Menggerakan Bibir

Gerakan bibir ketika membaca tak bersuara juga merupakan bawaan dari pengalaman membaca permulaan. Ketika kita pertama kali belajar membaca, apakah kita membaca secara lisan atau bersuara (nyaring) atau tak bersuara? Pada umumnya anak-anak diajari membaca permulaan secara lisan, dengan cara itu guru akan tahu apakah anak mengidentifikasi kata-kata dengan benar. Kemudian, di kelas dua atau tiga, guru akan mengakatan kepada murid supaya membaca tanpa suara. Pada tahap ini, yakni ketika melakukan perubahan dari biasa bersuara ke biasa tak bersuara, umumnya mereka menggerakan bibir. Sesungguhnya, ketika perubahan itu telah benar-benar sempurna, gerakan bibir harus dihilangkan. Untuk beberpa anak, bagaimanapun, kebiasaan itu masih melekat. Untuk orang dewasa, menggeraakan bibir secara ekstrim menyebabkan kecepatan membaca menjadi lambat. Rata-rata kecepatan berkata (mengucapkan kata dengan nyaring) orang dewasa adalah 125 KPM, padahal rata-rata kecepatan membaca dalam hati orang dewasa adalah 250-300 KPM. Kita melihat bahwa menggerakan bibir secara nyata memperlambat dan menurunkan kecepatan membaca -hampir setengahnya. Bagaimanapun, ada satu situasi yang menjadikan gerak bibir mungkin menjadi tepat. Ketika kita membaca sesuatu yang benar-benar sukar atau kompleks, kita melihat bahwa menggerakan bibir atau bahkan menyuarakan dengan nyaring saat membaca akan membantu kita memahami materi bacaan.

Anak-anak muda terkadang menghentikan kebiasaan menggerakan bibir dengan cara menyelipkan pinsil secara horizontal di antara bibir-bibir mereka saat membaca. Ketika bibir mereka bergerak, pensil akan bergoyang atau jatuh. Karena teknik itu tidak tepat benar untuk orang dewasa, kita perlu mencoba cara lain yang lebih canggih. Duduklah dalam posisi tertentu dengan tangan atau jari tangan menyentuh bibir. Jika bibir bergerak pada saat membaca, kita akan merasa gerakan bibir itu pada tangan dan jari kita.

Return to MAFdM

Hosted by www.Geocities.ws

1