|

[home]
[pakguruonline]
[siswaonline]
[mailinglist
pakguruonline] [al-haq]

Sebuah
Tinjauan Teoritis Tentang Inovasi Pendidikan di
Indonesia
Oleh: Idris HM.
Noor
Abstraksi
Inovasi pendidikan
menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan dari masa
ke masa. Isu ini selalu juga muncul tatkala orang
membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan
pendidikan. Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat
diberikan dua buah model inovasi yang baru yaitu:
Pertama "top-down model" yaitu inovasi
pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai
pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan; seperti
halnya inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Departemen
Pendidikan Nasinal selama ini. Kedua "bottom-up
model" yaitu model ionovasi yang bersumber dan
hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya
untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan.
Disamping kedua
model yang umum tersebut di atas, ada hal lain yang
muncul tatkala membicarakan inovasi pendidikan yaitu:
a). kendala-kendala, termasuk resistensi dari pihak
pelaksana inovasi seperti guru, siswa, masyarakat dan
sebagainya, b). faktor-faktor seperti guru, siswa,
kurikulum, fasilitas dan dana c). lingkup sosial
masyarakat.
1.
Pendahuluan
Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan)
mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah
penemuan sesuatu ang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery
adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan
demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan
melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim
(1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide,
barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi
seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Inovasi dapat berupa hasil dari
invention atau discovery. Inovasi dilakukan dengan tujuan tertentu atau untuk
memecahkan masalah ((Subandiyah 1992:80)
Proses dan tahapan perubahan itu ada
kaitannya dengan masalah pengembangan (development), penyebaran (diffusion),
diseminasi (dissemination), perencanaan (planning), adopsi (adoption),
penerapan (implementation) dan evaluasi (evaluation) (Subandiyah 1992:77)
2. Perubahan dan
Inovasi Pendidikan
Pelaksanaaan inovasi pendidikan seperti
inovasi kurikulum tidak dapat dipisahkan dari inovator dan pelaksana inovasi
itu sendiri. Inovasi pendidikan seperti yang dilakukan di Depdiknas yang
disponsori oleh lembaga-lembaga asing cenderung merupakan "Top-Down
Inovation". Inovasi ini sengaja diciptakan oleh atasan sebagai usaha
untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh
pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebaginya.
Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara
mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu
baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk
menolak pelaksanaannya.
Banyak contoh inovasi yang dilakukan oleh
Depdiknas selama beberpa dekade terakhir ini, seperti Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA), Guru Pamong, Sekolah Persiapan Pembangunan, Guru Pamong, Sekolah kecil,
Sistem Pengajaran Modul, Sistem Belajar jarak jauh dan lain-lain. Namun
inovasi yang diciptakan oleh Depdiknas bekerjasama dengan lembaga-lembaga
asing seperti British Council. USAID dan lain-lain banyak yang tidak bertahan
lama dan hilang, tenggelam begitu saja. Model inovasi yang demikian hanya
berjalan dengan baik pada waktu berstatus sebagai proyek. Tidak sedikit model
inovasi seperti itu, pada saat diperkenalkan atau bahkan selama pelaksanaannya
banyak mendapat penolakan (resistance) bukan hanya dari pelaksana inovasi itu
sendiri (di sekolah), tapi juga para pemerhati dan administrator di Kanwil dan
Kandep. Model inovasi seperti yang diuraikan di atas, lazimnya disebut dengan
model 'Top-Down Innovation". Model itu kebalikan dari model inovasi yang
diciptakan berdasrkan ide, pikiran, kreasi, dan inisiatif dari sekolah, guru
atau masyarakat yang umumnya disebut model "Bottom-Up Innovation"
Ada inovasi yang juga dilakukan oleh
guru-guru, yang disebut dengan "Bottom-Up Innovation". Model yang
kedua ini jarang dilakukan di Indonesia selama ini karena sitem pendidikan
yang sentralistis.
Pembahasan tentang model inovasi seperti
model "Top-Down" dan "Bottom-Up" telah banyak dilakukan
oleh para peneliti dan para ahli pendidikan. Sudah banyak pembahasan tentang
inovasi pendidikan yang dilakukan misalnya perubahan kurikulum dan proses
belajar mengajar. White (1988: 136-156) misalnya menguraikan beberapa aspek
yang bekaitan dengan inovasi seperti tahapan-tahapan dalam inovasi,
karakteristik inovasi, manajemen inovasi dan sistem pendekatannya.
Kennedy (1987:163) juga membicarakan
tentang strategi inovasi yang dikutip dari Chin dan Benne (1970) menyarankan
tiga jenis strategi inovasi, yaitu: Power Coercive (strategi pemaksaan),
Rational Empirical (empirik rasional), dan Normative-Re-Educative (Pendidikan
yang berulang secara normatif).
Strategi inovasi yang pertama adalah
strategi pemaksaaan berdasarkan kekuasaan merupakan suatu pola inovasi yang
sangat bertentangan dengan kaidah-kaidah inovasi itu sendiri. Strategi ini
cenderung memaksakan kehendak, ide dan pikiran sepihak tanpa menghiraukan
kondisi dan keadaan serta situasi yang sebenarnya dimana inovasi itu akan
dilaksanakan. Kekuasaan memegang peranan yang sangat kuat pengaruhnya dalam
menerapkan ide-ide baru dan perubahan sesuai dengan kehendak dan
pikiran-pikiran dari pencipta inovasinya. Pihak pelaksana yang sebenarnya
merupakan obyek utama dari inovasi itu sendiri sama sekali tidak dilibatkan
baik dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Para inovator hanya
menganggap pelaksana sebagai obyek semata dan bukan sebagai subyek yang juga
harus diperhatikan dan dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan dan
pengimplementasiannya.
Strategi inovasi yang kedua adalah
empirik Rasional. Asumsi dasar dalam strategi ini adalah bahwa manusia mampu
menggunakan pikiran logisnya atau akalnya sehingga mereka akan bertindak
secara rasional. Dalam kaitan dengan ini inovator bertugas mendemonstrasikan
inovasinya dengan menggunakan metode yang terbaik valid untuk memberikan
manfaat bagi penggunanya. Di samping itu, startegi ini didasarkan atas
pandangan yang optimistik seperti apa yang dikatakan oleh Bennis, Benne, dan
Chin yang dikutip dari Cece Wijaya dkk (1991).
Di sekolah, para guru menciptakan
strategi atau metode mengajar yang menurutnya sesuai dengan akal yang sehat,
berkaitan dengan situasi dan kondisi bukan berdasarkan pengalaman guru
tersebut. Di berbagai bidang, para pencipta inovasi melakukan perubahan dan
inovasi untuk bidang yang ditekuninya berdasarkan pemikiran, ide, dan
pengalaman dalam bidangnya itu, yang telah digeluti berbualan-bulan bahkan
bertahun-tahun. Inovasi yang demikian memberi dampak yang lebih baik dari pada
model inovasi yang pertama. Hal ini disebabkan oleh kesesuaian dengan kondisi
nyata di tempat pelaksanaan inovasi tersebut.
Jenis strategi inovasi yang ketiga adalah
normatif re-edukatif (pendidikan yang berulang) adalah suatu strategi inovasi
yang didasarkan pada pemikiran para ahli pendidikan seperti Sigmund Freud,
John Dewey, Kurt Lewis dan beberapa pakar lainnya (Cece Wijaya (1991), yang
menekankan bagaimana klien memahami permasalahan pembaharuan seperti perubahan
sikap, skill, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia.
Dalam pendidikan, sebuah strategi bila
menekankan pada pemahaman pelaksana dan penerima inovasi, maka pelaksanaan
inovasi dapat dilakukan berulang kali. Misalnya dalam pelaksanaan perbaikan
sistem belajar mengajar di sekolah, para guru sebagai pelaksana inovasi
berulang kali melaksanakan perubahan-perubahan itu sesuai dengan kaidah-kaidah
pendidikan. Kecenderungan pelaksanaan model yang demikian agaknya lebih
menekankan pada proses mendidik dibandingkan dengan hasil dari perubahan itu
sendiri. Pendidikan yang dilaksanakan lebih mendapat porsi yang dominan sesuai
dengan tujuan menurut pikiran dan rasionalitas yang dilakukan berkali-kali
agar semua tujuan yang sesuai dengan pikiran dan kehendak pencipta dan
pelaksananya dapat tercapai. Para ahli mengungkapkan berbagai persepsi,
pengertian, interpretasi tentang inovasi seperti Kennedy (1987), White (1987),
Kouraogo (1987) memberikan berbagai macan definisi tentang inovasi yang
berbeda-beda. Dalam hal ini, penulis mengutip definisi inovasi yang dikatakan
oleh White (1987:211) yang berbunyi: "Inovation ......more than change,
although all innovations involve change." (inovasi itu ... lebih dari
sekedar perubahan, walaupun semua inovasi melibatkan perubahan).
Untuk mengetahui dengan jelas perbedaan
antara inovasi dengan perubahan, mari kita lihat definisi yang diungkapkan
oleh Nichols (1983:4). "Change refers to " continuous reapraisal and
improvement of existing practice which can be regarded as part of the normal
activity ..... while innovation refers to .... Idea, subject or practice as
new by an individual or individuals, which is intended to bring about
improvement in relation to desired objectives, which is fundamental in nature
and which is planned and deliberate."
Nichols menekankan perbedaan antara
perubahan (change) dan inovasi (innovation) sebagaimana dikatakannya di atas,
bahwa perubahan mengacu kepada kelangsungan penilaian, penafsiran dan
pengharapan kembali dalam perbaikan pelaksanaan pendidikan yang ada yang
diangap sebagai bagian aktivitas yang biasa. Sedangkan inovasi menurutnya
adalah mengacu kepada ide, obyek atau praktek sesuatu yang baru oleh seseorang
atau sekelompok orang yang bermaksud untuk memperbaiki tujuan yang diharapkan.
Setelah membahas definisi inovasi dan
perbedaan antara inovasi dan perubahan, maka berikut ini akan diuraikan
tentang kendala yang mempengaruhi pelaksanaan inovasi pendidikan.
3. Kendala-kendala Dalam Inovasi
Pendidikan
Kendala-kendala yang mempengaruhi
keberhasilan usaha inovasi pendidikan seperti inovasi kurikulum antara lain
adalah (1) perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi (2). konflik dan
motivasi yang kurang sehat (3). lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga
mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan (4). keuangan (finacial)
yang tidak terpenuhi (5). penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil
inovasi (6) kurang adanya hubungan sosial dan publikasi (Subandiyah 1992:81).
Untuk menghindari masalah-masalah tersebut di atas, dan agar mau berubah
terutama sikap dan perilaku terhadap perubahan pendidikan yang sedang dan akan
dikembangkan, sehinga perubahan dan pembaharuan itu diharapkan dapat berhasil
dengan baik, maka guru, administrator, orang tua siswa, dan masyarakat umumnya
harus dilibatkan
4. Penolakan (Resistance)
Setelah memperhatikan kendala yang
dihadapi dalam pelaksanaan suatu inovasi pendidikan, misalnya penolakan para
guru tentang adanya perubahan kurikulum dan metode belajar-mengajar, maka
perlu kiranya masalah tersebut dibahas. Namun sebelumnya, pengertian tentang
resisten itu perlu dijelaskan lebih dahulu. Menurut definisi dalam
"Cambridge International English Dictionary of English" bahwa
Resistance is to fight against (something or someone) to not be changed by or
refuse to accept (something).
Bertdasarkan definisi tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
penolakan (resistance) itu adalah melawan sesuatu atau seseorang untuk tidak
berubah atau diubah atau tidak mau menerima hal tersebut.
Ada beberapa hal mengapa inovasi sering
ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksana inovasi di lapangan atau
di sekolah sebagai berikut:
-
Sekolah
atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan
pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut
dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan
orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan
keinginan atau kondisi sekolah mereka.
-
Guru
ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang,
karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun
dan tidak ingin diubah. Disamping itu sistem yang mereka miliki dianggap
oleh mereka memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai
dengan pikiran mereka. Hal senada diungkapkan pula Day dkk (1987) dimana
guru tetap mempertahankan sistem yang ada.
-
Inovasi
yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya
Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami
oleh guru dan siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh Munro (1987:36) yang
mengatakan bahwa "mismatch between teacher's intention and practice
is important barrier to the success of the innovatory program".
-
Inovasi
yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan
kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh
pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu
selesai atau kalau finasial dan
keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah atau guru
hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di
pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
-
Kekuatan
dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau
guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan
mereka dan situasi sekolah mereka.
Untuk
mengatasi masalah dan kendala seperti diuraikan di atas, maka berikut ini
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan inovasi baru.
5. Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi
Untuk menghindari penolakan seperti yang disebutkan di atas, faktor-faktor
utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa,
kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan,
1. Guru
Guru sebagai ujung tombak dalam
pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses
belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan
kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas.
Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai.
Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah
penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi
dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar
sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti
adminstrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat
sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.
Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai
dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya
memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan.
Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin mereka akan menolak inovasi yang
diperkenalkan kepada mereka. Hal ini seperti diuraikan sebelumnya, karena
mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya
yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu
ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi
pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai
peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai
dokter, sebagi motivator dan lain sebagainya. (Wright 1987)
2. Siswa
Sebagai obyek utama dalam pendidikan
terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat
dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan
belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan
komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi
apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya
dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari
perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan
merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekwen.
Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran
unsur-unsur lainnya, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi
materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh
karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya,
siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan
melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti yang
diuraikan sebelumnya.
3. Kurikulum
Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi
kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan
pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena
itu kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan
dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi
pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam
pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang
ada di dalamya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan
tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembahruan pendidikan,
perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan
kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan
dari kedua-duanya akan berjalan searah.
4. Fasilitas
Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan
dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam
pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut
mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas,
maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan
dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang
esensial dalam mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan. Oleh karena itu,
jika dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan.
Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, meja dan sebagainya.
5. Lingkup Sosial Masyarakat.
Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung
terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif
maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat secara
tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam
pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya
mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta
didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan
tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau
dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan
membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.
Kata Kunci :
inovasi, perubahan, penolakan, kurikulum, siswa, guru, fasilitas, inovator,
pelaksana, masyarakat, sekolah, keterlibatan, top-down-bottom-up, sosial,
program, pendidikan.
6. Kesimpulan
Inovasi pendidikan sebagai usaha
perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus melibatakan semua
unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator, penyelenggara inovasi
seperti guru dan siswa. Disamping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak
saja ditentukan oleh satu atau dua faktor saja, tapi juga oleh masyarakat
serta kelengkapan fasilitas.
Inovasi pendidikan yang berupa top-down model tidak selamanya bisa berhasil
dengan baik. Hal ini disebabkan oleh banyak hal antara lain adalah penolakan
para pelaksana seperti guru yang tidak dilibatkan secara penuh baik dalam
perencananaan maupun pelaksanaannya. Sementara itu inovasi yang lebih berupa
bottom-up model dianggap sebagai suatu inovasi yang langgeng dan tidak mudah
berhenti karena para pelaksana dan pencipta sama-sama terlibat mulai dari
perencanaan sampai pada pelaksanaan. Oleh karena itu mereka masing-masing
bertanggung jawab terhadap keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan.
Daftar Pustaka
Cece Wijaya, Djaja Jajuri, A. Tabrani
Rusyam (1991) Upaya Pembaharuan dalam Bidang Pendidikan dan Pengajaran.
Penerbit PT. Remaja Rosdakarya- Bandung 1991.
Day, C.P. Whitaker, and D. Wren (1987)
Appraisal and Professional Development in the Primary Schools, Philadelphia :
Open University Press.
Kennedy, C. (1987) Innovation for Change:
teacher development and innovation. ELT Journal 41/3
Kouraogo, P. (1987) Curriculum Renewal
and INSET in Difficult circumstance. ELT Journal 41/3
Munro. R.G. (1977) Innovation Success or
Failure?. Bristol: J.W. Arrowss Smith Cambride English Dictionary
Nicholls, R. (1983) Managing Educational Innovation. London. George, Allen and
Unwin.
Subandijah (1992) Pengembangan dan
Inovasi Kurikulum. PT Raja Grafindo Persada-Yogyakarta
White, R.V. (1988) The ELT Curriculum:
Design, Innovation and Management. Oxford: Blackwell.
White, R.V. (1987) Managing Innovation.
ELT. Journal 41/3
Wright, T. (1987) Roles of Teachers and Learners. Oxford: Oxford University
Press.
---------------------
Sumber
: http://www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/No_026/sebuah_tinjauan_teoritis_Idris.htm

http://www.geocities.com/jipsumbar
http://jipdiknassumbar.cjb.net
Situs
ini menampung sumbangan tulisan, berupa makalah,
kajian, serta artikel dalam kerangka inovasi pendidikan.
Silahkan kirim tulisan anda kepada web master
:
[email protected]
Jika
pada browser Internet Explorer anda muncul pesan
script error atau script debugging,
klik disni
|