“Hai
orang yang berselimut, bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari,
kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah
dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah
Al Qur’an itu perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan
kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun diwaktu malam
adalah lebih tepat (lebih khusyuk) dan bacaan diwaktu malam itu
lebih berkesan.”
(QS.
Al Muzzammil : 1 – 6)
|

|
Ahh, malas rasanya malam ini aku muncul,
menatap dunia yang itu-itu lagi ....
Tapi rembulan sedang beristirahat malam ini,
dan sahabat awan juga entah sedang bertandang kemana ....
Kalau
boleh jujur aku lebih senang sembunyi dibalik terang raja mentari
atau putri rembulan itu. Atau teman-temanku yang lembut bagai kapas,
si cantik awan.
Ya ... apa boleh buat ... sudah tugasku ...
huss ... nggak boleh mengeluh ya, harus bersyukur, itu kata temanku
sang ‘abid dibawah sana.
Oops, lupa jadinya ...
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Entah udah berapa kali aku sampaikan ucapan
penuh rahmat dan barakah itu, tapi malam inipun rasanya belum ada
yang sudi menjawab dari bawah sana.
|
Aku sepi sendiri disini,
Mereka yang disana menyangka kami ramai
berdekatan diatas sini, padahal kami jauuuuh sekali, butuh puluhan
bahkan jutaan tahun untuk bisa bertemu satu sama lain, dan ketika
sampaipun belum tentu mereka masih ada, karena mereka sudah pulang
ke pangkuan Sang Pencipta kami. walaupun pancaran beberapa sahabat
masih tetap memancar,
Jahat !!!
Tak seorangpun mereka dibawah sana sudi
menemaniku sendiri di gelap malam seperti ini.
Duuuh, ....
Jadi rindu kalau ingat saat-saat indah empat
belas abad yang lalu.
Ramai sekali ..., aku pun melihat ribuan
malaikat sibuk naik turun membawa benda yang bersinar-sinar, lebih
terang dari diriku. Aku sempat iri ..., tapi ketika kutanya pada
salah seorang malaikat benda apakah itu ? Rasa iri itu langsung
hilang, ... sebab kata mereka itu adalah doa sahabatku yang selalu
menemaniku dari bawah sana.
Ha .. ha .. ha
Kadang-kadang akupun suka tertawa melihat
beberapa malaikat berebutan untuk bisa membawa cahaya paling
cemerlang dari bawah sana. Dan betapa berserinya wajah mereka yang
akhirnya diizinkan untuk membawa berkas-berkas cahaya itu.
Indah sekali ...., kadang aku ingin turun jadi
makhluk-makhluk di bawah sana. Ketika butir-butir itu mengalir di
pipi mereka, saat itu juga seberkas cahaya keluar dari tubuh mereka,
teraaaang sekali, cemerlaaaang sekali. Duuh, nggak tergambar
indahnya ...
Hhhh,
Duuh,....
Kapan lagi ya ...., bisa ketemu mereka ...,
Sumber-sumber cahaya itu kini tertutup
selimut-selimut tebal ....
Waaaaaaa ....
Udah fajar ... Kalau ketahuan raja mentari bisa
dimarahi nih ...
Aku pulang dulu ya .... Mudah-mudahan besok
cahaya dan malaikat itu ada dan sudi bermain lagi bersamaku.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
...
|