|
Mengembangkan Kebiasaan Membaca secara Fisik |
Karena membaca dimulai dengan proses fisik, yakni mengenali kata-kata pada lembar cetakan, maka menjadi sesuatu yang penting mengefisienkan aspek fisik dalam membaca dan dalam memelihara sesuatu yang menjadikan kita dapat memahami bacaan dengan lebih mudah dan lebih cepat. Dalam kenyataannya, miskinnya kebiasaan secara fisik menjadi alasan utama mengapa beberapa mahasiswa membaca lebih lambat dan lebih sedikit atau kurang memahami apa yang dibaca. Kurang baiknya kebiasaan secara fisik menyebabkannya membaca menjadi tugas yang sulit serta selanjutnya menumbuhkan rasa tidak suka pada bacaan yang semakin kuat. Beberapa saran untuk mengembangkan kebiasaan baca yang efektif secara fisik akan disajikan berikut.
Gunakan Pola Gerak-Pindah Mata Secara Efektif
Seperti akan dibicarakan lebih lanjut, pada saat membaca mata akan bergerak-pindah dan berhenti, gerak-pindah henti, dan bergerak dari kiri ke kanan menelusuri baris-baris bacaan. Ketika gerak mata berhenti, atau disebut fiksasi, mata menatap bagian kata atau mungkin kelompok kata. Lalu, mata kembali berpindah lebih lanjut ke kanan dan berhenti lagi.
Terkadang gerak-pindah mata kembali pada bagian yang telah lalu, padahal semestinya berpindah pada bagian teks selanjutnya. Gerak-pidah mata kembali ke belakang atau melakukan regresi, pada kata yang sesungguhnya sudah dibaca baik yang terletak pada baris yang sama atau pada baris-baris yang telah terlampaui. Meskipun saat-saat tertentu regresi diperlukan, sebagian pembaca melakukan dua atau tiga kali regresi per baris. Regresi yang demikian menjadikan seorang pembaca melihat sebuah kalimat dengan susunan yang ruwet dan tentu mengganggu atau menjadi penghalang pembaca dalam memahami makna kalimat.
Regresi sangat mungkin dihilangkan dengan cara memaksa mata untuk maju terus menelusuri baris bacaan. Jangan mundur meskipun ada prasa atau kalimat yang belum dimengerti. Camkan bahwa ide yang terdapat dalam sebuah kalimat memang tidak akan lengkap hingga kalimat itu berakhir. Karena itu, jika di tengah kalimat kita merasa kurang yakin dan merasa tidak dapat memahami maknanya, boleh jadi hal itu benar. Tapi kita tidak akan dapat memahami makna yang utuh kecuali setelah kita menyelesaikan kalimat itu. Paksa terus diri kita untuk membaca seluruh kalimat sebelum mengulang. Jika kita merasa kurang "mudeng" atau confus setelah menyelesaikan suatu kalimat, ulangi saja kalimat atau teks itu.
Gunakan Sudut Pandang Secara Tepat
Umumnya sebagian pembaca setelah sekian lama membaca secara fisik akan merasa lelah. Meskipun hal itu sebagian karena konsentrasi yang tinggi, tapi boleh jadi juga sebagai akibat sudut pandang baca yang tidak tepat. Sebagian pembaca, biasa membaca dengan cara membentangkan bacaan mendatar di atas meja atau di kursi. Meskipun sesaat cara itu tampak nyaman, tapi sesungguhnya hal itu akan membuat mata tegang sebagai akibat yang diciptakan sudut pandang baca.
Idealnya, saat membaca sudut pandang yang diformat antara pangkal pandang kita dengan permukaan halaman cetakan adalah 90o. Jika buku membentang mendatar dan kita duduk tegak lurus, sudut pandang kemungkinan kurang dari 90o. Jika sudut pandang kurang dari 90o, pantulan, silauan, dan distorsi dari barang cetakan (teks) akan membuat mata tegang. Untuk menghindari mata tegang, cobalah pegang buku kita, hingga kemiringannya ramping dan membuat sudut pandang terasa nyaman.
Cegah Aktivitas Fisik yang Berlawanan
Mungkin kita menyadari bahwa beberapa aktivitas fisik saling pengaruh antara yang satu dengan yang lain, khususnya jika terpola dan ritmis. Coba kita mengangguk-anggukkan kepala sementara itu kita juga mengelus-elus perut. Masing-masing aktivitas itu akan terasa gampang jika dilakukan sendiri-sendiri, tapi jika dilakukan sekaligus atau bersamaan itu akan membingungkan.
Hal seperti itu bisa terjadi dengan membaca jika dilakukan bersamaan dengan melakukan aktivitas fisik yang lain. Aktivitas-aktivitas seperti mengunyah-ngunyah permen karet atau menghentak-hentakkan kaki secara ritmis mengikuti irama musik dapat mempengaruhi ritme gerak-pindah mata pada baris bacaan. Bahkan mendengarkan tape seseorang sebagai latar juga dapat mengganggu. Jika kita mengunyah permen karet sambil membaca, kita akan menemukan bahwa tempo membaca akan sama dengan tempo mengunyah permen, atau tempo kita mengunyah akan sama cepatnya dengan membaca.
Istirahatlah sejenak hingga yakin bahwa kegiatan kita atau sekeliling kita tidak mempengaruhi kegiatan membaca. Jika masih menemukan beberapa kegiatan atau latar suara yang mengganggu, stop membaca atau ubah waktu dan atau tempat kita membaca.
Cegah Pengadang Jalan Menuju Efisiensi Membaca
Terdapat sejumlah kebiasaan membaca yang tidak baik yang terbawa-bawa sejak kita pertama belajar membaca. Hal itu adalah (1) menggerakkan kepala saat membaca, (2) menggerak-gerakan bibir saat membaca, dan (3) menggunakan telunjuk atau benda lain pada baris bacaan. Masing-masing kebisaan ini dapat memperlambat dan mengurangi pemahaman.