Catatan Kaki

         :catatan manusia

 

 

 

 

 

 

Catatan Kaki

adalah goresan yang muncul atas berbagai peristiwa keseharian dan tanggapanku tentang hidup. CK tak bermaksud berargumen, ia hadir sebagai sebuah permenungan.

Edisi sekarang:
  * Perang (2)
  * Running Out of The Time
  * Imagine
  * Trinitas
  * Baghdad
  * Sungai
  * Dayeuhkolot
  * Kebajikan
Back to:
  Home
  Aku
  My Sketsa
  Tekno file
      Solidaritas untuk Irak!

          Perang (1)

Mahabharata, mulai detik ini, barangkali bukan sekedar mitos. Kurusetra dan kisah tentang pembunuhan, pembantaian, dendam dan kepentingan, sekarang dan entah sampai kapan, menjelma dalam bentuknya yang lain namun dalam satu konteks: perang. Tidak ada Pendawa di satu pihak, pun kurawa di lain pihak. Dan hampir tidak memungkinkan untuk melakukan justifikasi obyektif mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah. Masing – masing percaya dirinyalah yang benar. Barangkali selalu begitu, di dalam Mahabharata Kurawa yakin mereka tak harus bertanggung atas kemalangan yang terjadi pada saudaranya, Pendawa, meski sebenarnya mereka benar-benar mempunyai andil besar di dalamnya. Sedangkan Pendawa merasa mereka hanyalah korban, dan berhak menuntut balas. Meminta keadilan.

Akhirnya Pandawa menang. Artinya   kebenaran (mungkin) telah berhasil ditegakkan. Tetapi perang tetaplah perang: ada perampasan hak hidup, nafsu menguasai dan penumpahan darah yang sebenarnya tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Tuhan membenci perang namun manusia tak pernah mau berhenti. Ironisnya lagi, banyak orang besar terlahir dari reputasinya sebagai pengobar perang atau seorang dengan latar belakang perang, dari Alexander  the Great, Genghis Khan, hingga Eissinhower. Dari sebelum kelahiran Isa sampai ribuan tahun setelahnya manusia kelihatannya tak berniat mengakhiri sejarah hitam ini. Kita selalu saja menemukan alasan dan alasan untuk terus mengayunkan pedang. Memuntahkan peluru dan ribuan bom. Kita tak peduli bahwa dibalik itu ada derita, air mata dan darah mengalir menganak sungai.

Seperti hari ini, sang waktu kembali bersaksi. Tivi, radio, koran dan cybermedia mengetuk pintu – pintu mengantarkan berita duka, gambar – gambar mengerikan, bunyi ledakan dan potret sebuah padang. Bukan padang Kurusetra meski penampakannya tak kan jauh berbeda. Sebuah padang pasir nun di sebuah negeri yang diberi nama Irak. Negeri kaya minyak, kaya kisah dan tokoh: Syahrazad, AbuNawas, Hallaj, Al-Farabi. Saddam Husein! Negeri yang kebanyakan orang mendengarnya penuh kagum, benci, iba dan marah bercampur aduk seperti jus kombinasi. Negeri yang diambil semena – mena kedaulatannya untuk memilih dan menghirup aroma kebebasan. Irak adalah Pandawa karena mereka cuma korban walaupun kebenaran belum tentu di tangan. Tetapi Amerika and his ganks  tidak secara otomatis menjadi Kurawa. Di saat yang haq menjadi nisbi karena ego, aroganisme serta kepongahan terkadang akal sehat pun tak mampu mendefinisikan kebenaran secara adil. Akibatnya justifikasi lebih didasarkan atas kepentingan. Keberpihakan dilandasi untung rugi. Indonesia tak terdengar suaranya, OKI terpasung, PBB membisu sebab takut kepentingannya terganggu, ruginya lebih gede dibanding untungnya. Toh juga suara tak mampu menghentikan semuanya. Moncong tank telah diarahkan, pesawat disiagakan, kapal perang melempar sauh menunggu terompet dibunyikan. Perang tak bisa lagi dihindarkan.  Dan di padang luas itu, di teluk itu mereka saling berhadapan: satu lawan entah.

Lalu hari ini dimana Tuhan ketika manusia semakin gamang berpihak? Pada Irak atau Amerika. Yang pasti Ia akan membela siapa yang mencintaiNya meski  pembelaan Ilahi belum pasti diujudkan lewat kemenangan. Menang kalah ekivalen nilainya, ekivalen artinya karena sama – sama berpijak di atas nyawa – nyawa yang terbuang, kepedihan, luka dan kemuraman. Jika Amerika menang  mereka juga kalah sebab telah menggadaikan hakikat kemanusian dengan hidup banyak orang. Bila Irak menang tidak lalu Tuhan bersamanya. Tuhan lebih suka di dekat pencinta kedamaian. Tuhan di hati para demonstran anti perang, di jiwa orang – orang yang memenuhi gereja, masjid, sinagog, kuil untuk berdoa dan tak berhenti berharap bagi perdamaian. Saya yakin Tuhan jauh dari Saddam, dari Blair, Howard apalagi Bush. Tuhan mengiringi para pengungsi, anak – anak dan wanita yang berjalan bermil-mil jauhnya untuk menghargai anugrah Tuhan terbesar dalam dirinya: hidup. Meski musti kelaparan, kedinginan, kesakitan dan menahan kesedihan teramat panjang. Tuhan barangkali tengah menjauhi kita di sini, yang diam dan tercenung di depan Tivi. Berlari dari rakyat Indonesia, Arab, Australia, Inggris, terlebih Amerika yang tengah terlelap dengan mimpi berenang di lautan minyak. Mabuk oleh bir dollar dan tarian striptis B-52, Apache, Nimitz, M-16, rudal patriot dengan igauan ngacau tentang senjata biologi, senjata kimia padahal yang benar mungkin kebutuhan biologi,untuk memenuhi perut mereka. Mengisi pundi – pundi devisa yang lama devisit. Hutang pada PBB yang tak juga lunas. Hutang pada kemanusiaan, pada demokrasi, pada hak asasi. Pada nurani.

Untuk kesekian kali kejahatan manusia terpampang di depan mata. Oleh Amerika cs. Oleh Irak. Kapan berakhir kita tak kan pernah tahu.

Sultan Saladin sebelum wafat berpesan pada putranya “ Anakku..” ucapnya pada Az Zahir “Jangan tumpahkan darah,  sebab darah yang terpercik tak akan tertidur”

Ketika itu perang salib tengah berkobar, pembunuhan atas nama Tuhan berganti dilakukan kedua kubu seolah dengan menyebut Tuhan pembantaian dapat dihalalkan. Saladin menyadari kekeliruan itu dan mencoba berseru, menawarkan simpati dan persahabatan pada pemimpin pasukan salib kala itu, King Richard. Ia kirimkan dokter, buah dan obat sewaktu rivalnya jatuh sakit. Ia mengkomunikasikan bahasa damai. Secara halus ia menawarkan gencatan senjata.

Sayangnya itu tinggal sejarah. Kita tak bersedia belajar atasnya. Memang, tak ada lagi perang salib, tetapi yang terjadi di teluk lebih tragis. Lebih memalukan: demi minyak, ego, hegemoni dan prasangka.

Sebuah TV swasta beberapa hari lalu menampilkan tanggapan masyarakat mengenai perang Irak. Diantara komentar bernada kecaman, terdapat satu yang nadanya mengingatkan saya pada isi pidato Bush yang senatiasa diulang – ulang, tentang pelucutan senjata, kepentingan Irak dan dunia serta kelangsungan demokrasi –yang justru telah ditelanjanginya sendiri! Bunyinya: penyerangan terhadap Irak adalah eksekusi terlambat. Saddam Hussein tidak layak memimpin negara berdaulat seperti Irak. Ini satu bukti kecil masih saja ada masyarakat yang percaya perang mampu mengatasi masalah. Percaya bilamana negara lain –AS misalnya- berhak menentukan pemimpin, masa depan negara lainnya. Percaya bila senjata menyelesaikan segalanya.

Seperti 1945 ketika bom atom dijatuhkan ke Hiroshima. Ke Nagasaki.

Kota hancur luluh. Nyawa beterbangan. Air mata Fuji mencair, menjelma gletser kegetiran yang hingga detik ini saya tak tahu apakah telah terhapuskan. Dan perang dunia II benarlah usai. Jepang menandatangani perjanjian di Kapal Perang Amerika, mengaku kalah. Perang 6 tahun memang selesai. Namun haruskah selalu begitu? Menunggu lebih banyak lagi rudal dan peluru dijatuhkan ke Baghdad. Di Irak. Menunggu gedung – gedung lebur, jalan – jalan terbelah. Menunggu ratusan bahkan ribuan jiwa lagi menghilang? Kita pasti tahu jawabnya tidak. Cuma sialnya Amerika lebih menyukai pemecahan ini. Dan kita hanyalah figuran, malah sekedar penonton yang bisanya sebatas bengong atau berkomentar tanpa didengar. Kita berteriak. Menangis bergulung. Meraung. Membakar bendera dan boneka. Melempar tomatpun belum tentu diacuhkan. Ge-er jika merasa Amerika bakalan membuka kupingnya. Lautan demonstrasi, protes, hanya berfungsi sebagai wacana penyeimbang. Sentimen publik. Kadang berhasil tapi kali lain tak bermakna apa – apa karena saat ini bukan masyarakat luas yang mengambil keputusan. Ada sebuah kekuatan yang nyaris mustahil dirobohkan: kesewenangan.

Jadi apa yang musti diperbuat?

Silakan jawab sendiri. Bagi yang yakin demonstrasi, teruslah berdemo. Yang lain silakan berdoa. Pergi ke mesjid, gereja atau apa saja. Yang mau berjihad berangkatlah dengan penuh ketetapan hati. Banyak hal bisa dilaksanakan biarpun perang smakin sengit berkecamuk. Manusia selayaknyalah percaya bahwa Tuhan senantiasa punya kejutan. Serupa keajaiban.

Tetaplah istiqomah. Hidup jalan terus dan biarkan begitu. Perang pasti berhenti. Berharaplah esok sewaktu terbangun di pagi hari dan sambil menghirup segelas kopi kita melihat wajah – wajah ceria di Tivi, di koran. Orang – orang turun ke jalan merayakan kemenangan. Bukan kemenangan Irak. Dan semoga bukan kemenangan Amerika tetapi kemenangan perdamaian. Kemenangan umat manusia melawan perang. Kemenangan  nurani atas gelap hati. (hari perang meletus)

 
 
 
1