|
Logika Meningkatkan Daya Saing
Logika
baru dibutuhkan untuk menyikapi perubahan, sebuah logika yang
bercirikan fleksibilitas, pengelolaan organisasi yang lebih baik,
memperbesar keterlibatan individu, hubungan yang lebih lateral, dan
kepemimpinan yang baik.
Oleh: Ningky Munir
Tergesernya IBM sebagai perusahaan nomor
satu di industri software maupun hardware oleh Dell, Compaq, Intel, dan
Microsoft adalah fenomena yang sering diceritakan di sekolah-sekolah
bisnis. Demikian pula halnya dengan terpuruknya Sears akibat kalah saing
dengan Land�s End, L.L.Bean, dan Eddie Bauer. Semua peristiwa itu
terjadi di Amerika. Pun ketika negeri ini dilanda krisis ekonomi, banyak
imperium-imperium bisnis di Indonesia mengalami keruntuhan. Namun ketika
ekonomi bergerak pulih, walaupun dengan luar biasa lambatnya,
perusahaan-perusahaan itu (ternyata) tak jua kunjung bangkit. Apa
penyebabnya?
KKN dianggap sebagai salah satu penyebabnya.
Penyebab yang lain adalah hempasan lonjakan nilai tukar yang berpengaruh
pada perusahaan, yang menjalankan bisnisnya dengan modal hutang dalam
bentuk dolar. Sebab jatuhnya IBM dan Sears juga kemungkinan besar
menjadi penyebab masalah �mudah-jatuh dan sulit-bangkit� nya
perusahaan-perusahaan di Indonesia. Menurut para ahli, penggunaan logika
lama dianggap sebagai sebab perusahaan-perusahaan ini kehilangan
pamornya. Perusahaan-perusahaan ini sulit bermanuver bila diterpa
masalah. Banyak perusahaan besar baru menyadari bahwa mereka
mempersiapkan para eksekutifnya untuk pekerjaan-pekerjaan masa lalu dan
masa kini, bukan untuk pekerjaan masa depan. Sehingga ketika datang
masalah yang tak terduga, mereka tidak mampu melakukan apa-apa.
Faktor Pemicu
Ada tiga hal yang memicu
perubahan-perubahan di dunia: (1) perubahan dan penyempurnaan teknologi,
khususnya teknologi informasi yang terjadi secara cepat dan terus
menerus; (2) globalisasi bisnis; dan (3) demokratisasi. Teknologi
informasi mempunyai dampak yang sangat signifikan terhadap individu,
organisasi, maupun industri karena merupakan elemen utama dalam
arsitektur jejaring organisasi. Hal ini disebabkan karena organisasi
yang berkembang pesat memiliki unit-unit yang tersebar secara geografis,
padahal mereka merasa perlu untuk tetap bersaing sebagai satu kesatuan,
tanpa dibatasi oleh batas negara. Berbagai hasil studi juga menunjukkan
bahwa teknologi informasi selama satu dekade terakhir menjadi sumber
keunggulan bersaing organisasi. Selain karena mampu mengubah basis
persaingan di industri, studi perbandingan pada perusahaan-perusahaan
manufaktur di Amerika, Korea Selatan, dan Swedia, menunjukkan bahwa
keunggulan bersaing dari teknologi informasi, diperoleh melalui
kemampuan organisasi meningkatkan kecepatan dalam mengembangkan,
memproduksi dan memasarkan produknya, serta meningkatkan kecepatan
memperoleh dan meningkatkan ketepatan informasi akan pasar.
Globalisasi bisnis, merupakan faktor yang
menyebabkan organisasi perlu mengadakan perubahan di sana-sini.
Perusahaan-perusahaan Jepang misalnya untuk menerapkan strategi
diversifikasi yang unik untuk dapat bersaing secara efektif di
lingkungan global, mereka mengacu pada globalisasi bisnis. Terakhir,
demokratisasi adalah fenomena yang relatif baru dibanding dua faktor
pemicu di atas. Demokratisasi dipandang sebagai akibat teknologi
informasi dan globalisasi, yang kemudian berdiri sendiri sebagai faktor
pemicu perubahan pengelolaan organisasi.
Enam Logika Baru
Logika Pertama. Dalam logika lama,
organisasi memperoleh keunggulan dalam bersaing dengan mengandalkan pada;
(1) kemampuan keuangan yang luar biasa (para pemilik adalah orang-orang
yang maha kaya atau dekat dengan sumber daya keuangan); (2) sumber daya
manusia yang luar biasa (misal, lulusan universitas-universitas
terkemuka dan berpengalaman di bidangnya); (3) penguasaan atas sumber
daya alam yang diperebutkan; dan (4) teknologi tinggi yanghanya dimiliki
oleh organisasi tersebut.
Logika Kedua. Di setiap organisasi, harus
ada cara untuk mengendalikan dan mengkoordinasikan kegiatan individual,
kalau tidak individu-individu sulit menyelesaikan sasaran bersama.
Selama ini, diskusi dalam bidang akademis jarang mempermasalahkan apakah
pengendalian itu perlu atau tidak, melainkan, bagaimana caranya agar
dapat melakukan pengendalian secara baik. Bila banyak terjadi perubahan
di lingkungan organisasi dan berlangsung dalam waktu yang cepat, maka
pengendalian yang efektif adalah hal yang krusial.
Logika Ketiga. Pada organisasi tradisional
yang hierarkis, karyawan di tingkat bawah hanya mengerjakan tugas-tugas
rutin, dengan nilai tambah kecil, dan di bawah supervisi yang ketat
pula. Sebaliknya, para karyawan tingkat menengah dan atas bertanggung
jawab atas pekerjaan dengan nilai tambah besar, misalnya mendesain
organisasi, menyusun strategi, dan mengkoordinasikan pekerjaan dari
berbagai kelompok dan fungsi. Begitu sederhananya pekerjaan karyawan di
tingkat bawah, sehingga karyawan yang memiliki keterampilan rendah
dengan upah relatif rendah pun dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan
tersebut. Akibatnya karyawan tingkat bawah, di negara-negara berkembang
menjadi komoditas. Tak urung selang dua dekade te
Logika Keempat. Organisasi yang menganut
logika lama sangat menekankan pada hubungan pelaporan yang bersifat
hierarkis. Menurut organisasi tradisional, proses hierarkis (birokratis)
merupakan kunci untuk menjadi organisasi yang efektif. Sedangkan logika
baru lebih menekankan pada hubungan yang lateral, atau �side-by-side�,
karena proses lateral dipercaya sebagai kunci terwujudnya organisasi
yang efektif.
Logika Kelima. Organisasi tradisional
percaya bahwa kinerja organisasi sangat ditentukan oleh keahlian yang
bersifat fungsional. Hal ini memungkinkan para spesialis fungsi untuk
belajar dari satu sama lain, serta mengikuti pelatihan dan pengembangan.
Bila pendekatan ini terkesan masuk akal dan bagus, karena telah sejak
lama organisasi distrukturkan dan dimanajemeni dengan cara seperti ini.
Kekurangan pendekatan ini adalah, tidak ada satu fungsi pun yang dapat
membuat produk atau melayani dan memuaskan pelanggannya secara mandiri.
Organisasi yang efektif (yang dapat memuaskan pelanggannya) adalah
organisasi yang menggabungkan para ahli dari masing-masing fungsi
menjadi satu kesatuan, untuk memproduksi produk yang inovatif dan
berkualitas, serta menjualnya dengan harga yang kompetitif.
Logika Keenam. Organisasi tradisional yang
menganut logika lama, menekankan pentingnya peran manajer. Oleh sebab
itu efektivitas para manajer dianggap sebagai penentu efektivitas
organisasi. Organisasi yang menggunakan pendekatan hierarkis percaya
bahwa manajemen yang efektif berarti merumuskan, mengevaluasi,
menstrukturkan, dan mengkoordinasikan pekerjaan orang lain. Pada tingkat
manajemen yang lebih tinggi, manajemen yang efektif berarti menyusun
strategi, mengambil keputusan bisnis yang kritis, dan merumuskan
tanggung jawab orang lain.
Logika lama memberi hanya sedikit perhatian
pada kepemimpinan (leadership), karena sistem manajemen birokratis,
memang dirancang untuk beroperasi sebagai subtitusi dari kepemimpinan.
Lihat saja bagaimana sistem manajemen yang birokratis, menentukan apa
yang harus dikerjakan karyawan, memotivasi mereka, dan mengevaluasi
kinerjanya. Pemimpin tidak diperlukan untuk membuat organisasi sukses.
Logika baru menekankan pada kepemimpinan,
bukan manajemen birokratis, sebagai hal yang teramat penting.
Kepemimpinan tidak mudah untuk didefinisikan; lebih mudah mengenalinya
bila kita melihat atau merasakannya. Apa perbedaan antara manajer dan
pemimpin?: managers do things right; leaders do the right things.
Manajer mempengaruhi (orang lain) melalui sistem birokratis; pemimpin
mempengaruhi orang lain melalui visi dan tantangan. Manager memotivasi
dengan menggunakan imbalan dan hukuman; pemimpin memotivasi dengan nilai
dan tujuan bersama (shared goals).
Merealisasikan Logika Baru
Organisasi yang memandang perlu untuk
mengadopsi keenam logika baru ini, mempunyai alasannya masing-masing.
Pertama, logika baru tersebut terdengar masuk akal. Kedua, organisasi
setuju dengan argumentasi yang melandasi ke-enam logika di atas. Alasan
lain, organisasi sedang menghadapi masalah dan berharap untuk berubah
dengan jalan mengadopsi sebagian atau seluruh logika yang telah
diuraikan. Seluruh alasan di atas sah saja dan berujung pada hal
yangsama: perubahan.
Karena perubahan dalam pendekatan manajemen
organisasi adalah suatu proses yang lambat dan membutuhkan banyak waktu
untuk membuahkan hasil, maka penting untuk memiliki pandangan yang
bersifat jangka panjang. Berapa lama? Waktu yang dibutuhkan bergantung
pada besar kecilnya organisasi dan kebutuhan untuk berubah. Xerox
membutuhkan waktu kurang dari tiga tahun, sementara General Electric dan
Harley-Davidson membutuhkan waktu lima tahun. Akhirnya, tulisan ini
ditujukan untuk memicu pemikiran mengenai kemungkinan organisasi,
beroperasi di luar batasan-batasan yang diciptakan oleh pendekatan
birokratis, yang selama ini diterapkan untuk mengelola perusahaan.
Keenam logika baru di atas jangan dipandang sebagai mode semusim. Dengan
situasi dan kondisi yang berubah di dunia pada umumnya dan di Indonesia
pada khsusnya, tidak ada salahnya kita pertanyakan kembali
prinsip-prinsip manajemen yang selama ini dianggap sebagai sebuah
kebenaran. (m) Penulis
adalah Staf Profesional Lembaga Manajemen PPM.
#
Kembali Ke atas | Download Materi |
Halaman Download #

|