianfu.

"MATAOLI" TAYANGAN METROFILES


Masa pendudukan Jepang di Indonesia menjadi bagian kelam kehidupan perempuan di tanah air. Banyak gadis belia dibawa paksa untuk dijadikan budak nafsu para tentara Jepang (Jugun Ianfu) di daerah pendudukan. Tercatat lebih dari 25 ribu wanita di Indonesia dijadikan pemuas nafsu. Mereka berasal hampir dari seluruh wilayah tanah air, dan dikirim ke basis-basis pertahanan Jepang.

Di Pulau Buru, sekitar 20 orang perempuan dikirim dari Jawa. Tahun 1945 ketika Jepang kalah dari Sekutu, nasib mereka menjadi tidak menentu. Mereka diperistri oleh para kepala suku di Pulau Buru yang kehidupannya masih terbilang primitif pada masa itu. Ketentuan adat yang menetapkan bahwa ketika seseorang wanita asing diperistri oleh kepala suku setempat harus melepaskan masa lalu mereka, menjadikan penderitaan mereka seolah tiada berakhir.

Tidak hanya di Pulau Buru, kondisi memilukan para Jugun Ianfu juga dijumpai di Cimahi dan Salatiga. Di sisi lain, pemerintah dianggap belum memperhatikan hidup mereka yang sudah tinggal menghitung hari.



TARI ITO;
EKSPLORASI SENI MELALUI GELEMBUNG KARET

EkaHindra - Peneliti Independen “Ianfu” Indonesia.

TARI ITO

Ito berekspresi
foto : www.araiart.jp

Dua hari setelah Konferensi Solidaritas Asia ke-9 usai membahas kasus perbudakan seksual militer Jepang di Tokyo, Shinsuke Yasuda yang bekerja untuk Jakarta Shimbun mengajak saya menghadiri pertunjukan seni di Waseda menampilkan Tari Ito seorang seniman Jepang yang akan menampilkan eksplorasi seninya. Kami bersama-sama menuju lokasi pertunjukan seni. Dalam benak saya waktu itu adalah tempat pertunjukan seni yang besar ternyata sebuah apartemen yang tidak terlalu besar berlokasi tidak jauh dari jalanan utama Waseda.

Telah hadir beberapa penonton termasuk Tari Ito yang siap dengan kostum karetnya. Saya mengenali Tari Ito karena ia menggelar aksi seninya pada hari kedua konferensi “Ianfu” setelah sesi testimoni survivor “Ianfu” dari lima negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Cina, Filifina dan Timor Leste. Tentu saya lebih semangat menontonya karena pasti aksi pertunjukan seni tidak akan jauh dari masalah hak asasi manusia.

Untuk bisa menikmati pertunjukan ini, penonton harus membayar 1500 Yen. Setelah terkumpul penonton sekitar 15 orang Tari Ito mulai aksinya dengan meniupkan secara perlahan-lahan melalui pipa selang bagian dadanya hingga membesar menyerupai payudara dengan ukuran tidak lazim. Kemudian dia tiupkan lagi dibagian dada yang lain. Dilanjutkan dengan meniup bagian perut dan bokongnya.

Setelah semua bagian tubuh yang ditiup menggelembung, tiba-tiba Tari Ito menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan bergulat seakan-akan seperti “Ianfu” yang sedang diperkosa. Bagian ini begitu menyentuh, bagaimana seorang perempuan berjuang melindungi setiap inci tubuhnya dari kekerasan seksual yang menderanya. Kemudian Tari Ito perlahan-lahan berdiri dan mulai mencabik-cabik gelembung-gelembung karet yang disimbolkan sebagai “keperempuannya” seperti kedua payudara, perut yang sedang hamil dan bokong yang membesar. Dia sobek-sobek bagian itu hingga terlepas dari tubuhnya. Menyimbolkan setelah perkosaan itu betapa perempuan menjadi benci dengan dirinya dan menyalahkan karena memiliki perangkat keperempuannya. Oleh karena itulah perempuan diperkosa dan dijadikan budak seks “Ianfu”.

Kemudian dilanjutkan adegan mengupas belasan butir bawang putih bombai selapis demi selapis. Begitu banyak bawang yang dikupas sehingga aroma bawang yang menyengat tercium ke seluruh ruangan pertunjukan dan rasa pedih menusuk mata, membuat mata penonton "menangis". Aksi ini menggambarkan luka batin “Ianfu” atas sejarah pedih mereka. Itulah sebabnya tidak mudah bagi seorang “Ianfu” menceritakan masa lalu mereka. Bagaikan mengupas selapis demi selapis kulit bawang memerlukan waktu dan kesabaran untuk membuka setiap lembar  sejarah yang amat  pedih tersebut.  Aksi panggung ini diperkaya dengan tampilan visual layar proyektor seukuran 5x7 meter yang menampilkan slide foto-foto  “Ianfu” Korea Selatan.

Tari Ito merasa sebagai orang Jepang tidak boleh melupakan kekerasan seksual yang dilakukan militer Jepang yang telah menghancurkan seluruh hidup perempuan-perempuan korban “Ianfu” di Asia Pasifik dan Belanda. Hingga kini setiap hari rabu di Korea Selatan digelar aksi demonstrasi di depan Kedutaan Besar Jepang di Seoul menuntut pemerintah Jepang untuk meminta maaf secara resmi dan kompensasi kepada para survivor “Ianfu”. Tari Ito menegaskan bahwa masalah Ini bukan persoalan sejarah melainkan soal masa kini. Meskipun peristiwa pahit ini telah berlalu 60 tahun yang lalu.

Usai aksi panggung yang menyentuh, Tari Ito membuka sesi diskusi untuk para penontonnya. Meskipun orang yang hadir menonton hanya sekitar 15 orang yang rata-rata berusia muda, akan tetapi pertanyaan yang diajukan mereka antusias dan cukup kritis dari mulai kritikan terhadap sikap pemerintah Jepang yang bersikap menolak mengakui masalah “Ianfu” sampai pada solidaritas untuk mendukung masalah “Ianfu” di Jepang. Dalam kesempatan ini saya memberikan suara untuk menjelaskan bahwa Indonesia memiliki puluhan ribu korban “Ianfu”. Penjelasan ini rupaya menarik perhatian sebagian besar penonton. Oleh karena mereka kurang mendengar kabar dari Indonesia berkaitan dengan kasus “Ianfu”.

Saya sempat berdialog dengan Tari Ito dan memberikan apresiasi yang besar atas pertunjukan seninya. Saya juga mengusulkan Tari Ito untuk suatu saat datang ke Indonesia belajar masalah “Ianfu” di sana. Hal ini akan memberi banyak pengalaman baru baginya. Tari Ito seorang seniman Jepang yang mengeksplorasikan seni melalui pengalaman sensual tubuh dan kulitnya melalui visualisasi olah tubuh dibalut dengan kostum karet. Eksplorasi ini juga diperkaya dengan gambar video dan foto. Tari Ito mulai mengekspresikan seni melalui kulit tubuh sejak tahun 1996. Ini merupakan deklarasi pertama dirinya sebagai seorang lesbian yang mengalami lingkungan sosial yang sulit di Jepang. Budaya masyarakat di Jepang masih sangat kental kultur partriarkinya. Dalam kultur di Jepang hak-hak sosial kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual) mengalami diskriminasi didalam masyarakatnya.

Melalui seni Tari Ito mencoba melakukan eksplorasi dari dalam tubuh, kemudian keluar dari tubuhnya. Ini berkembang menjadi dialog antara dirinya dan orang lain. Kemudian berakhir dialog dengan diri sendiri.   Tari Ito percaya jika tidak membuka diri sebagai lesbian, maka dirinya tidak akan pernah maju ke depan karena terus mengalami konfrontasi dari dalam tubuh. Tari Ito belajar seni di Universitas Wako tahun 1977-1979, dan telah banyak menggelar pertunjukan seni di kawasan Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika Serikat dan Asia.

 


 

 

 
 


     
         
         
         
         
         
         
         

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1