|
Artikel 3
BOOK FAIR, MENGAPA SELALU DI KOTA
BESAR ?
Oleh : Vita Priyambada (Peminat Buku, tinggal di
Jl. Bendungan Siguragura III/6 - Malang).
Baru tiga kali saya memperoleh kesempatan
mengunjungi pameran buku yang besar. Pertama
pada acara Gramedia Fair 2004 di Plasa Tunjungan
Surabaya yang berlangsung 6-15 Agustus 2004.
Kedua, pada Pesta Buku Jogja yang berlangsung
8-16 Februari 2005, diselenggarakan Ikatan
Penerbit Indonesia (IKAPI) Cabang DIY. Ketiga,
pada acara Pesta Buku Gramedia Kompas 2005 di
AJBS Pasaraya Surabaya yang berlangsung 20-28
Agustus 2005.
Sebagai pecinta buku, saya selalu menyimak
iklan-iklan tentang pameran buku yang digelar
dan yang akan digelar. Pameran Buku Anak dan
Pendidikan Anak di Istora Bung Karno Senayan
Jakarta, Gramedia Book Fair di Bentara Budaya
Jakarta, Gramedia Fair dengan jadwal tiga kota
besar (Bandung, Surabaya, dan Jakarta), Jakarta
Book Fair, dan lain-lain. Para pecinta buku di
kota-kota besar benar-benar dimanjakan dengan
berbagai pameran buku dengan potongan harga yang
besar.
Pertanyaan yang kemudian muncul di benar,
mengapa penyelenggaraan pameran buku besar
selalu di kota besar ? Alasan utama yang
diajukan karena banyak penerbit yang mempunyai
basis di kota besar sehingga dapat menekan biaya
dan lebih mudah untuk mengusung buku-bukunya ke
tempat pameran. Pertimbangan lain yang mungkin
jadi alasan, karena konsumen lebih banyak di
kota-kota besar dan tempat-tempat pameran yang
luas tersedia di banyak tempat.
Alasan-alasan di atas masuk akal tetapi sangat
tidak adil dan sering membuat iri pecinta buku
yang tinggal di kota sedang atau kecil. Boleh
jadi pecinta buku dari kota kecil khusus datang
hanya untuk mengunjungi dan menyaksikan pameran
buku dengan skala akbar yang jarang
diselenggarakan sehingga kesempatan langka itu
digunakan sebaik-baiknya.
Mungkin saja ada yang mau melakukan hal
tersebut, namun langkah ini tidaklah praktis.
Biaya transportasi dari kota asal ke kota
tujuan, biaya tinggal selama pameran, dan tentu
saja biaya membeli satu dua buku, tidaklah
sedikit. Barangkali masalah itu tidak jadi soal
bagi sebagian orang, yang penting dia memperoleh
kepuasan batin dengan mengunjungi pameran buku,
yang belum tentu didapat dari sekedar
mengunjungi toko-toko buku yang besar sekalipun.
Yang merana tentu penggemar buku yang hanya
punya duit pas-pasan, padahal sekedar
mengunjungi pameran yang besar tanpa membeli
satu dua buku saja sudah jadi rekreasi yang
sangat berarti.
Apapun yang menjadi alasan, pecinta buku yang
tinggal di kota kecil berhak mendapat akses
untuk melihat dan mengunjungi pameran buku
walaupun dengan skala yang kecil. Tidak sekedar
melihat saja tetapi juga berhak memperoleh
buku-buku berkualitas dengan harga yang lebih
murah dari harga biasa. Menyelenggarakan expo
furniture, otomotif, pekan raya daerah atau apa
saja bisa digelar oleh pemerintah daerah atau
swasta secara besar-besaran, mengapa untuk
pameran buku tidak bisa ?
Daya Tarik Pameran Buku
Pameran buku tidak hanya menjadi sarana promosi,
mendekatkan diri dengan konsumen dan
berinteraksi langsung dengan pecinta buku.
Penerbit juga mempunyai kewajiban mencerdaskan
kehidupan bangsa melalui buku-buku bermutu yang
diterbitkan. Pameran buku merupakan salah satu
cara menumbuhkan minat baca dan budaya membaca.
Selama ini, setiap penyelenggara pameran buku
rasa-rasanya tak pernah sepi dari pengunjung dan
selalu mampu menarik minat masyarakat dari
berbagai kalangan seperti anak-anak, remaja,
pelajar, mahasiswa, pendidikan, orang tua,
sampai masyarakat umum.
Beberapa daya tarik pameran buku adalah pertama,
pameran buku menjadi ajang berkumpulnya berbagai
penerbit di satu tempat sehingga para penggila
buku tidak perlu mengeluarkan ongkos
transportasi berlebihan untuk pergi dari satu
toko buku ke toko buku lainnya. Kedua,
pengunjung bisa mendapat buku dengan harga lebih
murah karena penerbit memberikan potongan harga
yang besar. Ketiga, tempat pameran yang luas
sehingga memberi kelegaan dan kenyamanan bagi
pengunjung untuk mendatangi gerai satu per satu.
Keempat, lokasi yang strategis sangat mudah
dicapai dengan kendaraan umum dan kendaraan
pribadi. Kelima, suasana yang berbeda dari toko
buku. Keenam, banyaknya brosur dan katalog
terbaru dari penerbit sehingga pecinta buku bisa
mengakses dengan leluasa. Ketujuh, ada kegiatan
pendamping yang ikut meramaikan pameran seperti
seminar, lomba mendongeng, melukis, menulis,
resensi, jumpa pengarang dan lain-lain.
Banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari
pesta buku. Penerbit-penerbit buku sudah saatnya
memikirkan untuk mengadakan pameran berskala
besar di kota kecil secara bergilir. Upaya
mencerdaskan bangsa dan menumbuhkankembangkan
minat dan budaya membaca harus merata sehingga
menjangkau masyarakat lebih luas. Saya yakin di
mana pun pameran buku diadakan, baik di kota
besar maupun kota kecil yang potensial, mampu
menarik minat masyarakat. Karena sesungguhnya
mereka juga ingin memperoleh buku-buku bermutu
dengan harga murah.
(Dikutip dari "KORAN PENDIDIKAN" Edisi 103/24-30
April 2006).
WISATA BACA DI PERPUSTAKAAN
UMUM KOTA MALANG
Oleh : Vita Priyambada (Peminat Buku, tinggal di
Jl. Bendungan Siguragura III/6 - Malang).
Bila Anda pengunjung setia perpustakaan kota
Malang sejak dahulu, saya yakin Anda bisa
merasakan perubahan yang sangat mendasar. Benar,
sejak menempati gedung baru yang diresmikan 23
Desember 2004, perpustakaan selalu ramai dengan
pengunjung. Kesan sepi dan lengang dengan
koleksi buku-buku lama dan penuh debu sudah
berubah sama sekali.
Dulu, deretan buku-buku yang selalu menunggu
jamahan tangan pembaca. Kiniyang terjadi
sebaliknya, tangan pembaca yang memperebutkan
buku.
Gedung perpustakaan yang baru, koleksi buku-buku
fiksi, non fiksi dan majalah untuk umum, remaja
dan anak-anak yang baru dan selalu diperbarui
memenuhi rak-rak. Buku-buku referensi, surat
kabar, bahkan kumpulan kliping tersedia di
perpustakaan ini. Tidak itu saja. Fungsi
perpustakaan bukan lagi terbatas sebagai tempat
membaca dan meminjam buku, tetapi sebagai pusat
kegiatan belajar, pameran foto dan lukisan,
acara bedah buku, lomba pidato bahasa Inggris,
lomba mendongeng, kegiatan belajar bahasa
Inggris dalam kelompok (MAFEC - Malang Fun
English Club).
Book Fair Malang bulan September 2006 pun lalu
diselenggarakan di sini. Yang paling baru adalah
terbentuknya Forum Penulis Kota Malang pada 8
Oktober 2006 yang menjadi wadah bagi
penulis-penulis di kota Malang untuk bertukar
pikiran.
Jam buka perpustakaan yang rata-rata pukul 8
pagi sampai pukul 4 sore memberi kemudahan bagi
pengunjung memilih waktu yang tepat baginya.
Dengan jam buka yang panjang memungkinkan
pelajar berkunjung ke tempat ini setelah pulang
sekolah. Perpustakaan ini tak mengenal hari
libur. Perpustakaan tetap buka pada hari Minggu
dan hari libur Nasional dengan catatan pada hari
tersebut tidak melayani peminjaman, pengembalian
dan perpanjangan buku serta pendaftaran anggota
baru. Perpustakaan tutup bila libur nasional
yang bertepatan dengan hari Jumat.
Melihat perpustakaan yang tak pernah sepi
pengunjung tampak bahwa masyarakat dan pelajar
mempunyai gairah baru dalam perbukuan dan
kegiatan mereka. Mereka datang untuk membaca
sekedar melepas diri dari rutinitas sehari-hari
atau mengerjakan tugas-tugas sekolah dan
mengambil manfaat dari kegiatan membaca. Ruang
perpustakaan yang nyaman dan luas, koleksi
berbagai jenis bacaan seperti novel, majalah,
buku-buku pengetahuan, referensi, dan
keanggotaan yang gratis membuat minat baca
tumbuh perlahan-lahan. Mahalnya harga buku-buku
di pasaran semakin mendorong pengunjung untuk
memanfaatkan perpustakaan untuk meminjam buku.
Membaca adalah kegiatan utama dalam pendidikan.
Dengan membaca kita dapat memperoleh informasi
berharga tentang berbagai hal. Walaupun membaca
kegiatan mudah, namun kegiatan ini perlu
diperkenalkan dan ditanamkan sejak usia dini
kepada anak-anak. Tugas kita semua
memperkenalkan buku pada anak. Untuk itu syarat
utama yang harus dipenuhi, paling tidak orang
tua mempunyai kecintaan pada buku dan kegiatan
membaca. Kalau membaca sudah menjadi budaya pada
orang tua, maka mudah menularkan kecintaan
membaca pada anggota keluarga. Sebagai langkah
awal, kita dapat membacakan dongeng dengan
memberikan buku cerita bergambar untuk anak-anak
yang belum terampil membaca.
Orang tua perlu mengembangkan dan memelihara
minat baca yang mulai tumbuh. Sebelumnya bila
liburan sekolah tiba mengadakan rekreasi ke
tempat-tempat wisata, sekali-kali ajaklah anaka
melakukan wisata baca dengan berkunjung ke
perpustakaan. Memberi pengenalan kepada anak,
bahwa perpustakaan sebagai tempat menyimpan
berbagai macam tema buku yang menarik dan tempat
mengasyikkan untuk membaca. Ajaklah anak untuk
menjadi anggota perpustakaan atas namanya
sendiri. Tentunya anak akan bangga mempunyai
kartu anggota perpustakaan dengan namanya
sendiri. Katakan bahwa dengan kartu itu anak
boleh memilih dan meminjam buku bacaan anak yang
menarik sesuai dengan minatnya.
Kunjungan rutin ke perpustakaan bersama anggota
keluarga bermanfaat untuk mempertahankan dan
membina minat baca. Kecintaan pada buku dengan
sendirinya mengajarkan kepada anak-anak -
tentunya dengan bimbingan orang tua - untuk
memperlakukan buku dengan baik, misalnya cara
merawat buku, merapikan dan membersihkan buku,
dan sebagainya yang berkaitan dengan buku.
Selanjutnya bila anak benar-benar menjadi kutu
buku, banggalah Anda sebagai orang tua karena
anak-anak berteman dengan buku, asalkan tidak
menjadi "kutu buku" atau "ngengat" yang
menggerogoti dan menghancurkan buku. Ayo ke
perpustakaan !
(Dikutip dari "KORAN PENDIDIKAN" Edisi 128/Senin
III/16-22 Oktober 2006, halaman 14).
MALANG BOOK FAIR, MIMPI YANG
MENJADI KENYATAAN
Oleh : Vita Priyambada (Pecinta buku dan anggota
Forum Penulis Kota Malang).
Kesempatan saya untuk mengunjungi Pesta Buku
Jakarta akhirnya terwujud. Kesempatan yang sudah
saya tunggu sejak lama akhirnya tiba ketika saya
hanya bisa berangan-angan saat melihat
iklan-iklan pesta buku di berbagai kota pada
salah satu harian nasional. Ada rasa iri
terselip di hati kecil saya, mengapa
penyelenggaraan pesta buku harus selalu di kota
besar ? (baca juga tulisan saya di KORAN
PENDIDIKAN edisi 103, 24-30 April 2006 pada
rubrik Wacana : Book Fair, Mengapa Selalu di
Kota Besar ?).
Setelah Pesta Buku Jakarta yang berlangsung 1-9
Juli 2006 lalu usai, saya melihat jadwal
kegiatan pesta buku pada brosur yang diperoleh
dari salah satu gerai penerbit. Jadwal
penyelenggaraan pesta buku itu antara lain :
Pesta Buku Bandung 1-7 Agustus 2006, Pesta Buku
Yoyga 23-28 Agustus 2006, Padang Book Fair 26
Agustus - 3 September 2006, 6th Yogya Islamic
Book Fair 1-7 September 2006, Pesta Buku
Makassar 6-10 September 2006 dan 4th Solo
Islamic Book Fair 9-17 September 2006. Akhirnya
impian saya tercapai dan pertanyaan saya
terjawab dengan diselenggarakannya Malang Book
Fair 14-22 September 2006 lalu yang diadakan di
Perpustakaan Umum Kota Malang.
Malang menjadi salah satu tujuan banyak pelajar
dan calon mahasiswa dari berbagai daerah. Banyak
pilihan sekolah, perguruan tinggi negeri dan
perguruan tinggi swasta di kota ini. Suasana dan
lingkungan yang nyaman dan tenang dibandingkan
dengan kota besar lain membuat Malang menjadi
kota pilihan. Sebagai kota pendidikan sudah
seharusnya ada pameran buku yang rutin digelar
setiap tahun, kalau perlu dua kali dalam satu
tahun dengan mencontoh Pesta Buku Yogya. Pameran
buku ini tidak terbatas pada pameran yang
diselenggarakan di perguruan tinggi karena ada
kesan dari masyarakat bahwa pameran buku yang
diselenggarakan di lingkungan kampus cenderung
eksklusif dan terbatas pada kalangan mahasiswa.
Oleh sebab itu pameran buku selalu diadakan di
ruang publik yang mempunyai ruang luas dan
nyaman. Tempatnya harus mudah dijangkau oleh
masyarakat. Pameran buku yang digelar sebaiknya
merupakan pameran buku umum yang dapat meraup
semua kalangan dari anak-anak sampai dewasa, tua
dan muda dan dari golongan apa pun.
Mengapa harus ada pameran buku ? Pameran buku
menjadi pertemuan yang tepat antara pengunjung
dan penerbit. Pameran buku identik dengan
potongan harga. Untuk penerbit baru, acara ini
menjadi ajang untuk memperkenalkan diri kepada
masyarakat, sedangkan bagi penerbit-penerbit
yang sudah mapan menjadi pijakan untuk
memperkokoh kedudukan. Di arena ini selain
buku-buku baru, penerbit mengeluarkan buku-buku
lama yang menumpuk karena tidak atau belum habis
masa penjualannya. Kesempatan yang ditawarkan
penerbit dengan memberikan potongan harga yang
cukup besar merupakan kesempatan bagi pengunjung
membeli buku sepuasnya. Dengan jalan ini,
pengunjung bisa memperoleh buku dengan harga
murah, yang dengan harga sesungguhnya mungkin
tak terbeli, sedangkan penerbit tidak terlalu
rugi menjual buku dengan harga murah.
Pada kesempatan ini banyak penerbit mengeluarkan
katalog dan brosur yang memuat daftar buku yang
diterbitkan atau daftar buku-buku baru. Inilah
kesmpatan bagi pengunjung untuk melengkapi
koleksi buku-bukunya. Katalog ini berguna juga
apabila kita membutuhkan buku-buku lama yang
persediaan di toko-toko buku mungkin sudah
kosong. Kita bisa memesan langsung ke penerbit
dan untuk buku-buku lama ada penerbit yang
memberikan potongan sampai separuh harga dari
harga yang tercantum. Cara ini juga bisa
digunakan untuk membandingkan dan memantau harga
buku di toko buku setelah pameran usai. Sebagai
kegiatan pendukung, ada agenda acara yang
disusun harian seperti seminar, bedah buku,
jumpa pengarang, dan kursus-kursus singkat yang
berhubungan dengan kegiatan menulis serta
membaca. Agenda acara ini bisa dicantumkan dalam
katalog pameran yang berisi daftar peserta dan
alamat penerbit.
Melihat antusiasme pengunjung pada Malang Book
Fair, saya yakin minat membaca di kota ini cukup
tinggi, walaupun tolok ukur tidak hanya dari
faktor itu saja. Faktor lain yang ikut
mempengaruhi, misalnya daya beli masyarakat dan
harga buku di pasaran. Dengan adanya pesta buku
dapat menumbuhkankembangkan minat baca sekaligus
budaya membaca (dan menulis) di semua kalangan.
Karena itu peran orang tua mempunyai pengaruh
yang sangat besar dalam meningkatkan minat
membaca sejak anak-anak dan diharapkan akan
terus tumbuh dan berkembang hingga dewasa. Pesta
buku ini bisa menjadi obyek wisata baca yang
bermanfaat bagi keluarga sekaligus mendidik
masyarakat mencintai buku dan mengisi waktu
senggang dengan membaca untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa.
(Dikutip dari "KORAN PENDIDIKAN" Edisi 132/Senin
III/20-26 November 2006).
JURUS MENEMBUS MEDIA CETAK
(Disampaikan pada Sarasehan Menulis Produktif :
Kiat Menembus Penerbit, Koran dan Lomba-Lomba
Kepenulisan, UKM Penulis (UKMP) Universitas
Negeri Malang, 24 November 2006)
Oleh : Vita Priyambada (Pecinta buku dan anggota
Forum Penulis Kota Malang).
Setiap orang bisa menulis. Untuk menjadi penulis
yang baik, ketrampilan menulis harus terus
menerus dilatih. Selanjutnya tetapkan tujuan,
untuk apa menulis ? Untuk diri sendiri atau
karya itu akan dipublikasikan agar dibaca banyak
orang ? Supaya karya penulis bisa
dipublikasikan, diperlukan jurus-jurus agar
tulisan dimuat di media cetak. Apa saja ?
Faktor Teknis
1. Gagasan. Gagasan bisa datang dari mana
dan kapan saja karena sesungguhnya gagasan
berserakan di mana-mana. Dari pengamatan,
pengalaman, membaca, dsb. Untuk itu usahakan
selalu membawa alat tulis ke mana saja. Bila
memperoleh gagasan apalagi dalam kondisi ide
"mengalir deras", segera tulis ide-ide pokoknya.
Hal ini untuk mencegah hilangnya gagasan. Dalam
keadaan demikian kadang kecepatan tangan menulis
tidak bisa mengimbangi kecepatan pikiran dengan
seabreg gagasan yang lalu lalang.
2. Kerangka karangan. Membuat kerangka
karangan hanya untuk memudahkan penulis
mengembangkan naskah. Setiap penulis mempunyai
cara sendiri untuk membuat naskah, apakah
membutuhkan kerangka karangan atau tidak. Tulis
karangan yang disukai dan dikuasai saja karena
akan lebih memudahkan penulis menuangkan gagasan
secara utuh. Pengetahuan dasar penulis sering
mempengaruhi mutu tulisannya.
3. Penulis spesialis/generalis. Pada
awalnya mungkin penulis pemula akan membuat
tulisan yang bermacam-macam seperti opini,
artikel, cerpen, puisi (penulis generalis).
Tetapi semakin sering menulis, pikirannya akan
semakin terasah dan mutu tulisannya akan
meningkat. Lama kelamaan penulis akan menemukan
ciri khas, karakter dan kekuatannya sendiri,
apakah lebih kuat menulis artikel, cerpen,
essai, dsb. Dengan menjadi penulis spesialis,
kita akan lebih cepat diakui sebagai pakar di
bidang tertentu.
4. Pengiriman naskah. Ada baiknya
pengiriman artikel pertama ke media dilakukan
melalui pos sebagai salam perkenalan dengan
menyertakan fotokopi identitas dan surat
pengantar. Bila perlu, pengalaman menulis (jika
sudah ada) dicantumkan untuk memperkuat
pengakuan. Apabila sudah kenal redakturnya,
pengiriman lewat surat elektronik (email) dapat
dilakukan. Di zaman serba cepat sekarang ini,
sesungguhnya tidak ada larangan mengirim artikel
lewat e-mail, asalkan ada surat pengantar.
Faktor Non Teknis
1. Karakter media. Masing-masing media
mempunyai karakter. Ini berlaku untuk surat
kabar harian, majalah dan tabloid. Penulis perlu
memperhatikan, mengetahui dan memahami karakter
tulisan di media menyangkut segmen pembaca,
pilihan tema dan gaya bahasa. Caranya dengan
mempelajari artikel-artikel yang sudah dimuat.
Contoh : Tabloid Nova dan Nakita membidik para
ibu rumah tangga dan keluarga. Majalah Femina
membidik para lajang dan ibu rumah tangga
menengah ke atas. Gaya bahasa resmi dipakai
harian Kompas karena segmen pembacanya luas
(nasional). Harian Kedaulatan Rakyat dan Jawa
Pos yang merupakan koran daerah menyelaraskan
gaya bahasa sesuai dengan kebudayaan setempat
yang kadang menyelipkan bahasa daerah setempat.
2. Kenali redakturnya. Bila memungkinkan,
bicarakan dengan redaktur sebelum mengirim
tulisan. Tanyakan tulisan macam apa yang layak
dimuat dan tema apa yang diutamakan. Dari
pembicaraan ini penulis dapat mengetahui selera
redaktur terhadap naskah yang akan dimuat.
Pergantian redaktur kadang mengubah selera
tulisan yang dimuat.
3. Kebijaksanaan redaksional. Penulis
perlu mengetahui syarat-syarat mengirim naskah
seperti panjang pendek tulisan, banyaknya
karakter, ketentuan spasi, dsb.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan !
1. Jangan menjiplak.
2. Jangan mengirim tulisan yang sama ke
banyak media.
Buku-buku yang disarankan untuk dibaca
Among Kurnia Ebo, Menulis Nggak Perlu Bakat, MU:
3 Books, Jakarta, 2005.
Andrias Harefa, Agar menulis Mengarang Bisa
Gampang, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002.
Bambang Trim, Saya Bermimpi Menulis Buku, Kolbu
Publishing, Bandung, 2005.
Carmel Bird, Menulis dengan Emosi - Panduan
Empatik Mengarang Fiksi, Kaifa, Bandung, 2001.
Caryn Mirriam-Goldberg, Daripada Bete Nuli Aja
!, Kaifa, Bandung, 2003.
Edi Zaqeus, Resep Cespleng Menulis Buku Best
Seller, Gradien Book, Yogyakarta, 2005.
Hernowo, Mengikat Makna : Kiat-Kiat Ampuh
untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca
dan Menulis Buku, Kaifa, Bandung, 2001.
Jordan E. Ayan, Bengkel Kreativitas,
Kaifa/Mizan, Bandung, 2002.
Josip Novakovich, Berguru kepada Sastrawan
Dunia: Buku Wajib Menulis Fiksi, Kaifa,
Bandung, 2003.
M. Arief Hakim, Kiat Menulis Artikel di Media
dari Pemula Sampai Mahir, Nuansa Cendekia,
Bandung, 2004.
Mark Levy, Menjadi Genius dengan Menulis,
Kaifa/Mizan, Bandung.
Zaenuddin, H.M., Freelance Media - Cara
Gampang Cari Uang, Milenia Populer, Jakarta,
2003.
dan lain-lain.
BACAAN ANJURAN LAINNYA
Majalah Matabaca, bulanan, Gramedia.
Suplemen Ruang Baca, koran Tempo hari
Minggu terakhir setiap bulan.
Pustakaloka, Kompas hari Sabtu III dan
IV.
Rubrik Pustaka dan Selisik, Republika
setiap hari Minggu.
Mailing List komunitas penulis yang lain :
[email protected]
[email protected]
Konsultasi (yang berhubungan dengan kepenulisan,
penerbitan, dan sejenisnya):
Edy Zaqeus [email protected] atau
[email protected]
Buka Hati dan Mata
Ungkapkan dengan Kata
Kabarkan lewat Tinta
Untuk Berkarya
"Buku adalah teman yang paling setia. Dia selalu
hadir saat susah dan senang. Cintai dan
sayangilah dia".

Ditulis ulang oleh :
Admin Forum Penulis Kota Malang |