KISAH - KISAH NABI |
1 . Nabi Adam A.S.
2. Nabi Idris A.S.
4. Nabi Hud A.S.
3. Nabi Nuh A.S.
|
Nabi Nuh A.S.
Nabi Nuh A.S. adalah keturunan kesepuluh dari Nabi Adam A.S. Dia diperintah oleh Tuhan untuk mengingatkan kaum kufur yang mengembangkan penyembahan patung serta berbuat kezaliman dan kekufuran. Berdasarkan penelitian arkeologi, wilayah tempat bertugas Nabi Nuh A.S. diperkirakan ada didaerah antara Sungai Efrat dan Tigris, seputar Arruabi kira-kira empat mil utara Eur, atau tepatnya di seputar Tel Aviv. Kala itu kaum Nabi Nuh A.S. menyembah banyak Tuhan, yang dalam istilah modern disebut Politheisme. Tuhan-tuhan mereka diwujudkan dalam bentuk beberapa berhala mulai dari yang bernama Wadd, Surwa, Yaguts, Ya'ud sampai Nasr (Lihat lagi Q.S. Nuh: 23-24). Selain berhala, mereka menyembah pulabintang gemintang sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka. Semua benda yang mereka sembah dalam istilah kekinian disebut para dewa-dewa (jika berkelamin pria) dan dewi-dewi (jika berkelamin wanita). Kepada umatnya yang menyembah apa saja, Nabi Nuh A.S. selalu berkata, "....Janganlah kalian menyembah apasaja selain Alaah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab kemalangan dengan cara yang menyedihkan." (Lihat Q.S. Huud: 25-26) kepada mereka malah sempat ditandaskan. " JIka ketetapan Allah telah datang, Maka tak bisa ditangguhkan." (Lihat Q.S. Nuh: 2-4). Namun hati mereka telah tertutup dan telinga mereka telah tersumbat. Mereka tak mau percaya kepada Nabi Nuh A.S., sebab 1) Nabi Nuh A.S adalah manusia biasa seperti mereka. Artinya mereka hanya mau percaya jika yang memperingatkan adalah malaikat-Nya, bukan sesama manusia. 2) Pengikut Nabi Nuh A.S. kebanyakan orang tak punya alias papa, sehingga menurut mereka orang-orang model itu gampang diperdaya. Posisi maasyarakat papa jelas dangat berbeda dengan mereka yang kaya apalagi bertahta mulia. 3) Nabi Nuh A.S. tak memiliki kelebihan apa-apa, paling-paling hanya seorang pendusta (Lihat Q.S. Huud: 27). Nabi Nuh A.S. menyebut mereka penuh kesesatan. Namun, masyarakat menyatakan balik bahwa Nuh yang justru berada pada kesesatan, dan perlu diperingatkan. mereka berkata, "Sesungguhnyakami memandang kamu berada dalam kesesatan nyata." (Lihat Q.S. Al A'raaf: 60-63) Dakwah dan perjuangan Nabi Nuh A.S. oleh masyarakat dilabeli dengan sikap kecurigaan bahwa Nabi Nuh A.S. punya kepentingan dengan berkedok pada kenabian. Menanggapi kecurigaan ini, Nabi Nuh A.S. menandaskan, "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku mempunyai bukti nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi Tuhanku, tapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksa kalian menerimanya, padahal kamu semua tidak suka." Beliau menambahkan, "Hai kaumku, akutak meminta harta benda (upah) bagi seruanku. Upahku cukuplah dari Allah semata." Argumentasi Nabi Nuh A.S. yang tak punya vested interest alias kepentingan keduniawian, akhirnya bisa diterima kaumnya, namun tetap dengan catatan, "agar para fakir miskin yang mengikutinya dijauhkan, karena mereka dipandang tak selevel dengan orang kaya dan bertahta. Mereka mau didakwahi, asal kaum hina-papa pergi menjauhi." Itulah kesombongan mereka, ketakaburan mereka, yang tentu saja ditolak oleh Nabi Nuh A.S. yang mulia. Bagi beliau, menghinakan kaum yang tak berpunya justru dapat mendatangkan murka Tuhannya (Lihat Q.S. Huud: 28-31). Nabi Nuh A.s. tak mau memenuhi permintaan tadi, dan umat pun tetap keras hati, bahkan menantang datangnya azab Ilahi, seperti telah disinggung-singgung oleh beliau sendri. "Hai Nuh. Kau telah menantang kami, memperpanjang bantah-membantah dengan kami. Jika kamu memang benar seorang nabi, datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami!" Astaghfirullah, itulah ucapan umat yang buta hati. Menanggapi tantangan kaumnya tadi, Nabi Nuh A.S. tetap sabar hati, sambil mengucapkan sebuah peringatan, "Allah sendiri yang akan mendatangkan azab kepada kalian, jika Dia menghendaki, sehingga kalian tak sekalipun dapat menghndari. Nasihatku sama sekali tak bermanfaat bagimu, sekiranya Allah memang hendak menyesatkanmu." (Lihat Q.S. Huud: 32-34) Itulah jawaban beliau yang penuh kesabaran, yang lamanya bertugas telah mencapai 950 tahunan (Lihat kembali Q.S. Al Ankabuut: 14), namun hanya sedikit sekali yang memberi sambutan (Lihat Q.S. Huud: 40). Kabarnya, sekitar 85 orang saja yang taat kepadanya, bahkan anak dan seorang istrinya ikut ingkar menentangnya. Nabi Nuh A.S. mencoba strategi alternatif untuk menyiarkan risalah Ilahi, yakni melalui adu argumentasi, debat ilmiah dengan nalar tinggi, memberi berbagai contoh dan fenomena alam semesta ini. Nuh menjelaskan eksistensi keesaan Tuhan lewat tetumbuhan, hewan-hewan, bahkan lewat bintang-gemintang, rembulan, dan awan. Nabi Nuh A.S. menyatakan, "Tidakkah kalian perhatikan baagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya serta menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian mengembalikanmu dalam tanah, lantas mengeluarkanmu pada hari kiamat dengan sebenar-benarnya. Allah juga menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan supaya kamu menjalani jalan yag luas di semesta alam." (Lihat lagi Q.S. Nuh: 15-20) Namun, umat Nabi Nuh A.S. tetap paa keingkaran, dengan menyebut beliau telah edan bin gendheng alias mengalami kegilaan (Perhatikan kembali Q.S. Al Qamar: 9). Mereka telah mengancam Nabi Nuh A.S. agar berhenti menyiarkan risalah Tuhan atau akan dikenai penyiksaan rajam (Lihat Q.S. Asy Syu'araa': 116). Nabi Nuh A.s. sama sekali tak gentar pada ancaman (perhatikan Q.S. Yunus: 71-72). Namun, sesabar-sabar manusia tentu ada batasnya. Kendati Nabi Nuh A.S. termasuk ulul azmi, satu dari lima utusan yang terkenal paling sabar dalam bersyiar, akhirnya toh menyerah pada ketentuan Ilahi. Akhirnya, Nabi Nuh A.S. menyerahkan pesoalan kepada Tuhan, sambil berdoa mengucapkan, "Wahai Tuhanku. Sungguh aku telah menyeru siang malam kepada kaumku, tapi mereka justru lari menjauhi kebenaran-Mu. Sungguh, setiap kali aku peringatkan mereak, agar mendapat ampunan dari Tuhannya, mereka menyumbatkan jemari mereka dalam telinga, menutukan baju ke muka, dan tetap ingkar fan takabur dengan kejayaannya. dan seterusnya.dan seterusnya." (Lihat Q.S. Nuh: 5-12) Itulah pengaduan Nabi Nuh A.S. kepada Tuhan. Nabi Nuh A.S. masih mengadu. "Wahai Tuhanku. Sungguh kaumku telah mendustakan aku, karenaitu adakanlah keputusan antara mereka dan aku. selamatkan aku dan orang-orang mukmin besertaku." (Lihat Q.S. Asy Syu'araa': 117-118) Itulah pengembalian mandat Nabi Nuh A.S. kepada Tuhan, agar Tuhan membuat keputusan' "Wahai Tuhanku. Jangan engkau biarkan seorang pun dari kaum kafir tinggal di bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tak akan melahirkan anak kecuali yang berbuat maksiat lagi ingkar kepada-Mu." (Lihat Q.S. Nuh: 26-27) Itulah permintaan Nabi Nuh A.S. kepada Tuhan, agar umat yang sesat ngunduh (mendapat) imbalan akibat keingkaran. Beliau sudah patah arang, putus harapan, bahkan telah sangat berang, akibat umatnya terus membangkang. Tuhan mendengarkan doa Nabi Nuh A.S. dan mengabulkan permintaan beliau. Kepada beliau maka diperintahkan oleh Allah agar membuat bahtera keselamatan (safinatun najah), karena kaum ingkar segera akan diberi hukuman, ditenggelamkan. Ketika Nabi Nuh A.S. membuat sampan raksasa alias bahtera, kaumnya kian gencar meledeknya, disebut beliau telah gila. Sebab, tiada hujan tiada angin, tiada kali tiada laut, Nabi Nuh A.S. membuat perahu di tengah kampung. Beliau diam dan sabar saja, namun sambil memberi ancaman bahwa Tuhan akan segera kirim hukuman (Lihat Q.S. Hud: 36-39). Setelah bahtrera tuntas diselesaikan, Nabi Nuh A.S. mengumpulkan kaum beriman, bermacam tumbuhan, dan berpasang-pasang binatang. Seorang anak dan istrinya yang kafir tak mau serta, meski beliau telah menawarinya (Lihat Q.S. Huud: 40-42). Akhirnya, tiba waktunya. Awan hitam bergulung-gulung datang. Langit menjadi pekat, mengguntur, lantas mencurahkan ujan lebat tak ketulungan (sangat lebt). Sementara tanah merekah, memancarkan air bah tak terbendungkan. Air segera meninggi, menggenangi semua lokasi (Lihat Q.S. Al Qamar: 10-14). Kala itu Nabi Nuh A.S. masih menawari lagi putra lagi putranya agar ikut besertanya. "Wahai anakku, naiklah ke perahu besarku, janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir kepada Tuhanku." Namun, sang putra tak memperdulikannya, tetap asyik dengan kekafirannya, bahkan dia yakin bila di atas gunung air tak mungkin menjangkaunya. Sang anak durhaka berkata kepada Nabi Nuh A.S., bapaknya, "Wahai bapakku, aku akan berlindung ke gunung, sehingga air bah tak akan menjangkau aku apalagi menggulung." (Lihat Q.S. Huud: 42-43). Mendengar jawaban itu, Nabi Nuh A.S. menjadi sedih dan pilu, lantas hanya Tuhan dia mengadu, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya Engkau itulah yang benar." Maksudnya, Nabi Nuh A.S. mohon kepada Tuhan agar anaknya diseamatkan. Namun, Tuhan segera menyatakan bahwaanak Nabi Nuh A.S. yang memilih kesesatan bukan lagi sebagai keluarga orang-orang beriman. Secara biologis dia anak beliau, tapi secara teologis dia bukan anak beliau lagi, melainkan musuh beliau dan musuh Ilahi. Mendengar jawaban Tuhan, Nabi Nuh A.S. menyadari kekeliruan, lantas mengajukan ampunan. Sementara kepada semua yang ingkar, hukum Tuhan tak ada yang mengalahkan, dan iradat (kehendak) Tuhan akhirnya menumpas mereaka yang telah melakukan kezaliman. Sedangkan, sekitar 120 orang beriman terselamatkan. Menurut riwayat, Nabi Nuh A.S. beserta keluarga dan pengikutnya terombang-ambing dalam bahtera enam bulan lamanya, mulai bulan Rajab sampai tanggl 10 Muharram alias Assyura. Setelah enam bulan, air disurutkan ditelan bumi, dan bahtera Nabi Nuh A.S. terdampar di atas Bukit Judiyyi (Lihat Q.S. Huud: 44) Kaum beriman yang terselamatkan akhirnya pindah ke Hadramaut namun ada pula yang ke Mekkah. Dari anak beliau yang bernama Syam akhirnya diturunkan bangsa Eropa, sedangkan anak beliau yang bernamaYafis diturunkan bangsa Mongol. Itulah cerita Nabi Nuh A.S. yang kabarnya menjadii rasul selama 950 tahun (Lihat Q.S. Al Ankabut: 14), namun hanya berpengikut 120 orang. Dapat dipahami jika Nabi Nuh A.S. merupakan seorang nabi yang sering menangis, mengingat sulit membelit untuk menyadarkan kaumnya, bahkan salau satu anak dan istrinya juga ikut durhaka, menentang risalahnya. ![]() |