|
Paradigma Baru Tentang
Kepemimpinan
Setiap manusia pada dasarnya adalah pemimpin, memimpin dirinya
sendiri dan orang-orang lain di sekitarnya untuk mencapai tujuan
bersama. Memimpin berarti membangun sebuah tim yang dapat secara
efektif dan efisien meraih sasaran yang tepat. Karena sesungguhnya
setiap orang, tidak peduli siapapun dia, selalu terlibat atau
melibatkan diri dalam pembangunan suatu tim. Manusia diciptakan
untuk menjadi pemain tim dan dirancang untuk berfungsi dalam jalinan
dan hubungan saling ketergantungan dengan orang lain
((interdependence dalam istilah Stephen Covey, penulis The 7 Habits
of Highly Effective People).
Dalam bukunya yang berjudul The Magic of Team Work, Pat Williams
Senior Executive Vice President Orlando Magic, sebuah tim bola
basket yang tangguh dari Amerika Serikat menggambarkan bahwa suatu
keluarga merupakan sebuah tim. Sebuah kelas di sekolah dasar
misalnya adalah juga sebuah tim. Klub olah raga bola adalah sebuah
tim. Suatu bisnis itupun sebuah tim. Rumah sakit, kantor pemerintah,
organisasi sosial, partai politik dan bahkan sebuah negara adalah
bentuk-bentuk berbeda dari suatu tim. Kapan dan dimanapun orang
bersama-sama atau berada dalam suatu kebersamaan untuk menyelesaikan
pekerjaan, itulah sebuah tim. Dalam bahasa Inggris TEAM berarti
Together Everyone Achieve More dengan bekerja sama setiap orang
dapat memperoleh hasil yang lebih baik daripada dikerjakannya
sendiri.
Dengan pemahaman seperti inilah kami mencoba mengajak anda untuk
memahami konsep kepemimpinan dalam perspektif membangun sebuah tim.
Konsep membangun sebuah tim maknanya terletak pada sebuah kata:
sinergi. Kata sinergi berasal dari bahasa Yunani sunergos artinya
bekerja bersama; dari akar kata sun (=bersama) dan ergon (=bekerja).
Secara jelas konsep sinergi didefinisikan sebagai interaksi dari dua
individu atau lebih sehingga menghasilkan kombinasi kekuatan yang
melebihi penjumlahan tenaga seluruh individu secara sendiri-sendiri.
Fungsi seorang pemimpin adalah membangun sebuah tim yang dapat
menghasilkan sinergi. Apa yang kita bicarakan ini berkaitan dengan
misteri atau keajaiban yang sulit dipahami yang sering disebut
dengan sinkronisasi (synchronicity). Artinya suatu momen ketika
keseluruhan tim bergerak sebagai satu kesatuan, semua energi tim
berdenyut dalam kesatuan, dalam kesearahan, dan harmonis mengalir
tak terbendung ke arah sasaran atau tujuan bersama.
Konsep ini berarti bahwa setiap individu dalam tim yang memberikan
kontribusi terhadap penciptaan sinergi untuk mencapai tujuan bersama
adalah seorang pemimpin. Inilah merupakan paradigma baru dalam
kepemimpinan, yang berbeda dengan konsep kepemimpinan konvensional
yang selalu memandang dalam perspektif pemimpin -- pengikut (leader
followers). Dalam konsep ini setiap anggota tim memiliki peran dan
fungsi yang berbeda, sehingga tidak ada superioritas subordinasi
yang membentuk pola hubungan patron client: elite dan rakyat, atasan
bawahan, orang-tua anak , ulama umat, dan sebagainya.
Kunci dari terciptanya sinergi pada suatu tim adalah kemampuan
setiap individu anggota tim tersebut. Sehingga untuk meningkatkan
keragaan (performance) suatu tim tidak terlepas dari upaya
mengoptimalkan dan meningkatkan keragaan individu. Disinilah
pentingnya Manajemen Diri untuk meningkatkan dan mengoptimalkan
potensi dan kemampuan setiap individu dalam tim yang pada gilirannya
dapat meningkatkan performance tim untuk mencapai sasaran dengan
lebih cepat, efisien dan efektif.
Pendekatan konvensional selama ini untuk meningkatkan keragaan
individu dalam tim adalah dengan menyelenggarakan pendidikan dan
pelatihan yang sering kali tidak memberikan kontribusi yang
signifikan terhadap terciptanya sinergi tim. Padahal yang diperlukan
oleh individu anggota tim adalah kemampuan mengoptimalkan potensi
diri, untuk belajar (skill of learning) secara terus menerus, dan
kemampuan berinteraksi dengan sesama anggota tim maupun dengan
individu di luar tim (skill of life: communication and networking)
sehingga dia dapat mengoptimalkan fungsi dan peranannya dalam
kesatuan tim.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa perusahaan atau organisasi
tidak dapat berkembang dan mencapai sasarannya, kecuali jika setiap
individu di dalamnya mengalami transformasi dan senantiasa belajar
untuk mengoptimalkan dirinya. Organization does not transform.
People do. ------ Corporate does not learn. People do. Sehingga
dengan memahami konsep ini sebuah kepemimpinan tidak akan berarti
ketika anggota tim tidak mengalami transformasi atau perubahan
positif. Semakin tinggi kualitas individu dalam tim dan
keseluruhannya mampu menciptakan sinergi semakin tinggi pula
performance dan efektivitas tim tersebut dalam mencapai sasaran
bersama.
Contoh
menarik untuk dikemukakan disini adalah negara Swiss. Sebuah negara
kecil tetapi rakyatnya hidup dalam kemakmuran dan kedamaian. Bangsa ini
memandang konsep kepemimpinan sebagai sebuah tim dengan setiap individu
anggota masyarakat memiliki kontribusi terhadap pencapaian tujuan
bersama. Bukanlah hal aneh bagi masyarakat Swiss untuk melakukan
referendum terhadap setiap pengambilan keputusan yang menyangkut
perikehidupan mereka. Bahkan misalnya untuk memutuskan membangun sebuah
sekolah umum di suatu wilayah harus mendapat persetujuan seluruh warga
masyarakat di wilayah tersebut melalui referendum. Bangsa ini tidak
memiliki tokoh karismatik, hidup dalam suasana egalitarian dan
kesetaraan. Jangan heran kalau kebetulan anda sedang jalan-jalan di kota
Genewa, anda ketemu seorang menteri yang sedang berjalan kaki sendiri
menuju kantornya.
Dalam
bukunya Global Paradox, John Naisbitt pernah mengungkapkan hal ini
ketika dia mengkritisi peranan elite politik dalam kehidupan sebuah
masyarakat. Kita tidak perlu wakil-wakil rakyat yang menganggap diri
mereka memiliki pengetahuan dan informasi untuk mengambil keputusan bagi
kita. Kita memiliki informasi dan pengetahuan yang sama untuk mengambil
keputusan bersama demi kepentingan bersama. Dicontohkannya tentang kota
kediamannya di Amerika Serikat, sebuah kota kecil bernama Telluride
(dengan penduduk tetap 1,400 jiwa), yang selalu melakukan referendum
untuk setiap keputusan yang menyangkut kepentingan warga kota.
Berangkat dari dasar pemikiran di atas, maka konsep kepemimpinan dalam
manajemen diri adalah berupa pendekatan baru tentang bagaimana setiap
kita dapat mengoptimalkan potensi diri dan kemampuan berinteraksi dengan
orang lain (terutama dengan individu sesama anggota tim) sehingga kita
mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi terciptanya sinergi
untuk mencapai sasaran tim bersama-sama.
Kepemimpinan lebih diartikan sebagai kemampuan untuk memimpin dan
mengelola diri (manajemen diri) sehingga dapat memberi kontribusi bagi
penciptaan sinergi untuk mencapai tujuan atau sasaran tim. Sedangkan tim
diartikan sebagai apapun wadah dua orang atau lebih bekerja bersama-sama
atau dalam satu kebersamaan untuk mencapai sasaran atau tujuan bersama.
Tim bisa berarti keluarga, kelas, klub olah raga, kantor pemerintah,
perusahaan, organisasi sosial, partai politik, bahkan sebuah masyarakat
atau bangsa.
Untuk
membangun kepemimpinan berdasarkan tim (teamwork-based leadership) yang
efektif diperlukan lima hal pokok (ingredients) yang dapat dijadikan
acuan untuk menilai atau mengevaluasi keragaan (performance) sebuah tim
yaitu V.O.I.C.E.
Vision
(visi atau sasaran yang disepakati oleh seluruh anggota tim atau lebih
jelas dikatakan sebagai shared vision). Setiap anggota tim mengetahui
dan memahami secara jelas sasaran yang ingin dicapai timnya. Ini adalah
rahasia pertama konsep manajemen yang ditulis oleh Kenneth Blanchard dan
Spencer Johnson dalam buku mereka yang sangat terkenal, The One Minute
Manager. Bayangkan sebuah permainan sepak bola tanpa ada gawangnya. Ini
akan membuat seluruh pemain frustrasi dan bergerak tanpa tujuan.
Optimizing (mengoptimalkan kemampuan individu dalam tim). Ini berarti
melengkapi setiap anggota tim dengan kemampuan untuk mengenali potensi
dirinya, kemampuan untuk mendayagunakannya, serta kemampuan untuk
belajar guna meningkatkan potensi dirinya secara terus menerus.
Pendeknya, kepemimpinan berarti menginspirasi, memotivasi dan
menumbuhkan antusiasme kepada diri sendiri atau sesama anggota tim untuk
mengoptimalkan kemampuannya.
Integrity. Setiap anggota tim apalagi yang merasa dirinya pemimpin harus
mampu menunjukkan integritas sehingga tercipta rasa saling percaya dan
saling menghargai dalam tim yang pada gilirannya dapat menciptakan
sinergi positif untuk mencapai sasaran secara lebih cepat dan efisien.
Integritas adalah sifat yang dapat dipercaya, selalu menepati janji,
jujur, memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas atau terhadap apapun
yang telah disepakatinya , serta memiliki karakter yang baik dan solid.
Integritas berarti satunya kata dan perbuatan, serta senantiasa
konsisten dengan apa yang diyakininya.
Communication. Dalam hal ini komunikasi berarti interaksi antar individu
anggota tim sehingga tercipta sinergi kelompok. Setiap anggota tim harus
dapat mengerti dan memahami anggota yang lainnya. Inilah yang disebut
Covey (7 Habits of Highly Effective People) dengan komunikasi empatetik
atau Berusaha untuk Mengerti Sebelum Dimengerti. Kunci dasar kemenangan
sebuah tim adalah pada kelancaran komunikasi diantara anggota tim.
Betapa banyak perceraian atau krisis rumah tangga, kegagalan proyek,
perselisihan atau krisis yang dihadapi suatu organisasi hanya karena
tidak adanya atau buruknya komunikasi diantara individu di dalamnya.
Komunikasi berarti menciptakan irama dan getaran harmonisasi yang
melingkupi seluruh anggota tim, mengalir dan membawa seluruh anggota tim
ke arah tujuan dan sasaran bersama.
Empowering. Ini berarti bahwa setiap anggota tim harus memberdayakan
satu sama lain, saling mengisi, saling memberi inspirasi dan saling
membangun antusiasme di antara mereka. Seorang pemimpin dalam tim harus
memiliki kemampuan untuk memberdayakan anggota timnya. Memberdayakan
anggota tim memiliki tiga aspek penting, yaitu: pertama, membantu
seseorang untuk menggali dan menemukan potensi diri dan hal-hal terbaik
dalam diri mereka, serta membantu mereka menjadi apa yang terbaik bagi
diri mereka (finding the best). Kedua, membantu untuk melakukan
penyempurnaan diri secara terus menerus (lifetime improvements), dan
ketiga membantu mereka dalam berinteraksi dengan orang lain (networking)
Dengan kelima unsur pokok tersebut dapat tercipta kepemimpinan yang
didasarkan tim (teamwork-based leadership). Hal ini berarti bahwa kita
semua perlu melakukan manajemen diri yang sebaik-baiknya untuk menjadi
seorang pemimpin dalam bidang apapun dan sekaligus menjadi anggota tim
(entah itu keluarga kita, kantor tempat kita bekerja, lingkungan
masyarakat tempat kita tinggal, dan sebagainya) yang efektif sehingga
dapat menumbuhkan sinergi untuk mencapai sasaran bersama.
MENETAPKAN DAN
MENCAPAI SASARAN
Sebagian besar dari
kita sering merasakan bahwa sepertinya kita tidak memiliki cukup waktu
untuk melakukan segala sesuatu yang harus kita kerjakan atau mencapai
sasaran tertentu dalam hidup ini. Entah itu berupa pekerjaan kantor yang
menumpuk, buku-buku yang belum dibaca, waktu luang untuk keluarga atau
waktu untuk melakukan hobi kita pribadi.
Menghadapi kenyataan
tersebut, fokus sebagian besar kita adalah pada upaya manajemen waktu
(time management), yang terbatas pada pengaturan dan alokasi waktu untuk
menyelesaikan tugas-tugas atau rencana kita. Padahal sebenarnya tidak
peduli seberapa baiknya kita mengatur waktu, selalu nampaknya waktu
tidak akan pernah cukup untuk kita. Selalu akan ada hal-hal yang
menunggu untuk kita lakukan atau kita atasi. Selalu ada sasaran-sasaran
baru yang menunggu untuk dicapai. Satu-satunya cara untuk mengendalikan
waktu kita dan kehidupan kita adalah dengan mengubah cara kita berpikir,
bekerja, dan cara kita mengatasi gelombang tanggung jawab yang terus
menerus mendatangi kita.
Dalam bukunya yang berjudul EAT THAT FROG 21 Great Ways to Stop
Procrastinating and Get More Done in Less Time, Brian Tracy seorang
pembicara profesional, pelatih dan konsultan sekaligus seorang milyuner,
menjelaskan hal ini dengan cukup menarik dan lugas. Dia mengatakan bahwa
kemampuan kita untuk memilih hal yang paling penting setiap saat atau
menetapkan sasaran dan mulai mengerjakannya dengan tuntas secara cepat
dan baik merupakan faktor penentu kesuksesan kita dalam hidup ini.
Mulailah dengan hal atau sasaran yang paling sulit, paling berat dan
paling penting untuk dikerjakan terlebih dahulu.
Berikut ini adalah
cuplikan dari buku EAT THAT FROG tersebut, untuk memberi pemahaman dan
langkah-langkah praktis pada kita semua mengenai bagaimana menetapkan
dan mencapai sasaran. Bagaimana kita membuat prioritas untuk
menyelesaikan terlebih dulu hal-hal yang penting dan besar, serta
membuat rencana tindakan dan melakukannya.
Kunci untuk mencapai
tingkat kinerja dan produktivitas yang tinggi adalah dengan
mengembangkan sebuah kebiasaan untuk mengatasi hal penting dan besar
terlebih dulu setiap saat. Inilah yang dimaksud Brian Tracy dengan
eating your frog sebelum kita melakukan atau memikirkan hal-hal lainnya.
Karena lebih dari 95 persen keberhasilan kita dalam kehidupan dan
pekerjaan ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan
sepanjang waktu. Kebiasaan membuat prioritas, mengatasi penundaan
(procrastination), dan menyelesaikan terlebih dulu tugas kita yang
paling penting merupakan sebuah ketrampilan mental tersendiri.
Kebiasaan-kebiasaan ini dapat dipelajari melalui praktek dan pengulangan
terus menerus sampai tertanam dalam pikiran bawah sadar kita dan menjadi
bagian permanen dari perilaku kita. Sekali hal tersebut menjadi
kebiasaan, maka melakukan selanjutnya akan menjadi otomatis dan mudah.
Kita diciptakan
secara mental dan emosional untuk dapat memiliki perasaan positif yang
menyenangkan setiap kali kita dapat menyelesaikan sebuah tugas atau
mencapai suatu sasaran tertentu. Hal tersebut membuat kita bahagia dan
merasa seperti seorang pemenang. Setiap kali kita mencapai sasaran atau
menyelesaikan suatu tugas apapun, kita merasa ada energi yang muncul
dari dalam, antuasiasme dan perasaan bahwa kita berharga. Semakin
penting tugas yang kita tuntaskan atau sasaran yang kita capai, semakin
bahagia dan semakin percaya dirilah kita jadinya. Kita merasa semakin
kuat dan semakin yakin terhadap kemampuan kita.
Ketika kita
menyelesaikan suatu tugas atau mencapai sasaran yang amat penting, tubuh
kita mengeluarkan hormon endorphin ke dalam otak kita. Hormon ini
memberikan kita perasaan high atau fly secara alami. Semakin banyak
endorphin dalam otak kita maka kita dapat menjadi semakin kreatif dan
percaya diri. Berdasarkan pemahaman ini, maka kitapun dapat menjadi
kecanduan secara positif terhadap endorphin dan terhadap perasaan
bahagia, meningkatnya percaya diri dan keyakinan setiap kali kita
mencapai sasaran atau menyelesaikan tugas-tugas tertentu dalam hidup
kita. Inilah sebenarnya rahasia kesuksesan, karena semakin kita merasa
positif dan percaya diri semakin mudah kita mencapai sasaran-sasaran
kita dan menyelesaikan tugas-tugas kita.
Ketika kita sudah
kecanduan akan perasaan seperti seorang pemenang, maka secara otomatis
tanpa berfikir kita mulai mengatur dan mengorganisasikan hidup kita
sedemikian sehingga kita secara terus menerus memulai dan menyelesaikan
setiap tugas dan setiap sasaran yang telah kita tetapkan. Kita
sesungguhnya telah menjadi kecanduan, dalam arti positif terhadap
keberhasilan dan untuk dapat senantiasa memberi kontribusi baik kepada
perusahaan atau organisasi tempat kita bekerja, kepada keluarga dan
masyarakat, serta kepada dunia.
Salah satu kunci
untuk hidup berkelimpahan, memiliki karir yang sukses, dan merasakan
hal-hal terbaik dalam hidup ini adalah dengan cara mengembangkan
kebiasaan untuk segera memulai (action or execute) dan menyelesaikan
(finish or accomplish) setiap tugas atau sasaran yang penting. Ingat
bahwa kebiasaan dapat menjadi kebiasaan jika dan hanya jika melalui
latihan dan pengulangan terus menerus. Ada sebuah anekdot menarik
mengenai hal ini. Seorang turis dari luar kota yang sedang mengunjungi
kota New York bertanya pada seorang musisi jalanan tentang bagaimana
caranya mencapai Carnegie Hall (sebuah gedung pertunjukan seni yang
terkenal dan ternama di kota Amerika Serikat). Musisi jalanan itu
menjawab, engga ada cara lain bung kecuali latihan latihan dan latihan.
Latihan adalah kunci untuk menguasai ketrampilan apapun termasuk
ketrampilan lunak (softskills) yang berhubungan dengan manajemen diri.
Kita dapat berhubungan lebih baik dengan orang lain, ataupun
mengendalikan emosi, berkomunikasi, menjadi seorang pemimpin, atau
apapun ketrampilan yang kita perlukan untuk mencapai kesuksesan, berita
baiknya adalah kita bisa berlatih dan berlatih untuk menguasainya.
Pikiran kita itu seperti halnya otot tubuh kita, yang akan menjadi
semakin kuat dan mampu melakukan apapun jika sering digunakan. Dengan
berlatih, kita dapat belajar untuk membentuk kebiasaan apapun atau
mengubah perilaku apapun yang kita pandang perlu untuk mencapai
sasaran-sasaran yang kita inginkan dalam hidup ini. Paling tidak ada
tiga hal yang perlu kita perhatikan dalam mengembangkan kebiasaan baru,
yaitu: decision (keputusan), discipline (kedisiplinan), dan
determination (tekad dan kegigihan) . Dalam bahasa Jawa ada istilah yang
sama dengan itu yaitu: niat ingsun, tekad lan patrap.
Pertama, ambil keputusan untuk mengembangkan kebiasaan dalam
menyelesaikan setiap tugas atau mencapai sasaran dengan tuntas. Kedua,
kita harus berdisiplin untuk tetap berlatih dan berlatih menerapkan
prinsip-prinsip keberhasilan atau teknik-teknik yang berhubungan dengan
ketrampilan lunak (softskills) yang kita pelajari sampai kita
sungguh-sungguh menguasainya. Akhirnya, kita harus memiliki tekad dan
kegigihan untuk melakukan semuanya itu sampai kebiasaan itu terbentuk
dan tertanam dalam bawah sadar kita menjadi kepribadian kita.
Dalam penerapannya
untuk menyelesaikan tugas atau mencapai sasaran tertentu dalam hidup
ini, kita perlu memiliki ketrampilan dalam menetapkan apakah frog atau
katak dalam kehidupan kita. Ingat bahwa frog adalah gambaran tentang
hal-hal atau sasaran yang besar dan penting dalam hidup kita. Sebelum
kita memiliki kemampuan untuk menetapkan frog kita dan memakannya, maka
kita harus dapat menentukan atau memutuskan dengan tepat apa saja yang
ingin kita capai dalam setiap bidang kehidupan kita. Kejernihan
(clarity) atau kejelasan tujuan hidup kita atau sasaran yang kita
inginkan dalam hidup ini merupakan konsep yang paling penting dalam
meningkatkan produktivitas dan efektivitas pribadi seseorang.
Satu-satunya alasan mengapa sebagian orang menyelesaikan pekerjaan
dengan lebih cepat dan lebih baik adalah karena mereka sangat jelas
dengan sasaran dan tujuan hidupnya dan tidak pernah melenceng dari
sasaran tersebut.
Semakin jelas tujuan
atau sasaran yang kita inginkan maupun langkah-langkah yang akan kita
lakukan untuk mencapainya, semakin mudah bagi kita untuk mengatasi
godaan untuk menunda, maupun untuk segera melaksanakannya serta
menyelesaikannya dengan segera. Karena alasan utama timbulnya penundaan
maupun kurangnya motivasi adalah ketidakjelasan, kebingungan, dan
ketidakpastian tentang apa yang kita inginkan atau sasaran apa yang
hendak kita capai. Oleh karenanya kita harus menghindari hal ini dengan
senantiasa memperjelas dan menetapkan dengan pasti sasaran yang ingin
kita capai dalam hidup ini.
Berikut ada tujuh
langkah mudah untuk menetapkan dan mencapai sasaran yang kita inginkan
dalam kehidupan kita.
Langkah 1: Putuskan
apa yang sungguh-sungguh anda inginkan. Kita harus dapat menetapkan
sasaran yang memang sungguh-sungguh kita inginkan. Atau kita bisa
menetapkan sasaran ini berdasarkan tugas atau tanggung jawab yang
dibebankan kepada kita di perusahaan atau tempat kita bekerja. Kita
harus dapat menetapkan sasaran tersebut dengan jelas dan dapat kita
pahami berdasarkan apa yang diharapkan oleh organisasi tempat kita
bekerja atau berdasarkan impian-impian pribadi kita sesuai prioritas
yang kita tetapkan. Dalam menetapkan sasaran ini kita bisa berdiskusi
dengan pasangan kita jika hal tersebut menyangkut sasaran dalam bidang
kehidupan keluarga, atau dengan atasan kita jika menyangkut sasaran
dalam pekerjaan kita, atau bahkan dengan konsultan atau akuntan kita
jika menyangkut keuangan pribadi. Ada sebuah pepatah yang mengatakan:
One of the very worst uses of time is to do something very well that
need not to be done at all. Artinya bahwa penggunaan waktu yang paling
buruk adalah melakukan sesuatu dengan sangat baik padahal hal tersebut
tidak perlu dilakukan sama sekali. Sedangkan menurut Stephen Covey:
Before you begin scrambling up the ladder of success, make sure it is
leaning against the right building. -- Sebelum anda mulai mendaki tangga
kesuksesan, anda harus yakin bahwa tangga tersebut bersandar pada tembok
yang tepat.
Langkah 2: Tulis
keinginan atau sasaran anda tersebut. Ketika kita menuliskan sasaran
kita, berarti kita membuat sasaran tersebut menjadi lebih jelas dan
terumuskan dalam bentuk yang terukur. Kita dapat merasakan bahwa sasaran
tersebut nyata dan dapat dicapai. Sebaliknya sasaran yang masih belum
tertulis adalah semata-mata angan-angan atau harapan kosong. Tidak ada
energinya sama sekali. Sasaran yang tertulis atau terlebih lagi ada
foto-foto atau gambar yang mewakilinya mempunyai kekuatan yang luar
biasa dalam mempengaruhi bawah sadar kita, sehingga kita memiliki energi
dan kekuatan untuk mewujudkannnya.
Langkah 3: Tetapkan batas waktu pencapaian sasaran tersebut. Sasaran
atau ketetapan tanpa batas waktu (deadline) tidak memiliki urgensi sama
sekali. Kita tidak terdorong atau merasa terdesak untuk menyelesaikan
atau mencapainya. Seperti tidak ada awal dan tidak ada akhir sehingga
tidak ada energi sama sekali untuk memulai apalagi menyelesaikan atau
mencapainya. Dengan tidak adanya batas waktu yang ditetapkan maka secara
alamiah kita akan terdorong untuk selalu menunda melakukan atau mulai
melaksanakan kegiatan untuk mencapai sasaran tersebut. Sebaliknya dengan
adanya batas waktu maka kita menjadi bersemangat seakan kita berlomba
dengan diri kita untuk segera menyelesaikannya jauh sebelum batas waktu
itu tercapai. Sehingga pada gilirannya kita justru mencapai lebih banyak
hal disamping sasaran kita sendiri. Namun harus diingat bahwa menetapkan
batas waktu harus realistis. Karena sesungguhnya tidak ada sasaran yang
tidak realistis, yang ada hanyalah sasaran dengan batas waktu yang tidak
realistis. Kita bisa menetapkan sasaran sebesar apapun, tetapi kuncinya
adalah kemampuan kita dalam menetapkan batas waktu yang tepat untuk
mencapainya, sehingga kita tidak merasa frustrasi ketika batas waktu itu
terlampaui. Semakin sering kita melampaui batas waktu kita, maka semakin
lemah energi kita untuk menyelesaikan setiap sasaran yang telah kita
tetapkan. Jadi penting sekali kita untuk dapta menetapkan batas waktu
(deadline) sasaran kita dengan tepat.
Langkah 4: Buatlah
daftar semua hal yang harus anda lakukan untuk mencapai sasaran anda.
Setiap ada gagasan tentang apa yang harus kita lakukan dalam mencapai
sasaran harus kita tulis dan kita daftar. Isikan daftar ini sampai kita
merasa cukup lengkap untuk mulai melaksanakan kegiatan dalam mencapai
sasaran kita. Sebuah daftar kegiatan memberi kita gambaran tentang
besarnya tugas atau sasaran yang hendak kita capai atau kita lakukan
tersebut. Daftar tersebut memberi kita jalur untuk berlari (a track to
run on) sehingga kita tidak melenceng dari sasaran kita dan dapat
meningkatkan peluang bahwa kita akan mencapai sasaran yang kita tetapkan
pada waktunya.
Langkah 5: Susunlah
daftar tersebut ke dalam sebuah perencanaan kegiatan. Daftar kegiatan
tersebut selanjutnya kita susun berdasarkan urutan kepentingan
(prioritas) dan urutan berdasarkan waktunya (urgensinya). Luangkan waktu
sejenak untuk memikirkan kegiatan mana yang harus dilakukan terlebih
dulu dan mana yang bisa dilakukan kemudian. Lebih bagus lagi jika kita
bisa membuat bagan alir kegiatan mana yang didahulukan dan mana yang
terakhir dalam bentuk kotak atau lingkaran berwarna karena akan
mempermudah kita mengingat dan memahaminya. Sasaran besar akan menjadi
lebih mudah dicapai ketika kita dapat membaginya dalam tahapan kegiatan
yang spesifik.
Langkah 6: Laksanakan
segera rencana anda tersebut. Hal yang terpenting dalam perencanaan
adalah melaksanakan dengan segera rencana tersebut. Lakukan sesuatu dan
lakukan apa saja yang diperlukan untuk mencapai sasaran kita berdasarkan
rencana aksi yang telah kita buat. Ingatlah bahwa perjalanan satu mil
selalu dimulai dengan langkah yang pertama. A mile journey begins with
the first step. Tidak ada hal-hal besar di dunia ini yang tidak diawali
dengan langkah pertama. Sebuah rencana biasa yang dilakukan dengan
sungguh-sungguh jauh lebih baik daripada rencana yang luar biasa tetapi
tidak dilaksanakan dengan baik. Bagi kita untuk mencapai kesuksesan,
tindakan adalah segala-galanya.
Langkah 7: Bertekadlah untuk melakukan sesuatu setiap harinya yang dapat
mendorong pencapaian sasaran anda. Buatlah aktivitas yang telah kita
susun menjadi jadwal mingguan dan jadwal harian. Baca buku dan
tingkatkan pengetahuan kita tentang hal-hal yang berhubungan dengan
pencapaian sasaran kita. Teleponlah langganan atau prospek anda, ingat
kesuksesan kadang-kadang jaraknya hanya sebatas mengangkat telepon kita.
Your success is only a phone away. Mulai melakukan latihan fisik jika
anda ingin menurunkan berat badan, dan kurangi makanan yang mengandung
lemak. Jangan pernah terlewat satu haripun tanpa melakukan sesuatu yang
dapat membawa kita mencapai impian dan sasaran kita. Terus maju dan
belajar. Lakukan sesuatu dan temui seseorang. Sekali kita mulai bergerak
dan terus bergerak, kita seakan tidak bisa lagi berhenti sebelum sasaran
kita tercapai.
#
Kembali Ke atas | Download Materi |
Halaman Download #

|