Perang (2)
Terus terang sebelumnya saya berdoa agar perang tidak segera
usai karena takut itu berarti
kemenangan di pihak sekutu. Takut berbagai skenario yang diungkapkan banyak orang tentang penyerangan
ini benar – benar terjadi, saya tak rela kalau
Irak musti kalah. Biarlah perang lebih
lama sehingga mata dunia terbuka bahwa
perang adalah satu kesalahan. Bahwa perang sentiasa membawa derita. Bahwa Sekutu adalah penjahat
sesungguhnya. Saya beranggapan
semakin lama perang berjalan semakin besar simpati bagi
rakyat Irak. Kian banyak orang mendukung
perjuangan mereka.
Tapi ketika di Tivi, saya
melihat pengungsi berduyun – duyun meninggalkan
Mari berharap agar perang berhenti. Biar tak banyak lagi air mata. Biar tiada
lagi perempuan berduka. Sebab perang, pertikaian adalah egoisme laki – laki. Perang adalah
ajang memamerkan kekuatan dan kepongahan maskulinisme. Sedang perempuan berada di pihak yang sentiasa
harus menerima kenyataan pahit: kehilangan suami, kehilangan anak –anaknya dan barangkali kehilangan teman ngrumpi sehari – hari. Mereka jauh dari satu benang merah
pembuat keputusan. Saya yakin istri Bush,
istri Saddam, ibu, tante dan saudarinya di sanubari mereka tidak merelakan
perang terjadi. Saya yakin mereka turut
merasakan luka yang digoreskan pada rakyat Irak, pada serdadu yang
mati dan tercabiknya kemanusiaan.
Kemarin, di TiVi, ditayangkan ribuan bahkan ratusan
ribu demonstran memenuhi jalan. Semua berteriak, mengecam, mengumpat. Melampiaskan rasa benci kepada Amerika.
Setiap orang berlomba – lomba menyemai badai di dadanya. Membiarkan laut berdebur. Mulut – mulut menyembur. Lalu diantara
mereka terlihat ibu-ibu berkerudung, mbak-mbak menitikkan air mata. Gerimis.
Begitulah perempuan, mereka menunjukkan hatinya dengan cara yang lain. Dengan
metoda yang seringkali tidak dimengerti kebanyakan orang. Terutama laki-laki: menangis.
Metoda yang ampuh. Yang meruntuhkan
jiwa Agamemnon dan Pericles.
Dan
tangisan itu, Tuhan di atas sana pasti juga mendengarnya.
Saat itu
saya berharap Tuhan tak sekedar mendengar.
Saya berdoa Tuhan menunjukkan mukjizatnya. Lewat air mata, wajah – wajah
sembab dan kesedihan ibu – ibu kita. Saya membayangkan Tuhan mengirimkan malaikat hingga kemudian, dengan alasan apa saja saya tak peduli,
perang berakhir. Berhenti.
Tetapi mungkin Tuhan masih
ingin menguji kita. Perang semakin brutal berkobar
dan bisa jadi memakan waktu
kian panjang.
Ya, tubuh makhluk yang dari jaman ke
jaman selalu berada di bawah
bayang kepedihan. Merasakan
kegetiran orang lain. Menanggung sakit orang lain.
Untuk itu, demi ibu kita,
saudari dan bibi kita mari berdoa: perkenan Tuhan manarik garis tepi
tragedi hari ini. Lalu
menghapus perang dari kamus bahasa manusia. Dari kamus politik lelaki.