Imagine

 

Malam itu, saya dibuat tersentak oleh satu lirik lagu John Lennon yang mengalun di radio: imagine there’s no country. What’s an imagination! Meski baris yang lain saya tak bisa lagi mengikutinyamaklum bahasa inggris saya dangkal- satu larik itu cukup membuat saya menunda keinginan untuk memejamkan mata.

 

Bayangkanlah bila nggak ada negara? Mungkinkah? Bagaimana entar jadinya? Pertanyaanpertanyaan itu seketika mengacakacak otak saya, tandanya untuk kali keentah saya musti mengabaikan jam tidur dan membiarkan tubuh bolakbalik dari satu sisi ranjang ke sisi yang lain. Sungguh, tanya ini terlalu sayang tuk saya lewatkan begitu saja: kalo tak ada Indonesia?

 

Ah, pasti nggak mungkin! Jawaban itu yang pertama kali muncul di kepala saya. Kodrat manusia adalah berkelompok dan melangsungan hidup bersama dalam sebuah komunitas. Maka ketika sesorang berusaha melepas kodrat itu, hanya ada satu kemungkinan yang menunggunya: binasa cepat atau lambat, dalam arti mati atau binasa secara psikologis dan sosial.

 

Aristoteles memiliki perumpaan yang sempurna menggambarkan manusia. Zoon politicon. Makhluk berpolitik. Karena  politik diciptakan oleh adanya keinginan untuk mencapai sesuatu yang dianggap baik. Dan kebaikan, membutuhkan sebuah definisi kolektif. Oleh sebab itu konsekuensinya interaksi harus dilakukan untuk mendefinisikan dan mewujudkan kebaikan itu. Aristoteles mengakomosikan bentuk interaksi tersebut lewat sebuah polis. Bentuk awal negara. Pun  paling nggak  mereka menciptakan sebuah kehidupan bersama yang teratur dan tunduk pada sebuah kesepakatan: bentuk kehidupan ini apa namanya kalau bukan negara meski ndak harus dibayangkan sebagai organisasi negara yang sentiasa kita rasakan selama ini.

 

Dan lalu, bukankah Tuhan menciptakan kita bersuku dan berbangsa? Tingggal di satu wilayah tertentu di bawah seorang, entah itu kepala keluarga, kepala suku atau kafilah? Kemudian di luar sana ada juga kelompok lain yang tinggal sehingga pada akhirnya harus ada mekanisme ketertiban yang jelas diantara mereka, baik menyangkut wilayah, anggota kelompok dan berbagai persoalan kehidupan?

 

Negara, pada awalnya, berangkat dari upaya yang mulia tentang kebersamaan, kemakmuran dan keadilan. Tapi sialnya, negara juga menginspirasikan teramat banyak ide mengenai keserakahan, ketamakan dan kekuasaan. Genghis, Alexander, Darius Agung, dan Agamemnon adalah arsitek penyelewengan fungsi dan tujuan negara. Ambisi unifikasi dengan melakukan ekspansi ke bagian peradaban yang lain secara tidak sengaja telah merusak konsep mulia negara. Perang dunia 1, II, teluk adalah tragedi yang mengikuti jauh hari kemudian, beribu tahun setelahnya

 

Maka tak ada salahnya bila kita beranganangan seandainya nggak ada negara. Tak ada batas wilayah, tak ada raja dan bawahannya, tak ada presiden, korupsi, kolusi, birokrasi yang menyebalkan, tentara, dan perang! Semua hidup bersama saling berdampingan. Menerima yang diberikan Tuhan, menikmati bareng-bareng. Tak perlu visa, pasport berkunjung, tak ada batas komunikasi. Yang membatasi hanyalah kita sendiri.

 

So, mungkinkah?

 

Sebelum terlelap, saya sempat memikirkan alternatif jawaban lain yang ngaco: mungkin! Hanya saja waktu itu mungkin kita nggak lagi di bumi. Bener! Saat itu nggak ada lagi negara, pemerintah, presiden, rakyat. Yang ada manusia. Semuanya bersatu, berkumpul berduyun- duyun. Ada Pericles, Hulagu, Bush, Newton, Nabi dan lain-lainnya. Kita berkerumun. Di satu padang yang luas sejauh horizon. Mungkin jutaan, milyaran atau trilyunan.

 

Ya, cuma ada satu kesempatan menikmati kebersamaan di luar negara. Di padang mashar. Di surga atau neraka!

Tapi John Lennon lebih pintar dan buru-buru berkata lagi: imagine there’s no heaven. Imagine there’s no hell!

Pusing nggak loe!!!

 

Hosted by www.Geocities.ws

1