Trinitas
Kehidupan setelah mati memang
misterius tetapi ada satu hal
yang lebih misterius lagi, bahkan bagi para pengikut ajarannya sekalipun: trinitas. Yesus, roh kudus dan Illah.
Integrasi keilahian yang dari masa ke masa mendatangkan tanya tak pernah henti.
Trinitas membuat Yesus tak sekedar berperan
sebagai messsiah atau penyampai pesan tetapi Yesus adalah
pesan itu sendiri. Ia adalah wahyu.
Salah seorang orientalis dan pendeta kristen Barat –saya lupa namanya- pernah mensejajarkan terminologi Yesus plus trinitasnya dengan Al Quran dalam kesamaan
posisi.
Konsep trinitas sepintas hampir sama dengan tiga dewa
utama hindu yaitu Krisna, Syiwa
dan Indra tapi lain sama sekali. Dalam hindu ada
dikotomi yang sangat jelas antara ketiganya. Ada pembagian fungsi dan peran masing – masing. Bahkan kecenderungan pemujaan pada salah
satu di antaranya memperlihatkan aliran hindu yang berbeda.
Sementara trinitas adalah integrasi.
Kesatuan cahaya ilahiah dalam wujud
Yesus.
Di
kampus saya pernah mengikuti ceramah mengenai kristologi dan perbandingan agama. Namanya juga perbandingan,
isinya pun pada akhirnya tak
lebih dari mencari celah kelemahan, pun bab trinitas. Objektivitas memang tetap ada, hanya
saja ia harus takluk di depan egoisme keber-agamaan.
Hasilnya: waktu itu saya pulang dengan seribu macam
pertanyaan, prasangka dan olok – olok yang
tak habis – habisnya.
Hingga pada
satu ketika, sangking penasarannya saya hampir keprucut bertanya pada seorang
teman yang kebetulan
protestan: apa arti
trinitas buat dia. Kekurangajaran ini untung urung saya lakukan. Sesungguhnya saya tidak bermaksud apapun namun saya takut diartikan tidak – tidak. Bukankah orang Indonesia paling pintar dalam hal berpraduga dan berpikiran negatif terhadap sesuatu masalah?
Maka pada
akhirnya saya lebih senang menyimpannya sebagai sebuah wacana yang terbang
liar di benak saya. Sebuah
dogma adalah sepenggal keyakinan. Trinitas ada baiknya tidak dipandang
dari sudut pandang konten tok, lebih
parah lagi jika dipertanyakan eksistensinya. Kalau sesuatu itu ada
ia harus mengada. Sejatining ana iku ana mengikuti Sartre bisa jadi
tanya ini tak pernah habis.
Bukankah seringkali jawaban tidak harus
menjelaskan terminologi, dalam hal ini
kita perlu mempertimbangkan konteks dan faktor lainnya juga juga.
Trinitas
–dalam subjektivitas mata
saya- adalah sebuah doktrin pengagungan seperti kekaguman kita pada Muhammad. Ia berangkat dari kesucian hati Isa. Cintanya kepada umatnya dan harapan yang tak pernah
lepas disandarkan dipundaknya.
Wujud penderitaan
dan perjalanan menuju keilahian yang rumit, gelap dan
mendatangkan teka – teki. Mengutip John Lennon:
.”God is a concept by which we measure our pain” itulah
Yesus. Kecintaannya dia wujudkan dalam rasa sakit
di penyaliban. Tak perlu mempermasalahkan
trinitas, di sini pengorbanan Yesus cukup memperlihatkan
bahwa ada sifat ilahiah dalam
dirinya yang melebihi kebanyakan orang lain. Mukjizatnya yang sedemikian mengagumkan sehingga wajar bila orang
mengatakan bahwa ia adalah
Tuhan meski akan sangat membingungkan
sekali: kapan ia berperan sebagai
Tuhan dan kapan Yesus sebagai
anak manusia. Konsep trinitas pula disebabkan perkataan Yesus dalam berbagai
do’a dan kesempatan ketika ia menyebut
Tuhan dengan Bapa seolah ia
anak-Nya –ingat sejarah kelahiran Yesus yang teramat mengagumkan? Sejak saat itu banyak orang percaya,
terlebih murid – muridnya bahwa Yesus adalah part of the concept of God.
Tetapi sekali lagi, trinitas sekedar masalah kepercayaan di kedalaman hati, seperti kaum muslim percaya Yesus hanyalah manusia biasa seperti
Muhammad. Seperti kita.
Kesimpulannya?
Biarlah tak bersimpul. Biarlah kembali ke lubuk
jiwa masing – masing. Agama, keyakinan
tidaklah untuk dipertanyakan dan diperdebatkan. Ada yang lebih daripada
wacana, yaitu respek atau menghormati.
Sudah cukup lama agama membedakan manusia dalam kodrat
sosialnya. Terlalu banyak
kerusuhan karena miskonsepsi dan pengertian yang dangkal. Perang salib, hindu-muslim, yahudi-kristen dan lain-lain.
Akhirnya: lakum diinukum waliyaddiin. Bagiku agamaku, bagimu agamamu. Itu saja. Titik.