Salam Dari Gemintang

REZA ERVANI

“Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih tepat (lebih khusyuk) dan bacaan diwaktu malam itu lebih berkesan.”

(QS. Al Muzzammil : 1 – 6)

 

Ahh, malas rasanya malam ini aku muncul, menatap dunia yang itu-itu lagi ....

Tapi rembulan sedang beristirahat malam ini, dan sahabat awan juga entah sedang bertandang kemana ....

Kalau boleh jujur aku lebih senang sembunyi dibalik terang raja mentari atau putri rembulan itu. Atau teman-temanku yang lembut bagai kapas, si cantik awan.

Ya ... apa boleh buat ... sudah tugasku ... huss ... nggak boleh mengeluh ya, harus bersyukur, itu kata temanku sang ‘abid dibawah sana.

 

Oops, lupa jadinya ...

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Entah udah berapa kali aku sampaikan ucapan penuh rahmat dan barakah itu, tapi malam inipun rasanya belum ada yang sudi menjawab dari bawah sana.  

 

 

Aku sepi sendiri disini,

Mereka yang disana menyangka kami ramai berdekatan diatas sini, padahal kami jauuuuh sekali, butuh puluhan bahkan jutaan tahun untuk bisa bertemu satu sama lain, dan ketika sampaipun belum tentu mereka masih ada, karena mereka sudah pulang ke pangkuan Sang Pencipta kami. walaupun pancaran beberapa sahabat masih tetap memancar,

 

Jahat !!!

Tak seorangpun mereka dibawah sana sudi menemaniku sendiri di gelap malam seperti ini.

 

Duuuh, ....

Jadi rindu kalau ingat saat-saat indah empat belas abad yang lalu.

 

Ramai sekali ..., aku pun melihat ribuan malaikat sibuk naik turun membawa benda yang bersinar-sinar, lebih terang dari diriku. Aku sempat iri ..., tapi ketika kutanya pada salah seorang malaikat benda apakah itu ? Rasa iri itu langsung hilang, ... sebab kata mereka itu adalah doa sahabatku yang selalu menemaniku dari bawah sana.

 

Ha .. ha .. ha

Kadang-kadang akupun suka tertawa melihat beberapa malaikat berebutan untuk bisa membawa cahaya paling cemerlang dari bawah sana. Dan betapa berserinya wajah mereka yang akhirnya diizinkan untuk membawa berkas-berkas cahaya itu.

 

Indah sekali ...., kadang aku ingin turun jadi makhluk-makhluk di bawah sana. Ketika butir-butir itu mengalir di pipi mereka, saat itu juga seberkas cahaya keluar dari tubuh mereka, teraaaang sekali, cemerlaaaang sekali. Duuh, nggak tergambar indahnya ...

 

Hhhh,

Duuh,....

Kapan lagi ya ...., bisa ketemu mereka ...,

Sumber-sumber cahaya itu kini tertutup selimut-selimut tebal ....

 

Waaaaaaa ....

Udah fajar ... Kalau ketahuan raja mentari bisa dimarahi nih ...

 

Aku pulang dulu ya .... Mudah-mudahan besok cahaya dan malaikat itu ada dan sudi bermain lagi bersamaku.

 

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...

 

HOME

INDEX

<< SEBELUMNYA

SELANJUTNYA >>

Sampaikan pada teman artikel ini
Namanya:
emailnya
Nama anda:
email anda

© Lentera hati 2003.
Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini
mailto:[email protected]
Hosted by www.Geocities.ws

1